Kadang saya bertanya pada diri sendiri, kenapa saya ini terlalu idealis, sementara kehidupan nyata di sekitar saya sering diperas menjadi satu soal saja: materi. Dunia berjalan dengan hitungan untung–rugi, nilai manusia diukur dari apa yang ia punya, bukan dari apa yang ia jaga. Lalu saya berdiri di tengah arus itu, dan merasa seperti orang yang salah zaman. Lalu muncul pertanyaan yang lebih sunyi: hati ini terbuat dari apa ? Kok tidak mau sedikit saja bergeser, sekadar menyesuaikan diri, agar tidak terus menjadi sasaran hinaan, tidak dicap aneh, tidak diprasangkai macam-macam. Jawabannya pelan-pelan saya temukan. Bukan karena saya paling benar. Bukan karena saya paling suci. Tapi karena hati ini—entah sejak kapan— tidak rela merusak tatanan, meski dengan alasan “sekadar bertahan hidup”. Ada harga yang harus dibayar oleh orang yang memilih lurus di jalan yang berbelok-belok. Harganya bukan kemiskinan semata, melainkan kesepian, salah paham, dan stigma. Namun tasawuf mengajarkan satu ha...