Kadang saya bertanya pada diri sendiri,
kenapa saya ini terlalu idealis, sementara kehidupan nyata di sekitar saya sering diperas menjadi satu soal saja: materi.
Dunia berjalan dengan hitungan untung–rugi,
nilai manusia diukur dari apa yang ia punya,
bukan dari apa yang ia jaga.
Lalu saya berdiri di tengah arus itu, dan merasa seperti orang yang salah zaman.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih sunyi:
hati ini terbuat dari apa ?
Kok tidak mau sedikit saja bergeser,
sekadar menyesuaikan diri, agar tidak terus menjadi sasaran hinaan, tidak dicap aneh, tidak diprasangkai macam-macam.
Jawabannya pelan-pelan saya temukan.
Bukan karena saya paling benar.
Bukan karena saya paling suci.
Tapi karena hati ini—entah sejak kapan—
tidak rela merusak tatanan, meski dengan alasan “sekadar bertahan hidup”.
Ada harga yang harus dibayar oleh orang yang memilih lurus di jalan yang berbelok-belok.
Harganya bukan kemiskinan semata, melainkan kesepian, salah paham, dan stigma.
Namun tasawuf mengajarkan satu hal penting: bukan semua yang lentur itu bijak,
dan bukan semua yang keras itu sombong.
Kadang keteguhan bukan ego, melainkan bentuk paling sunyi dari amanah.
Saya sadar, dunia tidak kejam, ia hanya tidak dirancang untuk orang-orang yang ingin jujur sepenuhnya.
Maka ketika saya dihina, barangkali itu bukan karena saya gagal menyesuaikan diri, tetapi karena saya menolak menipu diri sendiri.
Di titik ini saya belajar berdamai: tidak semua prasangka perlu dibersihkan, tidak semua cap buruk harus diluruskan.
Biarlah waktu dan Alloh yang membaca isi hati, sementara saya cukup menjaga agar hati ini tidak retak oleh dendam, dan tidak lunak oleh godaan.
Sebab hidup bukan soal seberapa cepat kita diterima, melainkan seberapa lama kita mampu bertahan sebagai diri sendiri
tanpa kehilangan Tuhan.
Dan jika idealisme ini adalah luka,
biarlah ia menjadi luka yang menjaga saya tetap manusia.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar