Langsung ke konten utama

Idealisme, Materi, dan Hati yang Enggan Bergeser

Kadang saya bertanya pada diri sendiri,

kenapa saya ini terlalu idealis, sementara kehidupan nyata di sekitar saya sering diperas menjadi satu soal saja: materi.

Dunia berjalan dengan hitungan untung–rugi,

nilai manusia diukur dari apa yang ia punya,

bukan dari apa yang ia jaga.

Lalu saya berdiri di tengah arus itu, dan merasa seperti orang yang salah zaman.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih sunyi:

hati ini terbuat dari apa ?

Kok tidak mau sedikit saja bergeser,

sekadar menyesuaikan diri, agar tidak terus menjadi sasaran hinaan, tidak dicap aneh, tidak diprasangkai macam-macam.

Jawabannya pelan-pelan saya temukan.

Bukan karena saya paling benar.

Bukan karena saya paling suci.

Tapi karena hati ini—entah sejak kapan—

tidak rela merusak tatanan, meski dengan alasan “sekadar bertahan hidup”.

Ada harga yang harus dibayar oleh orang yang memilih lurus di jalan yang berbelok-belok.

Harganya bukan kemiskinan semata, melainkan kesepian, salah paham, dan stigma.

Namun tasawuf mengajarkan satu hal penting: bukan semua yang lentur itu bijak,

dan bukan semua yang keras itu sombong.

Kadang keteguhan bukan ego, melainkan bentuk paling sunyi dari amanah.

Saya sadar, dunia tidak kejam, ia hanya tidak dirancang untuk orang-orang yang ingin jujur sepenuhnya.

Maka ketika saya dihina, barangkali itu bukan karena saya gagal menyesuaikan diri, tetapi karena saya menolak menipu diri sendiri.

Di titik ini saya belajar berdamai: tidak semua prasangka perlu dibersihkan, tidak semua cap buruk harus diluruskan.

Biarlah waktu dan Alloh yang membaca isi hati, sementara saya cukup menjaga agar hati ini tidak retak oleh dendam, dan tidak lunak oleh godaan.

Sebab hidup bukan soal seberapa cepat kita diterima, melainkan seberapa lama kita mampu bertahan sebagai diri sendiri

tanpa kehilangan Tuhan.

Dan jika idealisme ini adalah luka,

biarlah ia menjadi luka yang menjaga saya tetap manusia.





Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...