Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi
“Fajar Peradaban dari Barat Nusantara”
(Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten)
Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat.
Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu.
Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif, adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhannya.
Apa yang kita pelajari dari ini?
-
Bahwa kekuasaan sejati adalah amanah, bukan ambisi.
Sultan bukan raja yang haus tahta, tapi pemimpin yang merawat umat dan menghidupkan ilmu. -
Bahwa peradaban tumbuh bukan dari beton, tapi dari batin.
Banten menjadi besar bukan hanya karena pelabuhan, tapi karena ruh keilmuan dan keberkahan Waliulloh seperti Maulana Hasanuddin. -
Bahwa tugas kita hari ini bukan membangga-banggakan masa lalu, tapi menyalakan kembali api yang mulai meredup.
Karena kalau sejarah hanya jadi pameran, bukan pelajaran, maka yang kita miliki cuma museum jiwa.
Milad ini harus kita maknai sebagai mi’raj ruhani kolektif. Sebuah momentum untuk naik derajat dari sekadar "bangga pada leluhur" menjadi "melanjutkan risalah para leluhur."
Gus Nggedabrus mengingatkan:
“Jangan hanya memandangi menara, tapi carilah tangga untuk naik. Jangan hanya mendengar kisah Sultan, tapi jadilah rakyat yang kembali jujur, tawadhu’, dan penuh dzikir.”
“Share buttons”
> Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar