Langsung ke konten utama

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan


Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan. Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat.

Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan.

Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau terpaksa memilih, lebih baik berpakaian meski harus lapar, daripada kenyang tapi telanjang martabat.

Lalu papan, tempat berteduh. Rumah, atap, tanah, semua itu pelengkap. Tapi sayang, hari ini banyak orang membalik urutan warisan itu. Banyak yang mengejar papan megah, rumah menjulang, bahkan rela berhutang atau menggadaikan kehormatan. Ada pula yang lebih memilih perut kenyang, proyek besar, uang tumpukan, meski itu berarti sandang — kehormatan, rasa malu, akhlak — digadaikan begitu saja.

Kita bisa lihat di mana-mana: pejabat korupsi demi proyek, orang-orang jual harga diri demi jabatan, anak muda rela telanjang di layar demi viral, lalu bangga disebut modern. Itu semua tanda kita sudah salah urut. Hidup hanya dihitung dari perut dan papan, sementara sandang — martabat, rasa malu, pakaian takwa — sudah dibuang jauh-jauh.

Padahal, ketika sandang hilang, pangan jadi rakus, papan jadi tamak. Rumah megah tidak bisa menutupi aib, makanan lezat tidak bisa menutup luka batin, sementara pakaian jas rapi tidak bisa menyamarkan hati yang telanjang.

Seharusnya kita kembali pada warisan leluhur: sandang lebih utama daripada sekadar isi perut. Martabat lebih mulia daripada sekadar proyek. Kehormatan lebih mahal daripada sekadar rumah mewah.


“Ya Alloh, titipkan kepada kami sandang yang menutup aib dan menjaga malu. Berilah kami pangan yang halal lagi berkah. Limpahkanlah papan yang meneduhkan, bukan yang menipu pandangan. Jangan biarkan kami salah urut dalam membaca hidup. Jadikan sandang kami pakaian takwa, pangan kami rasa syukur, dan papan kami tempat pulang dalam ridha-Mu.”



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...