Menurut Saya: Cinta Sejati dan Jiwa yang Terbang ke Atas
Menurut saya, cinta sejati bukan sekadar perasaan, apalagi sekadar hasrat. Ia adalah jalan panjang yang dilalui oleh jiwa yang sudah matang — jiwa yang telah melampaui kepentingan diri, harta, rupa, dan segala bentuk kelekatan dunia. Cinta sejati tidak lahir dari mata, tapi dari kesadaran.
Jiwa yang bisa mencintai dengan sejati adalah jiwa yang telah terbang ke atas — bukan secara fisik, tapi secara spiritual. Ia telah membersihkan dirinya dari kabut hawa nafsu. Ia tidak lagi mencintai karena ingin memiliki, tapi karena ingin memberi. Tidak mencintai karena ingin memuaskan diri, tapi karena ingin menyucikan diri.
Dalam pandangan saya, cinta sejati itu mendekati makna ibadah. Ia menuntun kita pada kemurnian niat, ketulusan hati, dan keberanian untuk berkorban tanpa pamrih. Ini mirip dengan ajaran Rasulullah tentang mencintai karena Alloh, dan membenci karena Alloh. Cinta yang seperti ini tidak bergantung pada keadaan luar, tapi tumbuh dari kebeningan batin.
Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling kita rindukan, tapi tentang siapa yang membuat kita semakin dekat kepada Yang Maha Pengasih. Jika cinta membuat kita lalai, itu bukan cinta. Jika cinta membuat kita lupa pada akhir, itu bukan cinta. Cinta sejati justru membangunkan jiwa dari tidur panjang dunia, dan mengajaknya terbang — bukan ke langit yang fana, tapi ke hakikat yang abadi.
Maka, menurut saya, cinta sejati hanya bisa dipahami oleh jiwa yang telah bebas — jiwa yang telah tahu bahwa mencintai bukan berarti menggenggam, tapi melepaskan; bukan menuntut balasan, tapi berserah kepada kehendak-Nya.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar