Langsung ke konten utama

Cinta Sejati dan Jiwa yang Terbang ke Atas

Menurut Saya: Cinta Sejati dan Jiwa yang Terbang ke Atas

Menurut saya, cinta sejati bukan sekadar perasaan, apalagi sekadar hasrat. Ia adalah jalan panjang yang dilalui oleh jiwa yang sudah matang — jiwa yang telah melampaui kepentingan diri, harta, rupa, dan segala bentuk kelekatan dunia. Cinta sejati tidak lahir dari mata, tapi dari kesadaran.

Jiwa yang bisa mencintai dengan sejati adalah jiwa yang telah terbang ke atas — bukan secara fisik, tapi secara spiritual. Ia telah membersihkan dirinya dari kabut hawa nafsu. Ia tidak lagi mencintai karena ingin memiliki, tapi karena ingin memberi. Tidak mencintai karena ingin memuaskan diri, tapi karena ingin menyucikan diri.

Dalam pandangan saya, cinta sejati itu mendekati makna ibadah. Ia menuntun kita pada kemurnian niat, ketulusan hati, dan keberanian untuk berkorban tanpa pamrih. Ini mirip dengan ajaran Rasulullah tentang mencintai karena Alloh, dan membenci karena Alloh. Cinta yang seperti ini tidak bergantung pada keadaan luar, tapi tumbuh dari kebeningan batin.

Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling kita rindukan, tapi tentang siapa yang membuat kita semakin dekat kepada Yang Maha Pengasih. Jika cinta membuat kita lalai, itu bukan cinta. Jika cinta membuat kita lupa pada akhir, itu bukan cinta. Cinta sejati justru membangunkan jiwa dari tidur panjang dunia, dan mengajaknya terbang — bukan ke langit yang fana, tapi ke hakikat yang abadi.

Maka, menurut saya, cinta sejati hanya bisa dipahami oleh jiwa yang telah bebas — jiwa yang telah tahu bahwa mencintai bukan berarti menggenggam, tapi melepaskan; bukan menuntut balasan, tapi berserah kepada kehendak-Nya.



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...