Langsung ke konten utama

Darurat Premanisme Berkedok Ormas:

Darurat Premanisme Berkedok Ormas: Saat Nurani Bangsa Dibelokkan Kuasa Jalanan

Oleh: Gus Masrur Al Malangi


Di tengah hiruk-pikuk reformasi dan kebebasan berserikat, kita sedang menghadapi penyakit baru: premanisme berbaju ormas. Di satu sisi mereka mengaku memperjuangkan rakyat, di sisi lain memegang senjata, mengintimidasi warga, bahkan menantang aparat di ruang publik.

Kejadian di Kemang hanyalah satu dari banyak potret kekacauan moral yang dibungkus legalitas organisasi. Preman sekarang tidak lagi memakai kaus oblong dan sandal jepit, tapi berseragam, membawa bendera, dan menyebut dirinya bagian dari perjuangan. Ini bukan lagi sekadar kriminalitas, ini sudah memasuki ranah pengkhianatan terhadap jiwa bangsa.

Sebagaimana saya sering tekankan dalam majelis ruhani:

“Ketika organisasi dijadikan topeng nafsu, maka jihad berubah jadi fitnah, dan perjuangan menjadi jual beli kuasa.”


Tasawuf Modern dan Filter Ruhani Terhadap Ormas

Dalam tasawuf modern, perjuangan sejati tidak bisa dipisahkan dari penyucian diri. Sebab ormas tanpa penyucian hanya melahirkan kumpulan ego, bukan komunitas ilahi. Maka jika ada ormas yang marah lebih cepat dari sabar, mengancam lebih cepat dari doa, maka itu bukan ormas—itu hanya kawanan yang kehilangan ruh.

Tiga prinsip tasawuf modern dalam menyikapi fenomena ini:

1. Tasfiyah (Penyaringan Jiwa Kolektif)

Ormas harus disaring ruhnya, bukan sekadar izinnya. Kita butuh penyaringan nilai, bukan hanya SK Kemenkumham. Kalau ruhnya bengis, jangan dibiarkan membungkus diri dengan simbol legalitas.

2. Tarbiyah (Pendidikan Ruhani Anggota Ormas)

Ormas yang sehat adalah ormas yang mendidik batin anggotanya, bukan hanya mengajarkan komando jalanan. Jika dalam pelatihannya lebih banyak teriakan daripada zikir, maka itu bukan kaderisasi, tapi penggiringan ke arah kekerasan.

3. Tanggung Jawab Kebangsaan dan Ketuhanan

Setiap organisasi yang tidak menumbuhkan rasa takut kepada Tuhan, hanya akan menumbuhkan rasa berani kepada kejahatan. Maka yang kita butuhkan bukan ormas yang keras, tapi yang ikhlas.


Negara Tidak Boleh Kalah, Tapi Harus Cerdas

Negara tidak boleh kalah pada premanisme, tapi juga tidak boleh gegabah dalam menyikapi ormas. Harus ada deteksi ruhani: mana yang benar-benar lahir dari cinta tanah air, mana yang hanya numpang hidup dari rasa takut masyarakat.

Karena itu saya menyerukan kepada para tokoh, guru ruhani, dan pendekar spiritual:

“Bangkitlah! Bimbinglah umat! Jangan biarkan simbol agama atau nasionalisme dipakai untuk menindas rakyat!”


Penutup: Saatnya Kebangkitan Ormas Ruhani, Bukan Otot Jalanan

Ormas sejati adalah yang menjaga, bukan mengancam. Yang menenangkan, bukan meneror. Yang menghidupkan doa di jalanan, bukan mengacungkan senjata di tengah pasar.

Mari kita lawan premanisme berkedok ormas dengan akal yang cerdas, hukum yang tegas, dan ruhani yang tulus. Jangan biarkan bangsa ini tenggelam oleh baju organisasi yang kehilangan isi ruh.

#AntiPremanisme
#TolakKekerasan
#OrmasRuhani
#LawanPremanBersenjata
#TasawufModern
#BangkitkanNuraniBangsa
#RuangPublikAman
#JihadTanpaSenjata





> Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Seluruh tulisan ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta. Dilarang menyalin, menggandakan, menyebarluaskan, atau mempublikasikan ulang sebagian atau seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...