Langsung ke konten utama

Etika Digital dan Kehormatan Diri

Adab Tasawuf Modern Menurut Gus Masrur Al Malangi: Etika Digital dan Kehormatan Diri

Dalam tasawuf yang diajarkan oleh Gus Masrur Al Malangi, adab bukan sekadar tata krama sosial, tetapi pancaran dari kesadaran ruhani. Salah satu bentuk adab yang paling penting dalam era digital adalah menjaga kehormatan lisan dan tulisan, termasuk di dunia maya.


Anonimitas Tanpa Amanah: Bentuk Ketidakadaban Ruhani

Gus Masrur menegaskan bahwa menyampaikan pendapat tanpa keberanian mengungkapkan jati diri—apalagi bila bernada ejekan atau fitnah—merupakan bentuk nafsi-nafsi (egoisme spiritual) yang bertentangan dengan maqam adab. Dalam tarekat modern, setiap kata adalah saksi ruhani yang akan kembali kepada penulisnya. Maka, menyembunyikan identitas untuk melukai sesama adalah bentuk hijab hati yang menebalkan kegelapan batin.

Kritik Tanpa Cermin: Cacat Akhlak Penempuh Jalan Ruhani

Bagi Gus Masrur, kritik adalah ibadah bila dibalut kejujuran, kelembutan, dan tujuan islah (perbaikan). Namun, jika kritik justru menjadi senjata untuk merendahkan, ia berubah menjadi ghibah digital—bergelimang dosa meski tanpa suara. Dalam tasawuf modern, seorang salik (penempuh jalan spiritual) wajib lebih dulu bercermin sebelum menunjuk.

Menjaga Lisan Digital: Adab Luhur Sang Salik

Dalam dunia yang mengandalkan narasi dan komentar, setiap unggahan, cuitan, atau tulisan adalah khotbah ruhani. Gus Masrur menekankan bahwa lisan digital harus dituntun oleh niat suci dan rasa malu kepada Allah. Bila seseorang kehilangan rasa malu, maka hilang pula sifat kehambaannya. Sifat ini disebut oleh beliau sebagai “futuwah digital”—jiwa kesatria yang tetap menjaga kehormatan meski dalam bayang dunia maya.

Menyembunyikan Diri Bukan Bentuk Kerendahan Hati

Dalam tasawuf klasik, menyembunyikan amal baik adalah bagian dari keikhlasan. Namun dalam konteks digital masa kini, menyembunyikan jati diri untuk mencerca justru menjadi tameng hawa nafsu. Gus Masrur menyebut ini sebagai “hijab jariyah”—tabir amal buruk yang terus mengalir selama jejak digitalnya tak dihapus.

Dakwah Melalui Adab

Tasawuf modern yang dikembangkan Gus Masrur menuntut agar dakwah dilakukan dengan adab, bukan aib. Seruan kebaikan yang tidak dibarengi rasa hormat adalah petunjuk bahwa jiwa penyeru belum selesai mendidik dirinya sendiri.


Penutup

Gus Masrur Al Malangi mengajak setiap insan digital untuk menjadikan ruang maya sebagai ladang keberkahan, bukan gelanggang kebencian. Dalam pandangannya, spiritualitas modern bukan soal banyaknya zikir, tapi sejauh mana kita menjaga kehormatan diri dan orang lain dalam setiap ucapan—baik nyata maupun virtual.

Jika engkau merasa lebih baik, bersuaralah dengan adab. Jika engkau merasa marah, diamlah dengan doa.


> Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...