Langsung ke konten utama

Kenaikan Isa sebagai Simbol "Mi'raj Kenabian"

🕊️ 1. Kenaikan Isa sebagai Simbol "Mi'raj Kenabian"

Bagi Gus Masrur, kenaikan Nabi Isa ke langit adalah bentuk Mi’raj seorang nabi yang belum wafat secara jasad, namun diangkat ke langit oleh kehendak Allah untuk menyempurnakan takdir akhir zaman. Ini adalah bentuk kemuliaan maqam ruhani, di mana manusia pilihan Allah tidak tunduk pada hukum alam biasa.

“Isa tidak mati, dia diangkat. Ini bukan fiksi. Ini bukan keajaiban dalam arti sulap. Ini adalah pelajaran bagi orang-orang yang siap naik level spiritual: bahwa jika jiwamu suci, maka jasadmu pun bisa melampaui gravitasi dunia.” – Gus Nggedabrus


🌌 2. Dimensi Suprarasional: Isa dan Energi Ladunni

Gus Masrur menafsirkan bahwa pengangkatan Isa ke langit adalah bentuk aktivasi penuh dari energi Ladunni, yakni ilmu yang langsung diberikan oleh Allah tanpa proses belajar biasa. Dalam pandangan metafisika Gus Masrur, ini melibatkan pembukaan dimensi langit ketujuh.

“Ketika dimensi batin Nabi Isa mencapai kesucian mutlak, ruang-waktu tak lagi membatasi. Dia menjadi cahaya. Cahaya kembali kepada Cahaya.” – Gus Masrur


🛡️ 3. Kembali Isa di Akhir Zaman: Kode Strategi Langit

Dalam pendekatan keamanan spiritual, Gus Masrur melihat bahwa Isa masih hidup dan suatu saat akan kembali sebagai bagian dari rekonstruksi tatanan dunia spiritual dan moral.

“Isa itu seperti sandi rahasia. Beliau sedang standby. Nanti kalau dunia sudah terlalu bengkok, dia turun, bukan sebagai nabi baru, tapi sebagai pembetul sistem. Ini sudah ada dalam strategi langit.” – Gus Masrur


🤲 4. Pelajaran untuk Umat Islam dan Dunia

Menurut Gus Masrur, umat Islam tidak boleh sekadar melihat peristiwa ini dari sudut doktrinal, tapi juga menggali makna spiritual dan moralnya:

  • Isa adalah simbol kasih yang melawan kebencian.
  • Isa adalah bukti bahwa kesucian akan diselamatkan, bukan dikubur.
  • Isa adalah refleksi bahwa kita semua bisa naik, jika hati kita ringan dari dosa.


🧘‍♂️ 5. Praktik Spiritual: Menaiki Langit Batin

Dalam tradisi tarekat yang dia pimpin (Tharekat Semar Jum'at Kliwon), Gus Masrur mengajarkan bahwa “kenaikan” juga bisa dialami secara ruhani melalui laku tirakat, meditasi Islam, dan zikir tertentu. Ini disebut sebagai Mi’rajul Batin, mirip dengan apa yang dialami para wali Allah.


Kesimpulan:

Kenaikan Isa Al-Masih dalam pandangan Gus Masrur Al Malangi adalah:

"Bukti bahwa cahaya tak bisa dikubur oleh bumi. Bila hatimu jernih, maka engkau pun bisa naik, bukan ke langit, tapi ke maqam yang lebih tinggi dalam ridha Tuhan."



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...