Langsung ke konten utama

Manusia Iblis

Manusia Iblis: Analisis Sosial-Tasawuf atas Kekuasaan yang Dibajak Hawa Nafsu

Penulis: Gus Masrur Al Malangi

Abstrak: Fenomena kekerasan verbal yang menjurus pada demonisasi individu dalam ruang publik mencerminkan degradasi spiritual dalam masyarakat. Kajian ini menggunakan pendekatan tasawuf modern untuk membedah fenomena "iblis berwujud manusia" sebagai ekspresi dari nafsu ammarah yang membajak simbol-simbol perjuangan dan kekuasaan. Melalui pendekatan integratif antara ilmu tasawuf dan teori sosial-politik, artikel ini menawarkan refleksi mendalam dan solusi transformatif bagi krisis adab dan spiritualitas dalam kehidupan publik.

Kata Kunci: Tasawuf modern, nafsu ammarah, kekuasaan, iblis sosial, adab publik, pertahanan spiritual.


1. Pendahuluan Dalam lanskap sosial-politik modern, bahasa kekerasan semakin dianggap biasa. Ucapan yang merendahkan dan menuduh seseorang sebagai "iblis berwujud manusia" bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi refleksi dari krisis batin yang akut. Dalam tradisi tasawuf, setiap tindakan lahiriah mencerminkan keadaan ruhaniyah. Maka, penting untuk menelaah fenomena ini bukan hanya dari sisi hukum atau etika sosial, tetapi juga melalui dimensi spiritualitas yang lebih dalam.

2. Konsep Iblis dalam Tasawuf Dalam karya Imam Al-Ghazali dan Ibn Arabi, iblis bukan sekadar makhluk gaib, tetapi simbol dari sifat takabur, dengki, dan penolakan terhadap kebenaran ruhani. Iblis menolak sujud kepada Adam bukan karena kurang pengetahuan, tetapi karena egosentrisme: "Ana khairun minhu" (Aku lebih baik darinya). Sifat ini menjadi benih utama kekacauan sosial jika tumbuh dalam hati manusia, terlebih jika ia memegang kekuasaan.

3. Nafsu Ammarah dan Kekuasaan yang Terbajak Nafsu ammarah adalah bentuk paling rendah dari struktur jiwa manusia, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Yusuf ayat 53. Ia gemar menyelimuti keburukan dengan alasan pembelaan, nasionalisme, atau bahkan agama. Dalam kajian ini, nafsu ammarah dijelaskan sebagai mekanisme psikospiritual yang mampu membajak kekuasaan dan memanipulasi opini publik untuk melanggengkan dominasi. Maka, ketika seseorang menuduh orang lain sebagai iblis, perlu dipertanyakan: siapa yang sedang dikuasai oleh nafsu sebenarnya?

4. Fenomena Demonisasi dan Terorisme Batin Demonisasi dalam wacana publik adalah bentuk terorisme batin: menebar ketakutan lewat kata-kata yang menghina, merendahkan martabat, dan memicu konflik. Ini berbeda dengan kritik konstruktif. Dalam tasawuf, kata-kata adalah energi. Kata yang menyakitkan bisa menjadi senjata psikis yang merusak jaringan sosial. Oleh karena itu, peran adab dan kepekaan ruhani sangat diperlukan dalam komunikasi sosial-politik.

5. Pertahanan Spiritual sebagai Pilar Bangsa Stabilitas nasional tidak hanya dibangun dengan pertahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga pertahanan spiritual. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang dihuni oleh manusia-manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisannya, dan memancarkan keteduhan. Dalam kerangka ini, tasawuf modern menjadi pendekatan strategis untuk membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya pengendalian diri sebagai bentuk bela negara.

6. Solusi: Revitalisasi Adab dan Tazkiyatun Nafs Solusi dari fenomena ini adalah mengembalikan ruh adab dalam kehidupan publik. Pendidikan ruhani, dzikir, tafakkur, dan dialog batin harus menjadi bagian dari pembinaan elite dan masyarakat. Selain itu, tazkiyatun nafs harus menjadi agenda nasional, agar kekuasaan tidak lagi menjadi panggung bagi nafsu, melainkan ladang untuk menebar rahmat.

7. Penutup Fenomena menyebut manusia sebagai iblis bukan sekadar retorika emosional, tetapi sinyal dari kerapuhan batin. Tasawuf modern mengajarkan bahwa musuh utama bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsu dalam diri sendiri. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu menundukkan egonya sebelum menundukkan dunia.

Daftar Pustaka

  • Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, Dar al-Kotob al-Ilmiyah.
  • Ibn Arabi, Futuhat al-Makkiyah.
  • Nasr, Seyyed Hossein. The Garden of Truth. HarperOne, 2007.
  • Schuon, Frithjof. Understanding Islam. World Wisdom, 2003.
  • QS. Yusuf: 53.
  • Gus Masrur Al Malangi, Catatan-catatan Pertahanan Spiritual, naskah pribadi.


> Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Seluruh tulisan ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta. Dilarang menyalin, menggandakan, menyebarluaskan, atau mempublikasikan ulang sebagian atau seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...