Langsung ke konten utama

Menjaga Lisan, Menjaga Martabat

Adab dalam Perspektif Tasawuf Modern: Menjaga Lisan, Menjaga Martabat

Dalam tradisi tasawuf modern, adab bukan sekadar aturan sosial, melainkan cermin dari kedalaman jiwa dan kemurnian hati. Adab lahir dari kesadaran ruhani bahwa setiap kata adalah benih yang ditanam di ladang semesta. Maka lisan bukan hanya alat bicara, tetapi juga cermin hakikat diri.

Menjaga lisan adalah ajaran inti dalam perjalanan spiritual. Seorang salik (pencari jalan ruhani) tidak akan terburu-buru berkata-kata, apalagi melukai kehormatan sesama, karena ia tahu bahwa mulut yang longgar adalah pertanda hati yang kosong dari dzikir.

“Lisan yang menyakiti orang lain bukan tanda keberanian, melainkan kegagalan memimpin diri sendiri.”

Dalam konteks kehidupan sosial, mencela, menghina, atau meremehkan martabat orang lain—terutama yang telah mengabdi untuk masyarakat—bukan hanya pelanggaran adab, tapi juga bentuk keterputusan ruhani. Tasawuf mengajarkan bahwa menjaga kehormatan sesama adalah menjaga keseimbangan batin kita sendiri. Jika kita merendahkan orang lain, sejatinya kita sedang mengungkapkan luka dalam jiwa sendiri.

Tasawuf modern tidak anti kritik. Ia justru mendorong penjernihan nalar dan pembebasan dari kebodohan. Tetapi kritik dalam tasawuf dibalut hikmah, tidak bernada caci, apalagi nyinyir. Kritik seorang sufi bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menghidupkan. Ia mengobati luka, bukan menambah derita.

Adab Sebagai Benteng Peradaban

Dalam masyarakat yang makin gaduh oleh kebebasan berekspresi tanpa tanggung jawab, tasawuf modern tampil sebagai benteng peradaban. Ia menyerukan bahwa adab lebih tinggi dari ilmu, karena ilmu tanpa adab melahirkan arogansi, sedang adab tanpa ilmu tetap melahirkan kasih.

Menghina tokoh publik, membongkar aib orang lain, atau menjadikan ujaran kasar sebagai alat perlawanan bukanlah tanda keberpihakan rakyat. Itu adalah bentuk kebodohan spiritual yang dibungkus keberanian palsu. Perlawanan yang suci adalah perlawanan yang menjaga nilai, bukan yang merusaknya.

Penutup: Jalan Sunyi yang Terjaga

Sang sufi modern memilih jalan sunyi, tidak banyak berkata-kata, tapi tindakannya menebar kesejukan. Ia tahu bahwa diam yang bermakna lebih mulia dari ribut yang kosong. Ia tidak perlu membuktikan keberaniannya dengan teriakan, karena keberanian sejati adalah menundukkan ego sendiri.

Adab bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan tersembunyi yang hanya dipahami oleh mereka yang hatinya tercerahkan.


Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...