Gus Masrur Al Malangi
Kajian Etika Tasawuf Modern: Menjaga Lisan, Menjaga Marwah
Pendahuluan
Dalam pandangan tasawuf modern yang diajarkan oleh Gus Masrur Al Malangi, lisan adalah pancaran hati. Maka, setiap kata yang keluar dari mulut manusia bukan hanya sekadar komunikasi, tetapi manifestasi dari kebeningan atau kekeruhan batin. Oleh sebab itu, menjaga lisan adalah bagian dari jihad batin yang paling nyata di era digital dan media.
1. Lisan Sebagai Amanah Spiritual
Menurut Gus Masrur, salah satu maqam dalam tasawuf modern adalah hikmah lisan, yaitu kemampuan berkata benar, tepat, dan bermanfaat dalam segala situasi. Ketika seseorang menggunakan lisan atau media untuk menyerang sosok lain yang pernah menjadi bagian dari lembaga kehormatan seperti militer atau agama, maka ia sedang mengguncang dua marwah sekaligus: marwah insani dan marwah institusi. Ini melanggar prinsip tasawuf modern yang menekankan bahwa “setiap kata adalah doa, dan setiap lisan adalah saksi ruhani.”
2. Kritik Tanpa Adab adalah Kesombongan Spiritual
Dalam etika tasawuf, nasihat (kritik membangun) harus dibungkus dengan adab, bukan amarah. Kritik yang disampaikan dengan niat menjatuhkan atau merendahkan bukan lagi nasihat, melainkan bentuk dari kibr (kesombongan batin). Gus Masrur menyebut ini sebagai “puasa yang batal oleh kata-kata,” yakni amal yang hilang manfaatnya karena disertai caci atau penghinaan. Etika tasawuf mengajarkan bahwa mempermalukan orang di depan publik adalah ghurur—ilusi kebenaran yang sebenarnya hanyalah ego berkedok keadilan.
3. Menjaga Marwah Bangsa Melalui Diam yang Bijak
Salah satu pelajaran utama dalam tarekat yang dibimbing Gus Masrur adalah konsep diam sebagai zikir. Artinya, dalam banyak keadaan, diam lebih menunjukkan kekuatan ruhani daripada membalas atau menyerang. Ketika tokoh-tokoh bangsa saling menyerang dengan narasi keras, maka yang rusak bukan hanya hubungan personal, tetapi kepercayaan publik dan kesejukan sosial. Dalam pandangan tasawuf modern, menjaga marwah bangsa dimulai dari menahan lisan.
4. Tanggung Jawab Kolektif atas Ucapan
Gus Masrur menekankan bahwa ucapan publik adalah tanggung jawab spiritual kolektif. Jika ada satu kata yang memantik perpecahan, maka satu komunitas ruhani harus ikut mendoakan, meredam, dan menjernihkan. Karena itu, ketika ada konflik narasi yang menyentuh kehormatan negara, maka kaum sufi—terutama yang telah tercerahkan—wajib menjadi penjernih, bukan penyulut.
Penutup: Suara yang Menyejukkan Lebih Tajam dari Pedang
Etika tasawuf modern menuntun manusia untuk berbicara seperti Nabi, berprasangka seperti wali, dan berpikir seperti pejuang ruhani. Dalam konteks polemik yang melibatkan kehormatan dan institusi negara, Gus Masrur Al Malangi menegaskan: “Bicaralah dengan cinta, atau diamlah dengan doa.” Sebab, bangsa ini tidak kekurangan suara, tapi sedang kehausan akan kesejukan.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar