MI'RAJ RASA: Sayap-Sayap Ruhani dalam Tasawuf Modern
"Segala puji bagi Alloh, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan dengan sayap-sayap dua, tiga, dan empat..."
(QS. Faathir: 1)
Dalam pandangan sufistik modern, terbang bukan hanya perkara fisika dan mesin, melainkan lompatan kesadaran. Gus Masrur Al Malangi menyebutnya sebagai Mi'raj Rasa—sebuah lompatan spiritual yang membawa ruh manusia dari dimensi jasadi menuju langit-langit makna. Sayap dalam ayat tadi bukan sekadar metafora fisiologis, melainkan simbol dari daya ruhani yang terbentang karena latihan, keikhlasan, dan pengembaraan batin.
Sudah sejak lama manusia menyimpan rasa cemburu suci pada malaikat, burung, dan serangga—makhluk-makhluk bersayap yang leluasa menjelajahi langit. Namun cemburu ini bukan dalam arti nafsu duniawi, tapi kerinduan primordial untuk kembali ke asal-usul cahaya.
Dalam tradisi spiritual Islam, sosok seperti Ibn Firnas bukan sekadar ilmuwan, tetapi salik—penempuh jalan Tuhan yang menggabungkan akal, intuisi, dan keberanian eksistensial. Pada tahun 852, di bawah bayang pemerintahan ‘Abdurrahman II Al-‘Umawi, Ibnu Firnas menguji jubah bersayapnya di menara La Mezquita Cordoba. Jubah dari sutra itu ditopang kayu, menciptakan momen pelambatan jatuh—sebuah penemuan parasut sebelum manusia menyebutnya demikian.
Namun, yang menarik bukan sekadar fisika terbangnya, tetapi filosofi jatuh yang diterimanya dengan ikhlas. Dalam tasawuf, jatuh bukan kegagalan, tapi fase dalam tarikan Ilahi. Tahun 875, di usia 65 tahun—usia matang secara ruhani—Ia kembali mencoba terbang dari Jabal Al-‘Arus. Ia melayang selama hampir satu menit—sebuah simbol bahwa waktu spiritual tidak diukur dengan detik, melainkan dengan makna per detik.
Cedera punggung yang dideritanya bukan sekadar kecelakaan teknis. Dalam tafsir Gus Masrur, itu adalah tajalli—manifestasi Tuhan yang menampar ego manusia agar tetap tahu diri: "Terbanglah dengan rendah hati, karena ketinggian ruh bukan diukur dari altitude, tapi dari maqamat."
Ibnu Firnas lupa menambahkan ekor pada desainnya—dan dari kelupaan itu lahirlah pelajaran sufi: jangan tinggalkan keseimbangan. Sayap tanpa ekor adalah semangat tanpa disiplin; dzikir tanpa adab; ilmu tanpa mursyid.
Lebih dari seribu tahun sebelum Da Vinci dan Wright bersaudara, Ibn Firnas sudah menanam benih keberanian spiritual—bahwa manusia sejatinya memang bisa terbang, asalkan bersayapkan kesadaran dan berekorkan tawadhu.
Gus Masrur menyebut ini sebagai salah satu tajribah sufistik—sebuah eksperimen makrifat, di mana tubuh masih di bumi, tetapi ruh menari di langit. Maka jika kau belum bisa melayang di udara, jangan resah. Latihlah dulu sayapmu: lewat sabar, dzikir, dan rasa. Sebab dalam tasawuf modern, terbang bukan keluar dari bumi, tapi keluar dari diri.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar