"Waisak: Naik ke Sunyi, Turun ke Jiwa"
Oleh: Gus Masrur Al Malangi
Orang sibuk cari cahaya, tapi matanya silau sendiri.
Ada yang cari Tuhan lewat gawai, lewat seminar, bahkan lewat diskon kitab suci.
Padahal, Waisak sudah lama ngajari: terang itu bukan dari lampu sorot, tapi dari hati yang jernih kayak embun subuh sebelum gosip dunia mulai berseliweran.
Waisak itu bukan cuma urusan Buddha—itu urusan jiwa.
Siddharta Gautama itu bukan cuma tokoh sejarah, dia simbol manusia yang bosan jadi boneka dunia.
Lahir sebagai pangeran, tapi memilih jadi pengembara.
Turun dari istana bukan karena miskin, tapi karena lapar…
Lapar makna.
Nah, dalam bahasa tasawuf, Siddharta ini udah masuk maqam ma’rifat—tingkatan tertinggi, di mana yang dilihat bukan dunia, tapi Diri.
Bukan Diri yang bisa selfie, tapi Diri sejati—yang ngerti arah pulang ke Tuhan.
Waisak itu momen "kesunyian aktif".
Sunyi yang bukan ngambek, tapi sunyi yang menuntun.
Sunyi yang tidak membawa kita menjauh dari dunia, tapi bikin kita nggak tergantung padanya.
Kayak nelayan yang turun ke laut, tapi hatinya tetap pulang ke darat.
Sufiku bilang:
“Cahaya hakiki bukan yang menyilaukan mata, tapi yang membangunkan jiwa.”
Itu kenapa, orang bisa kelihatan cerah di luar—pake jubah, peci, saffron, atau jas formal—
tapi dalamnya gelap gulita.
Sebaliknya, ada yang tampak biasa, tapi dalam dirinya menyala terang—karena ia sudah kenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
Makanya, dalam setiap Waisak, kita bisa belajar diam.
Diam yang bukan pasrah, tapi aktif mendengar.
Mendengar bisikan Tuhan dalam hati,
dalam dedaunan,
dalam diamnya malam,
dalam getaran zikir yang tak bersuara.
Waisak, kalau ditarik ke tarekat Semar Jum’at Kliwon, adalah latihan turun-naik.
Turun dari kesombongan, naik ke kesadaran.
Turun dari hasrat dunia, naik ke cinta yang murni.
Turun dari keramaian palsu, naik ke sunyi yang menumbuhkan.
Dan kalau kamu tanya, “Gus, aku belum tercerahkan. Gimana caranya?”
Jawabku sederhana:
Jangan cari cahaya.
Bersihkan saja cerminnya.
Karena Tuhan dan cahaya-Nya sudah ada di situ, sejak awal.
Kita aja yang sibuk selfie terus, sampe lupa ngelap debu di jiwa.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar