"Negeri Para Penjudi Etika"
Kajian Gus Nggedabrus: Satir Sufi Tentang Adab yang Digadaikan
Dulu...
yang berjudi sembunyi-sembunyi,
sekarang yang berjudi malah rapat di gedung terhormat.
Yang dulu malu-malu kalau dapat jatah haram,
kini malah bangga bersilat kata, membela diri di depan kamera.
Kita ini hidup di negeri yang aneh,
judi dilarang—tapi pelakunya justru punya badge kedinasan dan kartu organisasi.
Etika digadaikan demi kuasa,
rasa malu dikubur di bawah bangku rapat rapat.
Ada yang teriak paling bersih,
padahal tangannya masih bau chips kasino digital.
Ada yang sok suci di depan podium,
padahal jatah haramnya sudah dibagi rata dengan rekan sefraksi.
Yang lebih lucu,
ada yang bilang, "Saya tidak tahu itu judi..."
Lha, sampeyan duduk di kursi pengendali sistem digital,
tapi tak tahu ada server haram bersliweran?
Itu namanya bukan gaptek, tapi gapadab.
Rakyat disuruh hemat,
tapi pejabatnya gonta-ganti mobil mewah dari hasil main spin online.
Rakyat diceramahi tentang moral,
tapi para penguasa malah top-up dosa pakai Anggaran Rakyat.
Ini bukan sekadar soal pelanggaran hukum,
ini soal kematian rasa malu.
Ketika adab dikalahkan oleh lobi,
dan etika ditumbalkan demi posisi.
Wahai para pemegang amanah,
jika tak mampu membawa cahaya,
setidaknya jangan jual lentera kepada kegelapan.
Jika engkau mendengar kisah ini dan merasa tergelitik,
itu tandanya nuranimu belum mati.
Tapi kalau engkau ikut tertawa sambil mencuci tangan,
boleh jadi engkau bukan rakyat, tapi bagian dari lakon dusta.
Ingat, adab itu bukan warisan genetika, tapi warisan jiwa. Dan rasa malu adalah benteng terakhir sebelum manusia jadi hewan yang berseragam jabatan.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar