Langsung ke konten utama

Penindakan Narkoba oleh TNI

Kajian Tasawuf ala Gus Masrur Al Malangi: Penindakan Narkoba oleh TNI dalam Perspektif Spiritualitas Kedaulatan


1. Narkoba sebagai Wujud Tiran Materialisme

Dalam perspektif tasawuf ala Gus Masrur, narkoba bukan sekadar persoalan kriminalitas, tetapi simbol dari kehancuran akal, hancurnya kehormatan ruhani, dan penjajahan batin. Seorang manusia yang terjerat narkoba ibarat tawanan hawa nafsu yang dipasung dalam penjara syahwat dunia. Dalam hal ini, narkoba adalah iblis kimiawi yang menjajah kemerdekaan jiwa.

2. Peran TNI sebagai Rijalulloh (Prajurit Tuhan)

TNI, dalam semangat sufi militan versi Gus Masrur, bukan sekadar alat pertahanan fisik negara, tetapi juga bisa menjadi representasi dari rijalullaoh—pasukan Tuhan yang menjaga kemuliaan bangsa dan martabat manusia. Ketika TNI membantu menumpas peredaran narkoba, sejatinya mereka sedang berjihad fi sabilillah: bukan jihad senjata semata, tetapi jihad membebaskan manusia dari perbudakan modern yang menggerogoti kesadaran dan iman.

3. Integrasi Zahir dan Batin dalam Bela Negara

Tasawuf Gus Masrur memandang pertahanan negara tidak cukup hanya dengan senjata, radar, atau sistem hukum, tapi harus juga dengan pembersihan ruhani. Penangkapan pengedar narkoba oleh TNI bisa dimaknai sebagai kerja sama antara zahir (fisik/hukum) dan batin (ruh/niat spiritual). Dalam perspektif ini, kerja TNI adalah bentuk tazkiyatun nafs al-ijtima’iyyah—penyucian jiwa sosial bangsa.

4. Narkoba sebagai Ancaman Terhadap Maqashid Syari’ah

Narkoba menghancurkan lima tujuan utama syariat (maqashid syari’ah): agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dalam tasawuf Gus Masrur, membiarkan narkoba merajalela sama artinya dengan menyerahkan bangsa kepada taghut modern. Maka keterlibatan TNI harus dipahami sebagai penjagaan atas maqashid syari’ah dalam skala nasional.

5. TNI sebagai Wali Negeri dalam Hikmah Kebatinan

Dalam tradisi kebatinan Jawa yang disinergikan oleh Gus Masrur dalam Thariqah Semar Jum’at Kliwon, seorang abdi negara (TNI) yang ikhlas, sabar, dan bertugas dengan niat luhur adalah bentuk dari Wali Negeri—penjaga kasat mata dari runtuhnya nilai luhur bangsa. Tugas menangkap pengedar narkoba bukan sekadar penegakan hukum, tetapi juga bagian dari riyadhoh kebangsaan.


Penutup

Maka dari itu, keterlibatan TNI dalam pemberantasan narkoba secara tasawuf bukan soal pelanggaran kewenangan, melainkan perlu dilihat sebagai ikhtiar kolektif menjaga kesucian bangsa. Namun, tugas ini tetap harus dikawal dengan adab, kebijaksanaan, dan batas hukum, sebagaimana seorang sufi menjaga dirinya dari kesombongan spiritual.

“Negara tanpa ruhani adalah jasad tanpa nyawa. Narkoba adalah racun batin bangsa. Maka siapa yang mengusirnya, sesungguhnya sedang menyelamatkan ruh negara.”
Gus Masrur Al Malangi



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...