Langsung ke konten utama

Peran Tharekat Semar Jum'at Kliwon dalam Krisis Sosial dan Wakaf Produktif

TRANSFORMASI SPIRITUAL MENUJU KEMANDIRIAN SOSIAL

Tharekat Semar Jum’at Kliwon

Penyangga Krisis Sosial & Penggerak Wakaf Produktif Sejak 2010

1. Visi Gerakan Kami

Kami bukan hanya sebuah tarekat.
Kami adalah gerakan perubahan.
Gerakan yang memadukan spiritualitas, pemberdayaan, dan keberlanjutan.

Visi kami:
Mengubah energi spiritual menjadi kekuatan sosial, ekonomi, dan budaya umat.

2. Masalah Sosial yang Kami Hadapi

Aset umat melimpah, namun terbengkalai


Generasi muda kehilangan arah dan akhlak


Kemiskinan struktural terus mengakar


Wakaf hanya jadi prasasti, bukan solusi


3. Solusi yang Kami Tawarkan

Gerakan Wakaf Produktif & Pesantren Sosial
Kami bangkitkan kembali aset menganggur menjadi:

Lahan pangan mandiri (green pesantren)


Inkubator UMKM berbasis spiritual


Klinik sosial dan pendidikan berbasis wakaf


Rumah pemulihan jiwa, moral, dan ekonomi


Spiritual sebagai fondasi, bukan sekadar simbol.

4. Kekuatan Kami: Jejak Nyata Sejak 2010

Mendistribusi pangan & santunan di 19 desa


Membangun 4 pusat pelatihan spiritual & kemandirian


Mewakafkan kembali 11 aset tidur milik masyarakat


Membangun jaringan spiritual-ekonomi dari Malang hingga Gresik


5. Peluang Bagi Investor Sosial

Bersama kami, Anda tidak hanya berinvestasi materi,
Anda menanamkan nilai yang panjang umur dan abadi.

Skema Kolaborasi:

Wakaf modal (tanah/bangunan)


Investasi sosial berdampak (impact investment)


Kontribusi CSR perusahaan


Kemitraan spiritual-ekonomi


Keuntungan yang kami janjikan:

Pahala jariyah (amal berkelanjutan)


Dampak sosial yang terukur


Reputasi kebaikan yang menular


6. Ayo Bergabung Membangun Peradaban Wakaf Produktif

Mari kita ubah paradigma:
Dari spiritualitas pasif menuju kekuatan yang produktif.
Dari wakaf simbolik menuju wakaf strategis.
Dari krisis sosial menuju masyarakat tangguh dan mandiri.


Hormat kami,
H. Raden Muhammad Udin Masrur
Pembina Utama Tharekat Semar Jum’at Kliwon
Pendiri Silat Getar Jagad & Inisiator Wakaf Produktif


Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...