Langsung ke konten utama

Perspektif Laduni dan Tasawuf Modern

Perspektif Laduni dan Tasawuf Modern

Gus Masrur sering menekankan bahwa hakikat ilmu Laduni bukanlah keajaiban atau karamah, melainkan “makrifat akan posisi kita sebagai makhluk yang hina namun dimuliakan oleh kasih sayang Alloh.” Ketika seseorang bertanya “Alloh kurang memberi apa kepada kita?”, itu adalah bentuk kesadaran Laduni bahwa semua organ jasmani dan batin—hidung, otak, hati, lidah, bahkan pengalaman duka dan bahagia—adalah instrumen untuk ma’rifat, bukan sekadar alat hidup duniawi.

“Hati itu pintu surga. Tapi kalau hati hanya sibuk menghitung pahala dan bukan mencari Ridha, maka surga pun jadi berhala.” – Gus Nggedabrus

Filsafat Ketauhidan dan Pembebasan Spiritual

Dalam filsafat ketauhidan yang diajarkan Gus Masrur, segala bentuk keinginan yang bersyarat—seperti pahala, surga, atau balasan duniawi—adalah bentuk halus dari penyembahan terhadap imbalan, bukan kepada Alloh itu sendiri. Ini disebut dalam konsep Tauhid Nafsiyah, di mana ego manusia menyamar dalam bentuk religius.

Kita bukan tidak diberi, tapi kita menuhankan apa yang kita inginkan, bukan mengabdi pada apa yang dikehendaki-Nya.

Kesejatian Hakikat Diri dalam Pandangan Metafisika Gus Masrur

Gus Masrur memandang bahwa manusia tidak hanya terdiri dari jasad dan akal, tetapi juga ruhani dan sirr (rahasia ilahiah). Ketika seseorang “malas memberi kesejatian hakikat dirinya,” itu berarti ia enggan membersihkan sirr-nya dari kabut duniawi—nafsu, ego, dan obsesi imbalan.

Dalam sistem pembinaan mental-spiritual Gus Masrur, yang juga digunakan dalam bela diri Silat Getar Jagad, latihan bukan hanya fisik, tetapi juga peluluhan ego. Pencapaian tertinggi bukan kemenangan, tapi pemusnahan diri untuk melebur dalam kehendak Tuhan.

Kritik terhadap "Agama Transaksional"

Gus Nggedabrus sering menyindir fenomena umat yang beribadah seperti berdagang: “Sholat karena mau rezeki, puasa biar cepat kaya, sedekah karena minta jodoh.” Dalam bahasa satirnya:

“Kita ini kadang bukan mencintai Tuhan, tapi mengincar hadiah-Nya. Maka yang kita puja bukan Tuhan, tapi tukang hadiah.”

Ini adalah kritik terhadap mentalitas “agama transaksional” yang menjadikan pahala dan surga sebagai tuhan pengganti.

Kesimpulan dalam Kerangka Pendidikan Spiritual dan Bela Diri

Dalam ajaran Gus Masrur:

Kesadaran total atas pemberian Allah adalah dasar spiritualitas sejati.

Pengabdian tanpa syarat adalah bentuk tertinggi dari ibadah.

Tujuan akhir bukan surga, tetapi Alloh sendiri.

Maka, seseorang baru bisa disebut “pejalan sejati” ketika ia tidak lagi sibuk meminta, tapi sibuk mengabdi; tidak lagi tergiur surga, tapi mabuk rindu pada Pemiliknya.

Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...