Langsung ke konten utama

Premanisme

Premanisme Bersenjata di Kemang: Krisis Keamanan dan Panggilan Ruhani Bangsa

Oleh: Gus Masrur Al Malangi

Tanggal 30 April 2025, langit Jakarta mendung bukan karena awan, tetapi oleh kabut kekerasan yang menyelimuti kawasan Kemang. Di sana, dua kelompok preman bersenjata laras panjang terlibat bentrokan terang-terangan di jalan umum. Ironis—karena semua terjadi tak jauh dari markas besar keamanan negeri ini. Yang lebih tragis, peristiwa itu menjadi cermin: bahwa keamanan ruang publik kita sedang koma.

Sebagai pembina tasawuf modern dan pengamal pertahanan berbasis spiritual, saya tidak melihat ini sekadar sebagai urusan aparat. Ini adalah urusan hati, urusan ruhani, urusan umat yang kehilangan arah batin.


Tasawuf Modern dan Krisis Keamanan

Dalam tasawuf modern, kekerasan bukan hanya soal pelaku, tapi tentang lingkungan batin yang membesarkannya. Preman bukan tumbuh dari ruang kosong. Mereka lahir dari masyarakat yang retak, dari ruang-ruang publik yang kehilangan nilai sakral.

Saya sering bilang:

"Negara boleh punya hukum, tapi rakyat butuh nurani. Tanpa itu, hukum hanya jadi aksesoris, dan ruang publik jadi arena rimba."

Dalam perspektif tasawuf, keamanan bukan sekadar aman dari kekerasan, tapi aman dalam rasa batin: tenteram, teduh, dan terjaga. Dan untuk itu, kita harus kembali pada tiga asas ruhani:

  1. Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Niat Kolektif
    Keamanan tidak lahir dari ketakutan, tapi dari kesadaran. Saat ruang publik kita dicemari dendam, rakus, dan ego kelompok, maka yang lahir adalah premanisme, bukan perdamaian.

  2. Futuwwah: Jiwa Kesatria Ruhani
    Seorang pendekar sejati tidak merusak, tapi menjaga. Preman bersenjata adalah manifestasi dari jiwa kosong yang ingin terlihat kuat. Dalam tasawuf, kekuatan hakiki justru adalah mengalahkan ego—bukan mengalahkan orang lain.

  3. Imamah Ruhaniyah: Kepemimpinan Jiwa
    Bangsa ini bukan kekurangan tokoh, tapi kelaparan teladan ruhani. Kita butuh imam batin: orang-orang yang bicara tentang nilai, bukan hanya strategi. Yang mengajarkan kasih, bukan sekadar kuasa.


Ruang Publik Bukan Arena Kekerasan

Premanisme bersenjata di Kemang harus jadi peringatan. Jika jalan-jalan kita sudah menjadi “pasar kekerasan,” maka doa-doa kita harus lebih kencang. Zikir kita harus lebih dalam. Dan tindakan kita harus lebih terang.

Kita tidak bisa lagi menyerahkan sepenuhnya soal keamanan kepada senjata dan sirine. Kita butuh jihad ruhani untuk menghidupkan ruang publik dengan cinta, ilmu, dan keteladanan.

Sebagaimana saya sampaikan kepada murid-murid Silat Getar Jagad:

"Tanganmu boleh belajar menangkis, tapi jiwamu harus belajar memaafkan. Itulah silat yang sejati."


Penutup: Keamanan adalah Cermin Ruhani Bangsa

Mari kita belajar dari tragedi Kemang. Bahwa ketika ruhani bangsa ini keropos, maka jalan pun bisa jadi medan perang. Saatnya para guru, tokoh, pendekar, dan pemimpin ruhani turun tangan—bukan untuk mengutuk gelap, tapi menyalakan pelita.

Ruang publik adalah amanah. Ia bukan milik kelompok, tapi milik Tuhan yang dititipkan pada umat manusia. Maka siapa pun yang mencederainya, sedang merusak amanah Ilahi.

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjaga, menata, dan menyucikan kembali ruang-ruang publik—dengan doa, dengan kasih, dan dengan keberanian ruhani.

Wallohu a'lam bis shawab.




> Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Seluruh tulisan ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta. Dilarang menyalin, menggandakan, menyebarluaskan, atau mempublikasikan ulang sebagian atau seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...