Langsung ke konten utama

Realitas Sebagai Aktor dan Daya Tembus Kesadaran Multifaset

Realitas Sebagai Aktor dan Daya Tembus Kesadaran Multifaset

Oleh: Saya (Gus Nggedabrus / Gus Masrur Al Malangi)

Sejarah tidak pernah diam. Ia tidak pernah netral. Bahkan lebih jauh lagi, ia bukan sekadar alur waktu atau kronik fakta-fakta, melainkan aktor yang hidup, bergerak, dan berakting. Ia menatap kita diam-diam lewat kejadian, menampilkan rias wajahnya melalui berita, pidato, pernyataan, bahkan bisik-bisik kampung halaman. Maka siapa pun yang berusaha membaca sejarah tanpa kesadaran ganda—mata rangkap—akan menjadi korban dari sandiwara realitas itu sendiri.

Dalam kacamata saya yang lahir dari perjumpaan antara metafisika, pertahanan, spiritualitas, dan intelijen, sejarah bukanlah teks mati. Ia adalah perangkat lunak kenyataan—sebuah software sosial-budaya yang tidak pernah bisa dipahami hanya dari antarmuka (interface) permukaan. Ia menyimpan sistem operasi batiniah yang bekerja dalam sunyi: bias, motif, propaganda, dan hasrat kekuasaan. Di sinilah tugas ilmu pengetahuan menjadi sangat berat: bukan untuk mencatat, tetapi untuk menangkap getar-getar dalam diam, memahami pola-pola dalam kekacauan.

Maka dari itu, pendekatan saya terhadap sejarah bukanlah linear. Saya tidak hanya memandangnya sebagai hasil dari dialektika politik atau ekonomi, melainkan juga sebagai ruang resonansi spiritual dan psikologis. Setiap peristiwa sejarah, sekecil apa pun, memiliki spektrum makna: dari yang kasat mata hingga yang laten. Dan sejarah itu tidak datang membawa kebenaran utuh. Ia datang dalam serpih, potongan, dan kadang penuh tipu daya. Kita memerlukan batin yang jernih dan akal yang terlatih untuk mencandra realitas dengan mata ketiga: mata spiritual yang mampu menembus tirai-tirai representasi.

Kita hidup dalam apa yang disebut orang sebagai era informasi. Tapi menurut saya, yang kita hadapi bukan sekadar banjir informasi. Kita sedang berada dalam pusaran inflasi makna. Di mana volume informasi bertambah, tetapi daya cerna dan kepekaan nurani justru menyusut. Dalam ruang ini, manusia-manusia yang tidak memiliki kesadaran integratif akan menjadi mangsa empuk dari rekayasa persepsi dan manipulasi narasi.

Sebagai orang yang menekuni spiritualitas tasawuf, parapsikologi, pertahanan, dan epistemologi kritis, saya memahami bahwa persoalan utama bukan pada perangkat informasi—melainkan pada kesiapan jiwa manusia dalam mengelola informasi itu. Bahkan dalam konflik antarwarga desa pun, kita sering keliru dalam menghakimi siapa yang benar dan siapa yang bersalah. Bagaimana mungkin kita akan adil dalam menilai peta global? Ketika informasi tentang dunia datang dalam format yang sudah direka bentuk sedemikian rupa?

Bahkan dalam isu-isu yang menyentuh hak asasi, konflik agraria, atau kebijakan pertahanan nasional, kita kerap kali tidak menyadari bahwa kita sedang ditonton oleh aktor-aktor besar yang menyusun narasi di balik layar. Maka dari itu, saya selalu menekankan pentingnya latihan spiritual dan pembacaan non-linear dalam membentuk pemahaman terhadap realitas. Sebab realitas bukan hanya teks—ia juga sandiwara. Dan kita semua terlibat di dalamnya, sebagai pemain sekaligus penonton.

Oleh karena itu, saya menyerukan pentingnya membentuk pribadi-pribadi yang sanggup menyatukan tiga kekuatan: kekuatan logika, kekuatan jiwa, dan kekuatan batin. Inilah fondasi dari ketahanan sejati, baik dalam konteks individu, masyarakat, maupun bangsa. Ketahanan bukan hanya soal senjata, tetapi juga tentang kejelian membaca medan peristiwa, ketenangan menyikapi turbulensi, dan kebijaksanaan dalam mengurai makna-makna tersembunyi di balik layar sejarah.

Dan sungguh, jika kita gagal membangun kesadaran ini, maka kita hanya akan menjadi figuran dalam sejarah yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan besar. Kita menjadi orang-orang yang “mengutuk” yang sebenarnya harus didukung, dan “memuji” yang semestinya dikritik. Itulah tragedi informasi tanpa kesadaran.

Saya menulis ini bukan untuk menggugat siapa-siapa. Saya menulis sebagai catatan ziarah batin saya—dari ladang sejarah, dari sunyi pesantren, dari lapangan bela diri, dari ruang pendidkan, dari operasi senyap, dan dari pergumulan panjang dalam lorong-lorong metafisika. Realitas adalah aktor. Dan saya memilih menjadi penonton yang tidak tidur.



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...