Langsung ke konten utama

Sejarah Tak Pernah Mati, Ia Hanya Memilih Siapa yang Mau Jujur

Judul: Sejarah Tak Pernah Mati, Ia Hanya Menanti Kejujuran

“Sejarah bukan untuk disucikan, bukan pula untuk disembunyikan. Ia harus diungkap dengan jujur, dibaca dengan hati, dan ditafsir dengan akal merdeka.”


Sejarah sebagai Energi Kolektif Bangsa

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah jejak energi kolektif bangsa yang bergerak melalui niat, perbuatan, dan akibat. Dalam perspektif keilmuan yang berpadu dengan kebijaksanaan batin, menulis sejarah adalah kerja menyusun kembali simpul-simpul makna. Maka, siapa pun yang menulisnya harus terlebih dulu membersihkan lensa batinnya dari kabut kepentingan.

Jika sejarah hanya ditulis untuk membenarkan masa kini, maka ia kehilangan wataknya sebagai guru. Sejarah bukan untuk disusun sesuai pesanan, melainkan digali dengan integritas.

Menulis Ulang: Hak Bangsa, Bukan Alat Kekuasaan

Menulis ulang sejarah bukan kesalahan. Justru dalam ilmu, tafsir ulang adalah pertanda tumbuhnya kesadaran. Namun, garis pembeda antara meluruskan dan memanipulasi sangatlah tipis. Meluruskan adalah usaha pencarian kebenaran. Memanipulasi adalah pengkhianatan terhadap memori bangsa.

Kebenaran dalam sejarah tidak selalu manis. Namun yang pahit pun harus ditelan agar bangsa tak terus diracuni oleh kepalsuan.

“Kebenaran yang disembunyikan akan kembali dalam bentuk ketidakpercayaan.”

Luka yang Diakui adalah Luka yang Disembuhkan

Sejarah memuat banyak luka: kekerasan, ketidakadilan, penghilangan, pengkhianatan. Namun menghapusnya dari buku bukanlah penyembuhan. Luka yang dihapus akan menjelma menjadi bisu kolektif yang membatu. Justru dengan mengakui, bangsa belajar untuk tidak mengulang.

Bangsa yang matang bukan yang bersih dari dosa sejarah, tapi yang sanggup bertanggung jawab atasnya.

Ruang Terbuka dan Partisipasi Adalah Kunci

Sejarah tidak boleh ditulis di balik pintu tertutup. Ia harus ditulis dengan partisipasi banyak pihak: bukan hanya dari pusat, tapi juga dari daerah; bukan hanya dari akademisi, tapi juga dari pelaku sejarah kecil yang selama ini dibungkam oleh halaman kosong.

“Buku sejarah yang hanya ditulis dari atas menara akan buta pada air mata rakyat kecil.”

Transparansi dan ruang kritik harus dijamin. Jika sejarah yang baru memang bertujuan menghidupkan kembali ingatan yang benar, maka tak perlu takut pada sanggahan, catatan kaki, dan koreksi publik.

Penutup

Menulis ulang sejarah adalah tugas suci yang tak boleh dikerjakan dengan tangan kotor. Ia adalah ruang sakral kebangsaan yang menuntut kejujuran lahir-batin. Jika bangsa ini ingin maju, maka ia harus berdamai dengan masa lalunya, bukan memolesnya untuk kenyamanan semu.

“Sejarah yang jujur tidak selalu menyenangkan, tapi ia adalah syarat untuk membangun masa depan yang bermartabat.”



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...