Langsung ke konten utama

Telaah Teknologi Fireksik dan Etika Keilmuan

Makalah Ilmiah

"Membaca Nur dalam Arsip Digital: Telaah Teknologi Fireksik dan Etika Keilmuan dalam Bingkai Tasawuf Modern"

Penulis:
Gus Masrur Al Malangi (Muhammad Udin Masrur)
Pengasuh Thariqah Semar Jum’at Kliwon, Guru Besar Tasawuf dan Pertahanan


Abstrak

Perkembangan teknologi digital membawa implikasi luas dalam ranah verifikasi dokumen, termasuk dalam mendeteksi kemungkinan pemalsuan. Salah satu pendekatan mutakhir yang dikembangkan oleh Dr. Simon Sianipar, yaitu fireksik digital, menyodorkan cara kerja analitis berbasis forensik metadata untuk membongkar kejanggalan dokumen elektronik. Namun, ketika sains dan dokumen bersinggungan dengan kekuasaan, muncul kebutuhan untuk menghadirkan satu dimensi tambahan: etika keilmuan dan kebijaksanaan spiritual. Dalam makalah ini, penulis meninjau fireksik dari sisi ilmiah dan mencerminkannya dalam nilai-nilai tasawuf, sebagai jembatan antara teknologi dan kesadaran hakiki. Tasawuf modern menawarkan lensa yang jernih untuk membaca niat, kebenaran, dan kejujuran yang sering kali terkubur dalam dokumen duniawi.


Pendahuluan

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan semangat pembuktian ilmiah, muncul satu dilema abadi: apakah kebenaran teknis dapat berjalan selaras dengan kejujuran moral? Kasus analisis ijazah tokoh publik melalui teknologi fireksik membuka wacana kritis: bukan hanya soal otentik atau palsu, tetapi juga soal makna sebuah pengakuan dalam masyarakat modern.

Tasawuf memandang bahwa semua yang lahir dari dunia adalah semu, kecuali yang dilandasi niat suci dan keberanian menyuarakan kebenaran. Maka, pendekatan sains forensik harus ditopang oleh kebeningan batin dan keberanian etik, agar tidak menjadi alat kekuasaan yang membungkam nurani.


Landasan Teori: Teknologi Fireksik dan Prinsip Ilmiah

1. Fireksik Digital sebagai Alat Forensik Modern
Fireksik (Forensik Digital Otentik) bekerja dengan menganalisis keaslian dokumen melalui:

  • Struktur metadata file,
  • Anomali visual dalam raster/pixel dokumen,
  • Ketidaksesuaian historis (tanggal, tanda tangan, simbol),
  • Komparasi arsip institusi pendidikan dan dokumen publik.

2. Prinsip Ilmiah yang Mengiringinya:

  • Verifiabilitas: dapat diuji ulang oleh siapa pun yang netral,
  • Replikasi: metode dapat diikuti dan hasil serupa diperoleh,
  • Objektivitas: terbebas dari bias politik atau fanatisme.

Namun, di sinilah muncul jurang: ketika hasil ilmiah bertentangan dengan struktur kekuasaan, sering kali yang dikorbankan adalah integritas ilmu itu sendiri.


Tasawuf Modern: Menghadirkan Dimensi Ketiga

1. Ilmu Lahir dan Ilmu Batin
Tasawuf mengakui dua jenis ilmu:

  • Ilm al-ashar (ilmu lahir),
  • Ilm al-asrar (ilmu rahasia/hakikat).

Maka, meski sebuah dokumen terlihat sah secara fisik, pertanyaan batin tetap menyapa:
"Apakah engkau memang menuntut ilmu, atau sekadar menuntut gelar?"

2. Kejujuran sebagai Ijazah Langit
Sufi tidak mengejar pengakuan institusi, tapi pengakuan langit. Dalam falsafah tasawuf:

"Ijazah paling mulia bukan yang dicetak oleh kampus, tapi yang ditulis oleh kebenaran dalam akhlak manusia."


Diskusi: Antara Kebenaran Forensik dan Keheningan Spiritualitas

Fireksik mungkin bisa membuktikan bahwa sebuah dokumen mengandung ketidakwajaran. Tapi ia tidak bisa membuktikan niat di baliknya. Di sinilah pentingnya penggabungan antara:

  • Etika ilmiah,
  • Kejernihan tasawuf,
  • Keberanian sosial.

Dalam banyak kasus publik, kebenaran tidak kalah oleh bukti, melainkan dikalahkan oleh kebisingan politik dan loyalitas semu.


Penutup: Kembali ke Nurani Ilmu

Ijazah bisa dipalsukan. Gelar bisa direkayasa. Tapi integritas dan keberanian akademik tidak bisa dicetak ulang. Dalam kerangka tasawuf modern, teknologi seperti fireksik haruslah menjadi khadim al-haqq—pelayan kebenaran, bukan budak kekuasaan.

“Lebih baik tak dikenal dunia, asal dikenal langit karena kejujuran.”
– Gus Masrur Al Malangi


Daftar Pustaka

  1. Sianipar, Simon. (2024). Fireksik Digital: Pendekatan Forensik Dokumen Elektronik. Jakarta: Pustaka Forensika.
  2. Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the Sacred. State University of New York Press.
  3. Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin.
  4. Al-Attas, S.M.N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
  5. Masrur, M. U. (2023). Tasawuf Modern dan Pertahanan Jiwa Bangsa. Malang: Pustaka Al-Malangi.



> Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.


Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Seluruh tulisan ini dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta. Dilarang menyalin, menggandakan, menyebarluaskan, atau mempublikasikan ulang sebagian atau seluruh isi tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis. Pelanggaran terhadap hak cipta akan dikenai sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...