Langsung ke konten utama

Anti Peluru Itu Bukan Tentang Kebal, Tapi Tentang Mengerti Irama Waktu

Anti Peluru Itu Bukan Tentang Kebal, Tapi Tentang Mengerti Irama Waktu

“Yang paham waktu, tak perlu menantang senjata.
Karena waktu bisa ia pelankan, bahkan hentikan — kalau Tuhan mengizinkan.”

Dulu orang menyebut saya kebal.
Kata mereka: anti peluru, anti bacok, anti senjata tajam.
Padahal kalau saya cerita sejujurnya,
semuanya itu bukan ilmu hitam. Bukan jimat.
Tapi pemahaman akan ritme semesta.

“Fisik bisa dilukai. Tapi waktu bisa diatur. Dan itu bukan kehebatan, tapi pelajaran panjang dalam kesadaran.”

Saya belajar, bahwa seperti cakram yang bisa diperlambat, peluru pun bisa terasa seperti bergerak lambat — jika kita tahu cara memperlambat persepsi waktu.

Ini bukan sulap.
Tapi olah napas.
Olah batin.
Dan terutama: olah kesadaran.

Kebal Itu Bukan Ilmu, Tapi Kepekaan

Saya tidak pernah mengejar ilmu kebal.
Tapi saya mengejar pemahaman tentang irama hidup.
Ketika hati tenang, napas terjaga, dan pikiran tidak terburu nafsu — maka tubuh bisa menangkap banyak hal yang biasanya luput.

Seperti seekor kucing yang bisa menghindari peluru, karena ia tak pakai logika.
Hanya kepekaan.

Begitu juga manusia.
Saat logika dilampaui dan intuisi diasah, maka waktu terasa elastis.
Dan peluru kehilangan kekuatan.

“Yang disebut kebal bukan tak bisa ditembus.
Tapi tak memberi celah waktu untuk ditembus.”

Saya Tidak Hebat, Saya Hanya Diajari

Saya tidak pernah meminta jadi anti senjata.
Tapi saya pernah berkata pada Tuhan:

“Ya Alloh, berilah aku satu kelebihan… yang tak Engkau beri pada kebanyakan orang.”

Dan saat diberi, saya tak bersorak.
Saya gemetar.
Karena itu bukan trofi.
Itu amanah.

Saya bisa saja ditembak.
Tapi hanya jika Tuhan mengizinkan.
Bukan karena saya kuat. Tapi karena saya sedang dititipkan waktu yang lentur.

Penutup

Saya malu disebut sakti.
Karena sakti itu bukan tentang tubuh yang kebal,
tapi tentang hati yang tidak ingin dilukai dan tidak ingin melukai.

“Anti peluru bukan karena tubuh kuat,
tapi karena hati tak menaruh dendam,
dan pikiran tak menyimpan takut.”

Kalau saya tidak kena peluru,
bukan karena saya hebat, tapi karena peluru itu tahu:
Tuhan belum menyuruhnya bekerja.



#CatatanNggedabrus #AntiPeluru #IlmuRitmeWaktu #BukanKebalTapiTunduk #KesadaranAdalahPerisai


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...