"Belajar dari Leluhur: Bukan Tentang Kuno, Tapi Tentang Akar"
> “Yang disebut leluhur bukan hanya orang mati, tapi cahaya yang belum padam.
Karena ada jiwa-jiwa yang jasadnya dikubur, tapi ilmunya terus menyuburkan.”
Saya tidak menyembah leluhur.
Tapi saya juga tidak buta akan asal-usul.
Karena siapa yang memutus akar, akan tumbang ketika angin ujian datang.
Saya pernah ditanya:
> “Ngapain belajar dari orang-orang dulu? Mereka hidup di zaman yang berbeda.”
Lalu saya jawab:
“Mereka mungkin hidup di masa lalu. Tapi kebijaksanaannya tidak pernah usang.”
Leluhur Itu Akar, Kita Itu Cabang
Pohon yang besar tidak sombong karena tinggi. Ia tahu, yang menahannya tetap berdiri adalah akar di bawah tanah.
Begitu juga manusia.
Semakin tinggi kita terbang, semakin dalam seharusnya kita menghormat ke tanah asal.
Saya tidak malu menyebut nama Mbah saya, Guru saya, dan para orang tua yang membentuk cara saya berdiri hari ini.
Karena mereka bukan beban, mereka adalah alas tempat saya berpijak.
Jejak Mereka Bukan Untuk Diikuti Buta, Tapi Dibaca Dengan Cinta
Saya tidak meniru cara bicara mereka.
Saya tidak meniru pakaian mereka.
Tapi saya meniru keteguhan hati mereka.
Bagaimana Mbah Hamid menjaga rahasia dalam senyap.
Bagaimana Mbah Bedjo mendidik bukan dengan bentak, tapi dengan laku.
Bagaimana guru-guru saya mengajarkan bahwa kesaktian sejati itu tidak membuatmu merasa lebih, tapi membuatmu merasa harus menjaga lebih banyak.
Modern Boleh. Tapi Jangan Sampai Kita Jadi Lupa Diri
Saya hidup di zaman teknologi.
Saya bisa mengakses dunia lewat satu sentuhan.
Tapi saya juga tahu, koneksi dengan Tuhan dan leluhur tidak ada aplikasinya.
Itu hanya bisa didapat dari hati yang jujur dan laku yang tidak pamer.
> “Kalau dulu mereka bertapa di gua, sekarang kita bisa bertapa di tengah bising—asal batin kita diam.”
Warisan Mereka Bukan Rumah atau Tanah. Tapi Nilai Hidup
Saya tidak mewarisi istana.
Tapi saya diwarisi cara berjalan yang tidak menyakiti bumi.
Saya diwarisi cara bicara yang tidak merendahkan sesama.
Saya diwarisi doa-doa diam yang sampai pada waktu-waktu genting tanpa perlu diumumkan.
> "Yang diwariskan leluhur bukan pakaian adat, tapi pakaian sikap."
Dan saya mencoba memakainya setiap hari.
Penutup
Leluhur itu bukan kuno.
Tapi jembatan antara jiwa kita hari ini dengan langit yang masih sabar menunggu kita pulang.
> “Kalau kita tidak tahu siapa kita, maka kita mudah digiring menjadi apa pun.”
Dan saya memilih tetap menjadi manusia yang tahu dari mana saya tumbuh.
Saya tidak muluk-muluk ingin jadi pewaris kejayaan.
Cukup jadi penjaga akar.
Agar yang datang setelah saya, tidak tumbuh dalam kekosongan jiwa.
#CatatanNggedabrus #LeluhurDanAkar #WarisanJiwa #SpiritualitasJawa #TasawufTanpaBatas
---
Komentar
Posting Komentar