Berjalan dengan Luka, Tapi Tidak Membalas dengan Sakit
“Luka bisa diwariskan.
Tapi tidak semua luka harus dibayar dengan luka yang sama.”
Setiap manusia membawa lukanya sendiri.
Ada yang luka karena dikhianati,
ada yang karena dibohongi,
ada pula yang karena terlalu jujur dalam dunia yang penuh topeng.
Namun, tidak semua luka harus dibalas.
Ada luka yang justru jadi pintu untuk mengenal diri lebih dalam.
Ada luka yang membuat batin tumbuh, bukan malah runtuh.
“Luka adalah guru paling jujur.
Ia tidak bicara, tapi mengubah caramu melihat dunia.”
Menyembuhkan Diri Tanpa Melukai Orang Lain
Pernah memilih diam saat dituduh.
Pernah menunduk saat difitnah.
Karena sadar, melawan dengan cara yang sama hanya akan memperpanjang kesakitan.
Bukan tidak bisa membalas.
Tapi terlalu banyak orang baik yang akan ikut terluka jika balas dendam menjadi jalan.
Lebih baik menepi,
menyembuhkan diri,
dan kembali hadir saat dunia butuh pelipur, bukan pemukul.
“Menyembuhkan itu butuh kekuatan yang lebih besar dari membalas.”
Luka yang Dijadikan Jalan Pulang
Luka itu bisa jadi pintu,
bisa juga jadi jurang—tergantung siapa yang menuntun.
Jika dituntun oleh amarah, luka akan membakar sekelilingnya.
Tapi jika dituntun oleh kasih, luka justru jadi mata air yang menyembuhkan yang lain.
Ada orang yang lukanya menjadi terang bagi yang lain.
Ada pula yang menyembunyikannya dalam doa,
dan membiarkan Tuhan yang mengobati dengan waktu dan kejernihan batin.
“Jangan malu dengan luka.
Tapi jangan jadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti.”
Penutup
Tidak semua luka harus diperlihatkan.
Cukup ditata rapi dalam jiwa, agar tak jadi beban bagi yang lain.
Cukup jadi pengingat bahwa pernah jatuh, tapi tak pernah kehilangan arah pulang.
“Berjalan dengan luka…
asal tidak menularkan sakitnya,
itu bentuk tertinggi dari kematangan jiwa.”
#CatatanNggedabrus
#LukaTanpaDendam
#SufiJalanSunyi
#RenunganJiwa
#KekuatanDiam
Komentar
Posting Komentar