Langsung ke konten utama

Berjalan dengan Luka, Tapi Tidak Membalas dengan Sakit

Berjalan dengan Luka, Tapi Tidak Membalas dengan Sakit

“Luka bisa diwariskan.
Tapi tidak semua luka harus dibayar dengan luka yang sama.”

Setiap manusia membawa lukanya sendiri.
Ada yang luka karena dikhianati,
ada yang karena dibohongi,
ada pula yang karena terlalu jujur dalam dunia yang penuh topeng.

Namun, tidak semua luka harus dibalas.
Ada luka yang justru jadi pintu untuk mengenal diri lebih dalam.
Ada luka yang membuat batin tumbuh, bukan malah runtuh.

“Luka adalah guru paling jujur.
Ia tidak bicara, tapi mengubah caramu melihat dunia.”

Menyembuhkan Diri Tanpa Melukai Orang Lain

Pernah memilih diam saat dituduh.
Pernah menunduk saat difitnah.
Karena sadar, melawan dengan cara yang sama hanya akan memperpanjang kesakitan.

Bukan tidak bisa membalas.
Tapi terlalu banyak orang baik yang akan ikut terluka jika balas dendam menjadi jalan.

Lebih baik menepi,
menyembuhkan diri,
dan kembali hadir saat dunia butuh pelipur, bukan pemukul.

“Menyembuhkan itu butuh kekuatan yang lebih besar dari membalas.”

Luka yang Dijadikan Jalan Pulang

Luka itu bisa jadi pintu,
bisa juga jadi jurang—tergantung siapa yang menuntun.

Jika dituntun oleh amarah, luka akan membakar sekelilingnya.
Tapi jika dituntun oleh kasih, luka justru jadi mata air yang menyembuhkan yang lain.

Ada orang yang lukanya menjadi terang bagi yang lain.
Ada pula yang menyembunyikannya dalam doa,
dan membiarkan Tuhan yang mengobati dengan waktu dan kejernihan batin.

“Jangan malu dengan luka.
Tapi jangan jadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti.”

Penutup

Tidak semua luka harus diperlihatkan.
Cukup ditata rapi dalam jiwa, agar tak jadi beban bagi yang lain.
Cukup jadi pengingat bahwa pernah jatuh, tapi tak pernah kehilangan arah pulang.

“Berjalan dengan luka…
asal tidak menularkan sakitnya,
itu bentuk tertinggi dari kematangan jiwa.”


#CatatanNggedabrus
#LukaTanpaDendam
#SufiJalanSunyi
#RenunganJiwa
#KekuatanDiam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...