"Bertarung Tanpa Musuh, Menang Tanpa Luka"
> "Ilmu sejati bukan untuk menaklukkan orang lain, tapi untuk menaklukkan diri sendiri."
Dan pertarungan paling panjang adalah melawan ego yang menyamar jadi kebenaran.
Saya belajar silat bukan untuk mencari lawan. Tapi untuk mengenali diri yang paling liar.
Karena dalam tubuh ini, ada dua kekuatan yang terus berkelahi:
nafsu untuk menang dan jiwa untuk pulang.
Silat Getar Jagad lahir bukan dari jurus, tapi dari rasa.
Bukan sekadar gerakan tangan dan kaki, tapi gelombang kesadaran yang bertujuan menyatukan tubuh, niat, dan getaran semesta.
Silat Itu Bukan Tentang Mengalahkan, Tapi Mengenali
Dulu, saya pikir ilmu bela diri itu soal kekuatan otot.
Ternyata bukan. Yang paling kuat adalah yang bisa menahan diri saat punya kesempatan membalas.
Yang paling sakti bukan yang bisa menjatuhkan, tapi yang bisa memaafkan tanpa merasa lemah.
Silat yang sejati tidak butuh penonton.
Tidak butuh medali. Tidak pula haus pembuktian.
Karena lawannya bukan orang lain—tapi dirinya sendiri yang belum selesai.
Getar Itu Rasa, Jagad Itu Medan Jiwa
"Getar Jagad" bukan hanya nama perguruan. Ia adalah filosofi.
Bahwa tubuh ini punya getar—getar dzikir, getar niat, getar takdir.
> “Getar adalah bahasa semesta. Dan hanya jiwa yang hening yang bisa mendengarnya.”
Jagad adalah tempat kita hidup, tapi juga cermin dari isi batin.
Kalau batin kita gaduh, maka dunia jadi medan perang.
Kalau batin kita damai, maka musuh pun bisa jadi guru.
Menang Tanpa Luka, Kalah Tanpa Malu
Saya tidak mencari kemenangan. Saya mencari makna dari setiap langkah.
Karena kadang, menang justru membuat kita sombong.
Dan kalah membuat kita lebih sadar bahwa kekuatan sejati itu ada di tangan Tuhan.
Saya ingin mengajak panjenengan semua:
Jika belajar bela diri, jangan hanya ingin bisa memukul.
Tapi belajarlah untuk menahan pukulan tanpa dendam.
Karena puncak tertinggi dari ilmu adalah ketenangan yang tak bisa dipancing oleh emosi.
Pertahanan Diri Adalah Laku Spiritual
Dalam Silat Getar Jagad, setiap gerak adalah doa.
Setiap napas adalah dzikir.
Setiap langkah adalah pilihan untuk menjaga, bukan menyerang.
Bela diri bukan tentang siapa lawan kita, tapi siapa yang kita lindungi.
Dan dalam hidup ini, kadang yang paling butuh dilindungi… adalah diri kita sendiri dari keburukan diri kita sendiri.
Penutup
Saya tidak akan mengajarkan panjenengan untuk menjadi jawara.
Tapi saya ingin kita sama-sama belajar menjadi penjaga jiwa—yang tahu kapan harus diam, dan tahu kapan harus bertindak.
> "Karena bertarung tanpa musuh adalah jalan sunyi para penjaga.
Dan menang tanpa luka adalah anugerah dari Tuhan yang disyukuri dalam keheningan."
#Catatannya #SilatGetarJagad #BelaDiriSpiritual #RenunganPejuang #PertahananJiwa
Komentar
Posting Komentar