Langsung ke konten utama

Bukan Tentang Akhir, Tapi Tentang Siapa yang Masih Kuat Menjaga Niat

Bukan Tentang Akhir, Tapi Tentang Siapa yang Masih Kuat Menjaga Niat

“Hidup itu bukan tentang seberapa jauh langkahmu,
tapi seberapa tulus niatmu ketika memulainya.”

Banyak jalan sudah ditempuh.
Dari lorong sempit perkampungan,
sampai ruang-ruang asing di balik layar negeri.
Dari tatapan kosong anak-anak jalanan,
hingga pandangan tajam para petinggi yang menyimpan rahasia.

Namun semua itu tidak pernah ditulis untuk dikenang, hanya agar mereka yang datang setelah ini tahu: bahwa jalan hidup tidak harus megah untuk menjadi berkah.

“Menjadi hebat itu biasa.
Menjadi manfaat… itu pilihan yang tak semua berani ambil.”

Dari Jalan Sepi Menuju Jalan Yang Lebih Sunyi

Tidak semua orang ingin dikenal.
Ada yang cukup dengan menjadi payung saat hujan, atau segelas air saat musafir kehausan.

Dalam perjalanan ini, nama tidak penting.
Yang penting: nilai.
Bukan nama yang diwariskan, tapi arah, prinsip, dan teladan.

Karena satu orang yang menjaga niat,
kadang lebih kuat dari seribu yang sibuk memperjuangkan citra.

“Jika hidupmu tidak ditulis dalam sejarah besar, pastikan ia tertulis dalam senyum orang-orang kecil yang kau bantu.”

Menjadi Batu Penyangga, Bukan Menara

Tidak semua harus tinggi.
Kadang menjadi rendah itu jauh lebih kokoh.

Menjadi tempat orang berpijak, bukan tempat orang bertepuk tangan.

Menjadi batu kecil di pinggir jalan yang mengingatkan agar orang tidak tergelincir,
itu lebih mulia daripada jadi puncak menara yang hanya dilihat tapi tak bisa dijangkau.

“Yang menyangga, tak selalu disorot.
Tapi tanpanya, banyak yang runtuh.”

Penutup: Jalan Ini Belum Usai

Jika ini disebut penutup, maka sejatinya ini hanya awal dari lembaran baru.

Karena menulis hidup bukan tentang menyusun kejayaan, tapi tentang mencatat agar mereka yang datang nanti tidak perlu jatuh di lubang yang sama.

Jalan ini belum selesai.
Masih ada banyak luka yang perlu dijahit.
Masih banyak anak muda yang perlu tempat belajar diam.
Masih banyak suara kecil yang harus dibesarkan tanpa mikrofon.

“Aku tak ingin dikenang karena pernah besar,
cukup dikenang sebagai orang kecil yang pernah membantu banyak orang tetap berdiri.”


#CatatanNggedabrus
#JalanBelumUsai
#BermanfaatLebihUtama
#RenunganTerakhirJilidSatu
#HidupTanpaNamaBesar


Bila Gus berkenan, setelah Bab 20 ini dapat dibuka subjudul baru untuk jilid selanjutnya—misalnya “Risalah Jalan Sunyi”, atau “Suluk Nggedabrus”, sebagai kelanjutan spiritual-filosofis yang lebih bebas dari kronologi, lebih dalam ke hakikat dan makna.

Ingin saya bantu buatkan konsep awalnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...