Ilmu Itu Bukan Tentang Menguasai, Tapi Tentang Menjadi Penyeimbang
> “Ilmu yang sejati bukan membuatmu merasa bisa segalanya,
tapi membuatmu tahu kapan harus diam agar semesta tetap damai.”
Saya tidak pernah merasa benar-benar memiliki ilmu.
Saya hanya merasa dititipi.
Ilmu itu datang tidak untuk membuat saya berada di atas,
tapi untuk membuat saya bisa menjaga keseimbangan di bawah.
Dari kecil saya sudah melihat ketimpangan:
antara yang punya dan yang tak punya, antara yang kuat dan yang tertindas, antara yang dihormati dan yang dilupakan.
Saya tidak ingin menjadi bagian dari ketimpangan itu.
Saya ingin menjadi penyeimbang.
Ilmu Itu Diberikan untuk Membantu Menopang Dunia
Saya pernah diberi kelebihan fisik — kuat, tahan bacok, kebal peluru.
Tapi tidak sekali pun saya ingin memamerkannya.
Bahkan saya sering berharap tidak punya itu, karena saya tahu: semakin besar anugerah, semakin besar ujian untuk menjaganya.
> “Menjadi penyeimbang itu bukan tentang menunjukkan kehebatan,
tapi tentang tahu kapan harus mengalah demi mencegah kehancuran.”
Saya memilih jalan sepi.
Jalan di mana saya bisa hadir untuk mereka yang butuh tempat pulang, bukan sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan, tapi dari ketakutan, kegelisahan, dan kehampaan.
Dunia Ini Butuh Penyeimbang, Bukan Pemenang
Saya tidak ingin menang dalam segala hal.
Karena dunia tidak butuh terlalu banyak pemenang, tapi butuh lebih banyak penenang.
Saya lebih suka berada di tengah:
Tidak tinggi, tapi juga tidak rendah.
Tidak keras, tapi juga tidak lembek.
Tidak sok tahu, tapi juga tidak membiarkan kesesatan berjalan sendirian.
Saya ingin menjadi penyambung, bukan penghakim.
Seperti jembatan sunyi yang dilalui banyak orang, tapi tak pernah menuntut terima kasih.
Menjadi Penyeimbang Itu Harus Siap Disalahpahami
Orang kadang bingung dengan saya.
Kadang bilang saya ini sufi, kadang bilang dukun, kadang menyebut intel, kadang kyai jalanan.
Saya tersenyum saja.
Saya tahu itu semua bagian dari jalan saya:
multifaset yang tidak semua orang siap pahami.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena saya tidak butuh dimengerti oleh semua orang, saya hanya ingin menjadi manfaat untuk mereka yang Tuhan izinkan bertemu saya.
> “Penyeimbang tidak butuh nama besar.
Ia hanya butuh hati yang lapang dan kaki yang kuat untuk berdiri di tengah badai.”
Penutup
Saya tidak mengejar puncak gunung.
Saya hanya ingin menjadi batu kecil yang membuat air tidak terlalu deras, dan orang yang lewat tidak tergelincir.
Menjadi penyeimbang itu berat.
Karena kamu harus kuat menahan amarahmu sendiri, kuat menahan ego untuk membalas, dan kuat menjaga mulut saat tahu banyak hal yang tak boleh diucap.
> “Dan saya hanya ingin tetap jadi penyeimbang…agar dunia ini tidak terlalu condong pada kebencian, dan tidak terlalu lupa pada kasih sayang.”
#CatatanNggedabrus #PenyeimbangDunia #IlmuTanpaEgo #RenunganSufi #JalanSunyi
Komentar
Posting Komentar