Langsung ke konten utama

Ilmu Itu Tak Harus Berijazah, Tapi Harus Menjadi Jasad

"Ilmu Itu Tak Harus Berijazah, Tapi Harus Menjadi Jasad"


> "Banyak yang berilmu, tapi hanya sedikit yang menjelma menjadi ilmu itu sendiri."

Ilmu yang tidak membentuk perilaku, hanyalah hafalan yang terasing dari amal.




Saya pernah belajar dari orang yang tidak bisa baca-tulis, tapi hidupnya adalah kitab berjalan.

Saya juga pernah duduk bersama profesor, yang fasih dalam teori tapi goyah dalam sepi.

Dari keduanya saya tahu: ijazah itu penting untuk birokrasi, tapi tidak cukup untuk menjadi manusia sejati.


Ilmu yang sejati bukan yang dicetak di kertas, tapi yang terpatri di sikap.

Bukan yang dibanggakan di seminar, tapi yang menyala dalam kesabaran di rumah.


Ilmu Itu Harus Menjadi Jalan, Bukan Pajangan


Saya ingat, Mbah Bedjo pernah bilang:


> “Ilmu iku ora kanggo ngadeg-adeg, tapi kanggo madeg tumindak.”




Beliau tidak pernah memaksa muridnya menghafal, tapi memaksa kami menyerap nilai.

Bagaimana sabar itu bukan teori, tapi tahan saat dicaci.

Bagaimana tawadhu itu bukan tunduk di kamera, tapi diam saat difitnah.


Guru Tanpa Gelar, Murid Tanpa Pangkat


Saya belajar silat dari yang tak pernah ikut lomba.

Saya belajar spiritualitas dari yang tak tahu istilah "tasawuf akademik".


Tapi dari mereka saya tahu:


Ilmu tak harus didengar, tapi dirasakan.


Orang bodoh yang jujur lebih berkah daripada orang pintar yang licik.



Dan saya percaya:

Tuhan lebih menghargai orang jujur yang gagal, daripada orang licik yang berhasil.


 Ijazah Itu Legalitas. Tapi Jasad Itu Legitimasi.


Saya tidak menentang sekolah—saya sendiri kuliah sampai luar negeri.

Tapi saya tahu, bangsa ini tidak krisis gelar—yang krisis adalah teladan.


Banyak yang punya ilmu, tapi lupa menjadikannya tubuh.

Jasad yang bergerak melindungi, meneduhkan, menghidupi.


> "Jangan cuma tahu sabar, jadilah sabar.

Jangan hanya mengerti syukur, jadilah syukur yang berjalan di bumi."




Penutup 


Ilmu itu seperti air. Kalau hanya disimpan di gelas, ia akan basi.

Tapi jika mengalir, ia menyuburkan.


Kalau saya mati kelak, saya tidak ingin dikenang dari ijazah yang pernah saya dapat.

Tapi dari ilmu mana yang pernah saya hidupi.


> "Karena ilmu itu tidak lahir dari kertas,

tapi dari kesadaran bahwa hidup adalah ladang ujian."

Dan kita semua sedang menanam, entah disaksikan manusia atau tidak.




#CatatanNggedabrus #IlmuTanpaIjazah #HidupAdalahAmal #TasawufPraktis #RenunganHidup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...