Langsung ke konten utama

Kepemimpinan Ruhani Itu Bukan Tentang Di Depan, Tapi Tentang Siap Jadi Tempat Pulang

Kepemimpinan Ruhani Itu Bukan Tentang Berada di Depan, Tapi Tentang Siap Jadi Tempat Pulang

“Pemimpin ruhani bukan yang paling lantang bicara,
tapi yang paling tenang saat semua sedang goyah.”

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru, apalagi pemimpin.
Saya hanya berjalan.
Lalu tanpa saya sadari sejak kapan, jejak langkah saya mulai diikuti.
Bukan karena saya menunjuk arah,
tapi mungkin karena orang-orang itu sedang mencari jalan pulang.

Saya tidak pernah mengangkat tangan untuk dipilih.
Tapi kehidupan menaruh saya di tengah-tengah mereka yang sedang butuh penuntun.
Bukan penunjuk arah ke saya,
melainkan penunjuk arah ke dalam diri mereka sendiri.


Kepemimpinan Itu Bukan Memberi Perintah, Tapi Menjadi Cahaya Saat Semua Padam

Dulu saya kira, pemimpin itu harus keras suaranya, tegas perintahnya,
dan kuat menunjukkan jalan.

Ternyata tidak selalu.

Dalam dunia ruhani,
pemimpin bukan tentang siapa yang paling banyak diikuti,
tapi siapa yang paling siap menampung luka yang tak terlihat.

Bukan tentang menjadi yang terdepan,
tapi tentang bersedia menjadi yang paling akhir saat semua orang ingin pulang.

Pemimpin ruhani adalah ia yang tetap tenang saat semua gelisah,
yang diamnya bisa meredakan badai dalam jiwa orang lain.


Menjadi Tempat Pulang Itu Berat

Banyak orang ingin diikuti.
Tapi tidak semua siap menjadi tempat pulang.

Karena menjadi tempat pulang berarti bersedia menerima orang yang lelah,
yang marah, yang kecewa,
yang bahkan kadang datang hanya untuk melampiaskan luka.

Menjadi tempat pulang berarti tak mudah tersinggung,
tak sibuk mempertahankan ego,
dan tak mempersoalkan siapa yang benar atau salah.

Saya belajar dari para guru saya—
mereka tidak pernah menunjuk diri sebagai yang paling tahu.
Tapi justru karena itulah, banyak yang merasa nyaman mendekat.


Pemimpin Ruhani Itu Harus Tahan Tak Dianggap

Saya pernah didiamkan oleh murid sendiri.
Pernah dicibir orang yang dulu belajar kepada saya.
Pernah dianggap tak lagi relevan oleh yang dulu mencatat setiap kata saya.

Dan saya diam.

Karena seorang pemimpin ruhani harus siap dihilangkan dari cerita orang
tanpa menyimpan dendam.

Ia harus tahu kapan bicara,
dan lebih tahu kapan harus menepi.


Yang Ruhani Tidak Selalu Terlihat, Tapi Terasa

Saya tidak punya banyak pengikut.
Tidak punya organisasi besar.
Tidak punya panggung-panggung resmi.

Tapi saya tahu,
kadang satu langkah diam bisa menggugah ratusan jiwa.
Kadang satu kalimat hening bisa menyembuhkan luka yang tak kelihatan.

Saya tidak ingin menguasai orang.
Saya hanya ingin menjadi cahaya kecil—
yang meski tidak mampu menerangi semua,
setidaknya bisa membantu satu jiwa menemukan jalan pulang.


Penutup

Saya tidak meminta untuk dipanggil guru, mursyid, apalagi wali.
Cukup panggil saya sahabat seperjalanan,
yang kalaupun tidak bisa menyembuhkan,
setidaknya bisa mendengarkan tanpa menghakimi.

Dan bila kelak saya tak lagi bisa bicara,
semoga diam saya masih bisa menjadi tempat pulang bagi jiwa yang lelah.

“Karena kepemimpinan sejati bukan soal menunjuk arah,
tapi soal menjadi lentera saat jalan orang lain gelap.”


#CatatanNggedabrus #KepemimpinanRuhani #SufiZamanNow #TempatPulang #RenunganJumatKliwon


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...