Langsung ke konten utama

Menjadi Penyeimbang Itu Bukan Tentang Menguasai Dunia, Tapi Menjaga Agar Dunia Tidak Terlalu Condong

Menjadi Penyeimbang Itu Bukan Tentang Menguasai Dunia, Tapi Menjaga Agar Dunia Tidak Terlalu Condong


> “Kekuatan sejati bukan ketika kamu bisa menaklukkan semuanya, tapi saat kamu bisa berdiri di tengahnya—tanpa tergoda memilih sisi.”



Saya menjalani hidup dari banyak sisi.

Dari jalanan hingga pesantren.

Dari shalat malam hingga menghadapi parang.

Dari tafsir mimpi hingga hitungan fisika.

Dan semuanya tidak membuat saya merasa lebih,

justru membuat saya semakin merasa kecil di hadapan Tuhan.


Karena apalah arti semua itu,

kalau bukan semata karena izin dan kehendak-Nya?



Penyeimbang Itu Tidak Berpihak, Tapi Menguatkan Keduanya


Saya lebih menyukai hidup yang penuh tantangan.

Bukan karena saya ingin diuji, tapi karena di situlah saya bisa memberi.


Saya tidak ingin hidup hanya di zona nyaman.

Saya ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan,

agar saya bisa menguatkan yang sedang lemah.

Saya ingin merasakan kesakitan,

agar saya bisa menyembuhkan tanpa menghakimi.


Saya tumbuh bukan hanya dari kitab, tapi juga dari kerasnya jalanan.

Dari mereka yang tertatih tapi tetap hidup.

Dari mereka yang tidak punya apa-apa, tapi selalu punya cara untuk memberi.



Semua Kekuatan Itu Hanyalah Titipan


Saya tahu, sebagian orang tidak paham dengan jalan saya.

Ada yang heran,

bagaimana mungkin seorang santri bisa bicara tentang peluru, energi, dan cakram waktu?

Bagaimana mungkin seseorang bisa sakti tapi tidak terlihat sakti?


Saya hanya menjawab:

Semua itu bukan saya.

Itu semua hanya kehendak Tuhan.

Saya hanya dititipi.

Dan titipan tidak boleh dibanggakan.


Bahkan perjumpaan saya dengan Rasulullah dan Nabi Isa dalam mimpi, tidak membuat saya merasa istimewa.

Justru saya merasa takut…

Takut tidak amanah, takut tidak bisa menjaga pesan-pesan mereka.


> “Jangan taruh aku di hatimu. Yang pantas ada di hatimu hanyalah Alloh.”

(Pesan yang tak akan pernah saya lupakan.)



Menjadi Penyeimbang Itu Menyadari Bahwa Semua Bisa Jadi Jalan Tuhan


Saat saya di tempat X, saya diperlihatkan bahwa semua amal manusia pasti berbalik kepadanya.

Yang menanam angin akan menuai badai.

Yang memberi meski hanya secuil, akan menyaksikan cahayanya di ujung waktu.


Itulah kenapa saya terus berjalan.

Tidak memihak, tapi menguatkan.

Tidak menunjukkan, tapi menjaga.


Saya ingin menjadi penyeimbang.

Agar dunia yang condong bisa kembali tegak.

Agar ilmu yang tinggi bisa tetap berpijak.

Agar hati-hati yang patah bisa kembali percaya.



Penutup


Saya tidak ingin dikenal karena bisa kebal senjata.

Saya tidak ingin dikenang karena bisa membaca pikiran orang.

Saya hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang pernah mencoba menjaga agar dunia tidak terlalu berat di satu sisi.


Karena saya sadar:


> “Penyeimbang bukanlah orang yang paling kuat, tapi orang yang tetap berdiri ketika semua sisi saling menjatuhkan.”



Saya hanya ingin menjadi jembatan.

Yang tidak tampak mencolok, tapi menjadi tempat orang melangkah menuju cahaya.


#CatatanNggedabrus

#MenjagaKeseimbangan

#BukanUntukDipuji

#AnugrahIlahi

#RuhaniPejuangSunyi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...