Menjadi Tidak Terlihat, Agar Bisa Melihat Lebih Jauh
“Yang tampak sering kali tertipu oleh penampilannya sendiri.
Yang tidak terlihat... justru lebih tahu arah angin.”
Ada kalanya dibutuhkan kehadiran yang tidak mencolok.
Bukan karena tidak berani muncul,
tapi karena tahu, di balik keramaian ada yang harus tetap waras mengamati.
Menjadi tidak terlihat bukan berarti lemah,
justru kadang di situlah kekuatan paling utuh disimpan.
Tanpa sorot, tanpa riuh—tapi penuh daya.
“Ada kekuatan dalam ketidaktampakan,
seperti akar yang tak terlihat tapi menegakkan pohon besar.”
Dalam Dunia Diam, Informasi Menjadi Nafas
Pernah duduk bersama para tokoh yang tak mengenal mikrofon,
tapi satu bisikannya bisa menggoyahkan peta kekuasaan.
Pernah membaca sandi dari gerakan mata,
dan menyampaikan pesan lewat langkah kaki yang seolah biasa.
Menjadi bagian dari dunia di mana informasi bukan untuk dibagikan,
tapi untuk diselamatkan.
“Bukan semua yang diketahui harus dikatakan.
Karena kadang... kebenaran butuh waktu dan tempat untuk tumbuh.”
Di tempat itu, tidak ada tanda jasa.
Yang ada hanya nama-nama yang dilupakan dengan sengaja,
agar sistem tetap bekerja dengan rapi.
Antara Penglihatan dan Pengertian
Melihat tidak sama dengan mengerti.
Karena yang terlihat bisa direkayasa,
tapi yang dipahami lahir dari kejernihan batin.
Mereka yang tak terlihat, lebih banyak mengerti tentang yang kasat mata.
Karena tidak sibuk tampil,
mereka lebih jernih menilai siapa yang tulus, dan siapa yang menyamar dalam kebaikan palsu.
“Jangan remehkan orang yang diam.
Bisa jadi ia sedang mengamati siapa yang sebenarnya harus diredam.”
Penutup
Tidak perlu menjadi pusat perhatian.
Karena yang menjaga negeri ini tak semuanya suka tampil.
Ada yang memilih pojok sunyi,
menyusun strategi agar bangsa ini tetap tegak di tengah badai zaman.
“Menjadi tidak terlihat… agar bisa melihat semuanya tanpa terseret arus.”
#CatatanNggedabrus
#TidakTerlihatTapiNyata
#PengamatBayangan
#RenunganSufi
#DiamYangMenentukan
Komentar
Posting Komentar