Langsung ke konten utama

Saya Lahir Bukan Untuk Hebat, Tapi Untuk Diingat Alam

"Saya Lahir Bukan Untuk Hebat, Tapi Untuk Diingat Alam"


> "Manusia itu bukan ditanya gelarnya, tapi jejaknya. Bukan tentang siapa dia di dunia, tapi siapa dia di mata langit."


Saya lahir di Blitar, tempat orang-orang lebih banyak bicara lewat angin, dan menangis lewat tanah.

Saya bukan anak orang besar. Tapi hidup saya dibentuk oleh orang-orang besar yang tak pernah merasa besar.

Yang diam-diam mengukir saya, bukan dengan pujian, tapi dengan ujian.


Saya ini bukan siapa-siapa. Tapi saya juga bukan sembarangan.

Saya adalah akumulasi dari doa-doa diam, dari malam-malam panjang yang hanya tahu dzikir dan kesetiaan.

Di tubuh saya, ada getar suara ibu. Ada tapak kaki para guru. Ada keringat tentara dan air mata para pejalan sunyi.


Guru-Guru Kehidupan Saya

Saya berutang hidup dan cara hidup pada para guru.

Bukan cuma yang mengajarkan saya ilmu, tapi yang mengajari saya diam.


Mbah Hamid Pasuruan, wali yang tidak pernah pamer kewalian. Saya belajar bagaimana kekuatan sejati lahir dari keheningan dan ketundukan.


Al Ustadz Abdullah Bil Faqih dari Tanjung, Malang. Dari beliau saya diajari bahwa ilmu itu bukan untuk menjelaskan dunia, tapi untuk menerangi jalan pulang.


Mbah Bedjo Darmo Leksono, aktivis Muhammadiyah dan guru sufi jalan sunyi. Beliau menunjukkan bahwa keberanian itu bukan teriak, tapi konsisten.


Lalu saya menapak lebih jauh, dan Allah pertemukan saya dengan sosok-sosok yang membentuk logika hidup saya di tengah samudra pertahanan dan kerakyatan:


Ibu Elly Saelan, istri dari Jenderal M. Jusuf. Dari beliau saya mengerti bahwa kelembutan itu bukan lemah, tapi kekuatan yang memilih jalannya sendiri.


Jenderal M. Jusuf, seorang prajurit sejati. Beliau menanamkan nilai bahwa kesetiaan kepada bangsa tidak boleh kalah oleh ambisi pribadi.


Letnan Jenderal Bustanil Ariffin, guru keteladanan dalam diam. Beliau mengajarkan bahwa kadang yang paling sakti bukan yang paling bicara, tapi yang paling paham waktu untuk diam.


Saya tidak bisa melupakan mereka. Karena saya adalah mereka yang dilanjutkan.


Kalau hidup saya ini dianggap karya, maka tinta dan goresannya adalah mereka.

Dan mungkin, semua manusia seharusnya bercita-cita bukan untuk abadi di buku sejarah,

tapi untuk diingat oleh bumi sebagai orang yang tidak menyakitinya.


> "Mereka—para guru dan leluhur saya—bukan hanya warisan masa lalu, tapi cahaya yang menuntun ke bab selanjutnya.

Dan saya ingin mengajak panjenengan semua untuk ikut menelusuri:

Bagaimana ilmu tanpa ijazah bisa menjadi jasad yang hidup dalam perjalanan"


#CatatanNggedabrus #GuruSejati #RenunganHidup #SpiritualitasJawa #JumatKliwon #BiografiSpiritual


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...