Śleṣilaḥ Jñāna dari Mpu Ṛṣṭian Śāstraguru hingga Masrur Al Malangi: Sebuah Studi Hermeneutik-Spiritual Tentang Transmisi Keilmuan Nusantara
Penulis:
Muhammad Udin Masrur Al Malangi
(Tasawuf, Metafisika Nusantara, dan Keamanan Spiritualitas)
Abstrak:
Tulisan ini mengkaji transmisi keilmuan spiritual, intelektual, dan kultural dalam garis silsilah yang bermula dari Mpu Ṛṣṭian Śāstraguru (abad 9–11 Śaka) di wilayah Tumapĕl-Mĕdang, hingga ke Masrur Al Malangi (era Ādunika Kāla). Melalui pendekatan hermeneutik-spiritual dan analisis filologis, kajian ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai dari śāstra Hindu-Buddha dan Islam ditransformasikan menjadi fondasi keilmuan tasawuf, tattvavidyā (ilmu hakikat), dharmakṣema (etika-spiritual), serta rāṣṭrapālaka (pertahanan spiritual negara). Śleṣilaḥ ini memperlihatkan kesinambungan pengetahuan, bukan sekadar silsilah biologis, melainkan rantai energi dan transmisi makrifat dalam ruang dan waktu Nusantara.
Kata Kunci:
Silsilah spiritual, Mpu Ṛṣṭian, Masrur Al Malangi, śāstra Nusantara, tasawuf, tattvavidyā, transmisi keilmuan, Jawa-Islam, hermeneutika spiritual
1. Pendahuluan
Dalam tradisi kebudayaan dan keilmuan Nusantara, silsilah bukan semata-mata urusan genealogi biologis, melainkan representasi dari transmisi batiniah, keilmuan, dan keberlanjutan spiritualitas lintas zaman. Śleṣilaḥ Jñāna, sebagai bentuk silsilah keilmuan, mengungkap jaringan pengetahuan yang dirawat melalui teks, praktik spiritual, dan tradisi laku yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Studi ini mengambil titik tolak dari figur Mpu Ṛṣṭian Śāstraguru—seorang guru agung yang hidup antara abad ke-9 hingga ke-11 Śaka—dan menelusuri lintasan ilmu yang diwariskan hingga masa kontemporer melalui figur Masrur Al Malangi.
2. Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika spiritual, filologi simbolik, dan analisis sejarah budaya. Setiap nama dalam silsilah ditafsirkan sebagai simbol transformasi zaman dan arus integrasi keilmuan antara Hindu-Buddha dan Islam. Data diperoleh dari manuskrip keluarga, naskah lisan (oral tradition), dan tafsir pengalaman spiritual (dzauq) yang dimiliki oleh Masrur Al Malangi sebagai pewaris otoritatif.
3. Analisis Silsilah dan Tafsir Transformasional
3.1 Era Hindu-Buddha (Tumapĕl-Mĕdang sampai Wilwatikta Śesakāla)
Figur Mpu Ṛṣṭian hingga Mpu Rahayu Ādinātha merupakan representasi dari generasi pemula keilmuan śāstra, yang menggabungkan disiplin dharmasastra, tattva, dan śilpa. Periode ini membentuk dasar epistemik yang kuat tentang laku spiritual, kebijaksanaan raja-philosopher, dan praktik keheningan batin.
3.2 Islamisasi dan Integrasi (Ki Agĕŋ Lembu Śura sampai Ki Agĕŋ Kṛtanāgara)
Transisi dari Wilwatikta ke Islamika Nusantara terjadi melalui figur Ki Agĕŋ Lembu Śura yang menjadi jembatan antara budaya Hindu-Buddha ke nilai-nilai Islam sufi. Laku prihatin, tirakat, dan falsafah kejawen mulai terintegrasi dengan nilai amar ma’ruf nahi munkar serta hikmah suluk. Tokoh-tokoh ini menyuarakan Islam sebagai proses kultural dan spiritual, bukan sekadar institusional.
3.3 Masa Penjajahan dan Kebangkitan (Kyai Raden Vīraguna hingga Mbah Jīmūn Riŋin Tĕlu)
Masa ini merupakan masa kritis: penjajahan, disorientasi identitas, dan fragmentasi nilai. Namun demikian, para tokoh ini tetap menjaga api spiritualitas lewat jaringan pesantren, tarekat lokal, dan pendekatan mistik-metafisik berbasis kearifan lokal. Peran mereka mirip rūhānī mujaddid—penjaga kesadaran kebudayaan dalam keterjajahan.
3.4 Era Ādunika Kāla – Masrur Al Malangi
Masrur Al Malangi muncul sebagai figur kontemporer yang tidak hanya mewarisi silsilah tetapi juga menghidupkannya kembali dalam bentuk tarekat modern, bela diri spiritual (Silat Getar Jagad), serta pendekatan integratif tasawuf, metafisika, dan pertahanan spiritual. Ia menjadi titik konsolidasi kembali dari ilmu-ilmu tua dalam kemasan baru: pendidikan, pengembangan masyarakat, dan pertahanan nasional berbasis spiritualitas.
4. Makna dan Implikasi Śleṣilaḥ
Silsilah ini bukan sekadar catatan nama dan waktu. Ia adalah cermin dari kontinuitas epistemologis yang melewati banyak fase sejarah Nusantara—dari kerajaan Hindu-Buddha, Islam klasik, masa kolonial, hingga era modern. Ini adalah bentuk “arsip hidup” dari jñāna Nusantara yang terus bertransformasi. Transmisi ini menunjukkan adanya garis keilmuan yang sinkretis, resilien, dan mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan inti spiritualnya.
5. Kesimpulan
Śleṣilaḥ Jñāna dari Mpu Ṛṣṭian hingga Masrur Al Malangi adalah bukti konkret bahwa Nusantara memiliki sistem transmisi pengetahuan yang khas dan mendalam. Ia tidak bertumpu pada sistem akademik formal saja, namun berkembang dalam ranah spiritual, budaya, dan praksis sosial. Model ini sangat relevan untuk dikembangkan dalam pendidikan karakter dan kepemimpinan nasional masa kini, terutama dalam membangun jati diri Indonesia yang berakar kuat, tetapi fleksibel menghadapi zaman.
Referensi:
- Zoetmulder, P.J. (1995). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno. Jakarta: Gramedia.
- Woodward, M. (1989). Islam in Java. Arizona State University Press.
- Ricklefs, M.C. (2006). Mystic Synthesis in Java. Norwalk: EastBridge.
- Magnis-Suseno, F. (1983). Etika Jawa. Jakarta: Gramedia.
- Nasr, Seyyed Hossein. (1978). Knowledge and the Sacred. Harvard University Press.
Komentar
Posting Komentar