Langsung ke konten utama

Tarekat Itu Bukan Tentang Baju Seragam, Tapi Tentang Jalan yang Tak Sama Tapi Menuju Yang Sama

Tarekat Itu Bukan Tentang Baju Seragam, Tapi Tentang Jalan yang Tak Sama Tapi Menuju Yang Sama


> “Jangan kira semua yang bersurban itu bertarekat.

Dan jangan sangka yang bertarekat itu pasti bersurban.”



Saya tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan berbagai tarekat.

Ada yang suka wirid keras, ada yang memilih diam.

Ada yang sibuk pakai tongkat, ada yang lebih suka memegang cangkul.

Dan saya belajar, tarekat itu bukan tentang gaya, tapi arah.


Tarekat Itu Jalan Sunyi yang Ramai Oleh Yang Tak Terlihat

Saya pernah menyangka tarekat itu soal zikir berjamaah, ijazah, atau silsilah guru.

Tapi semakin saya menapaki jalan ini,

saya sadar: tarekat bukanlah ritual semata, tapi laku yang konsisten dalam sunyi.


Ada yang zikirnya ribuan, tapi hatinya tak tenang.

Ada yang tak pernah terlihat wirid, tapi hidupnya jadi doa yang terus hidup.

Tarekat bukan hanya tentang metode,

tapi tentang kesetiaan menempuh jalan tanpa mengutuk jalan lain.


Yang Bertarekat Itu Justru Tak Suka Menyalahkan

Saya pernah melihat orang sibuk menghitung hitungan wirid orang lain.

Merasa paling benar karena hafal sanad tarekat.

Tapi yang saya temui di jalan tarekat sejati justru para wali yang rendah hati,

yang lebih sibuk menjaga dirinya sendiri daripada mengomentari laku orang lain.


Saya belajar, bahwa semakin dalam seseorang di tarekat,

semakin ia sadar: semua orang sedang pulang dengan cara yang berbeda-beda.


Tarekat Itu Bukan Jalan Cepat, Tapi Jalan Dalam

Banyak yang mengira tarekat itu shortcut menuju karomah.

Padahal tarekat adalah jalan yang membuatmu pelan-pelan menanggalkan keakuan.

Tarekat bukan soal menjadi sakti,

tapi soal menjadi kosong dari ambisi dan penuh oleh ridha.


Saya pernah menempuh tarekat dengan semangat ingin “lebih tahu” dan saya jatuh.

Karena jalan ini bukan untuk yang ingin tahu lebih banyak tapi untuk yang siap tahu lebih sedikit tapi lebih dalam.


> “Tarekat itu bukan tempat mencari kekuatan, tapi tempat belajar menjadi lemah di hadapan Tuhan.”



Saya belajar menangis saat merasa kuat, dan tertawa saat dihina.

Karena dalam tarekat, kemenangan itu justru saat kamu merasa tidak perlu menang.


Tarekat Itu Jalan yang Menghapus Jalan

Saya pernah ditanya:

“Tarekatmu apa, Gus?”


Saya jawab:

“Tarekat saya adalah semua tarekat yang mengajarkan saya untuk tidak merasa paling benar.”


> “Karena pada akhirnya, semua jalan akan hilang. Yang tinggal hanya Sang Tujuan.”




Penutup

Tarekat itu bukan komunitas.

Bukan pula simbol-simbol.

Tapi laku batin yang terus mendekat pada-Nya, meski tertatih, meski sendiri.


Saya tak ingin menjadi orang yang merasa sudah sampai.

Saya hanya ingin tetap berjalan walau pelan asal tidak berhenti.


> “Karena tarekat bukan tentang siapa paling cepat sampai,

tapi tentang siapa yang paling ikhlas berjalan.”




#CatatanNggedabrus #TarekatSejati #JalanPulang #RenunganSufi #TanpaRibutTapiSampai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...