NASIONALISME SEBAGAI PERISAI DAN CAKRAWALA BANGSA:
Kajian Kritis oleh Muhammad Udin Masrur
Mukadimah
Nasionalisme bukan sekadar slogan atau ritual tahunan yang ditampilkan dalam seremoni kenegaraan. Ia adalah kesadaran eksistensial dan moral tentang bagaimana kita hidup, berjuang, dan menebus kehormatan bangsa di tengah arus globalisasi, liberalisme, dan infiltrasi nilai yang tak selalu berpihak pada kedaulatan.
Namun ironi muncul ketika nasionalisme yang seharusnya menjadi perisai bangsa justru dicabik oleh para bandit negara: mereka yang menyusup dalam sistem, menyamar sebagai pejabat, investor, tokoh, bahkan ulama—namun tindak-tanduknya merampas hak rakyat dan menggadaikan masa depan bangsa.
1. Memahami Nasionalisme dalam Bingkai Spiritualitas dan Kedaulatan
Nasionalisme sejati bukan hanya cinta terhadap tanah air, tetapi kesadaran spiritual dan tanggung jawab historis terhadap amanah leluhur dan darah para syuhada yang telah gugur membela negeri. Dalam pandangan saya, nasionalisme adalah maqam perjuangan batin dan lahir.
“Cinta tanah air adalah bagian dari iman—bukan karena tanahnya, tetapi karena nilai-nilai dan ruh bangsa yang mengalir di dalamnya.”
— Muhammad Udin Masrur
Nasionalisme bukan tirani mayoritas. Ia merangkul keanekaragaman dalam satu kesadaran: bahwa bangsa adalah rumah besar tempat seluruh anak-anaknya dilindungi, diberdayakan, dan diarahkan menuju kemuliaan kolektif.
2. Tujuan Nasionalisme: Membentuk Karakter, Menjaga Arah
Tujuan utama nasionalisme bukan sebatas mempertahankan batas wilayah, melainkan membentuk jiwa bangsa yang mandiri, tangguh, berdaulat, dan bermoral. Nasionalisme menjadi energi kolektif untuk:
Membangun kesadaran kolektif atas kedaulatan ekonomi, budaya, dan politik;
Menyemai etos kerja dan integritas;
Menolak segala bentuk penjajahan gaya baru: utang luar negeri yang membelenggu, liberalisasi ekonomi yang melumpuhkan UMKM, serta infiltrasi nilai asing yang memutus akar budaya.
3. Ciri Nasionalisme Sejati: Bukan Sekadar Simbolik
Nasionalisme bukan tentang ramai-ramai menyanyikan lagu wajib dan mengibarkan bendera saat 17 Agustus. Ciri utama nasionalisme sejati antara lain:
Taat hukum yang adil, bukan tunduk pada hukum yang dibajak elit;
Mengutamakan kepentingan publik, bukan korporasi;
Kesediaan berkorban, bukan memperkaya diri dari jabatan;
Berpikir strategis, bukan pragmatis;
Membangun kekuatan bangsa, bukan menjualnya kepada asing.
4. Bandit Negara: Musuh dalam Selimut Nasionalisme
Nasionalisme hari ini digerus bukan oleh serangan militer asing, tetapi oleh pengkhianatan internal. Mereka itulah yang saya sebut “bandit negara”—oknum elite yang:
Menjual SDA (Sumber Daya Alam) melalui kontrak jangka panjang yang tak adil;
Mengamankan kekuasaan lewat oligarki;
Mengabaikan pendidikan rakyat sambil menyekolahkan anak mereka ke luar negeri;
Mengaku nasionalis di podium, namun menjadi makelar kepentingan asing di ruang belakang.
Bandit negara bukan mitos. Mereka hidup, tersenyum di TV, bersalaman dengan rakyat, bahkan berkhutbah tentang moral. Namun sesungguhnya, mereka adalah antitesis dari nasionalisme.
5. Penerapan Nasionalisme dalam Kehidupan Nyata
Nasionalisme tidak boleh tinggal dalam wacana. Ia harus dihidupkan dalam tindakan nyata, seperti:
Mendukung produk dalam negeri, bukan hanya lewat slogan tapi lewat kebijakan fiskal dan budaya konsumsi;
Melestarikan budaya lokal, bukan menggantinya dengan budaya digital yang nir-identitas;
Membangun pertahanan mental, fisik, dan spiritual, sebagai tameng dari infiltrasi ideologis;
Menolak sistem ekonomi rente dan utang luar negeri yang membahayakan kedaulatan fiskal.
6. Menyatukan Nasionalisme dan Spiritualitas: Jalan Ketiga Bangsa
Nasionalisme materialistik tidak akan menyelamatkan bangsa. Ia harus dikawinkan dengan spiritualitas. Silat Getar Jagad, Tasawuf Bela Negara, dan kepemimpinan Laduni adalah pendekatan yang saya tawarkan untuk mencetak kader-kader bangsa yang kuat secara mental, jernih secara batin, dan kokoh dalam perjuangan.
“Nasionalisme yang tercerabut dari ruh spiritualnya hanyalah kebanggaan kosong tanpa arah.”
— Gus Nggedabrus
Penutup: Waspadalah, Nasionalisme Bukan Warisan Mati
Nasionalisme harus dirawat. Ia bukan warisan beku, tapi perjuangan dinamis. Para pendiri bangsa telah menyerahkan darahnya. Hari ini, giliran kita menjaga agar bendera tak dikibarkan di atas penderitaan rakyat sendiri.
Kepada pemuda-pemudi, para santri, dan pejuang marhaenis: kembalilah ke akar. Bangkitlah dari tidur panjang. Jangan biarkan nasionalisme hanya menjadi alat kosmetik para elite, sementara rakyat tercekik oleh kebijakan yang tidak berpihak.
Komentar
Posting Komentar