Candaan yang Tak Pernah Lucu
Ada orang yang mengira lidahnya emas, padahal besinya berkarat. Katanya bercanda, tapi nyatanya seperti menabur garam di luka bangsa. Inilah candaan yang katanya segar, tapi justru membuat udara semakin pengap.
Seorang pejabat berani-beraninya melucu di tengah getir rakyat. Ia lupa bahwa panggung bukanlah warung kopi, dan rakyat bukanlah kawan sebangku yang bisa tertawa meski perut kosong. Candaan pejabat itu bagai petir yang disangka kembang api—indah hanya oleh yang tuli, memekakkan bagi yang waras.
Sufi berkata: Lidah adalah anak panah hati. Bila hatinya jernih, kata-katanya menjadi doa. Tapi bila hatinya keruh, kata-katanya menjadi candaan busuk yang bahkan malaikat pun enggan menuliskannya.
Mungkin ia lupa, bahwa bercanda itu butuh rasa, bukan sekadar suara. Bahwa setiap kata adalah amanah, bukan mainan. Rakyat butuh keadilan, bukan kelakar. Negeri ini butuh pemimpin yang hadir, bukan pelawak yang hilang arah.
Tapi biarlah. Mungkin kita memang sedang diuji: apakah kita bisa tertawa di tengah tangis, atau memilih diam dalam dzikir. Karena candaan yang tidak lucu itu sejatinya mengingatkan kita—bahwa dunia memang panggung sandiwara. Dan di balik sandiwara itu, hanya hati yang bening yang tahu mana serius, mana pura-pura.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar