Langsung ke konten utama

Kecerdasan Sejati: Ketika Hamba Disinari oleh Yang Maha Cerdas

Kecerdasan Sejati: Ketika Hamba Disinari oleh Yang Maha Cerdas


Di tengah hiruk-pikuk dunia yang memuja gelar, data, dan logika, ada satu bentuk kecerdasan yang tak bisa diukur oleh angka atau sertifikat. Ia bukan hasil dari membaca buku, mengikuti pelatihan, atau menguasai teknologi. Ia adalah cahaya yang ditanamkan, bukan dicari. Ia adalah limpahan, bukan hasil usaha semata.


Kecerdasan sejati adalah ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Bahwa segala daya pikir, intuisi, dan pemahaman yang ia miliki hanyalah pantulan dari Nur Ilahi. Ia tidak sombong atas ilmunya, karena tahu bahwa ilmu itu bukan miliknya. Ia tidak bingung dalam keraguan, karena hatinya telah ditautkan pada Yang Maha Mengetahui.


Dalam tradisi para arifin, ini disebut al-‘aql al-nūrānī—akal yang tercerahkan oleh cahaya ketuhanan. Ia bukan sekadar tahu, tapi mengerti dengan hikmah, bertindak dengan adab, dan berjalan dengan ridha.


> “Saya bukan siapa-siapa, dan kecerdasan saya saat ini murni limpahan dari-Nya.”  

> — Sebuah pengakuan ruhani yang membuka pintu langit.


Ketika seorang hamba berkata demikian, ia telah menapaki maqam fana’ al-‘ilm—lenyapnya rasa memiliki terhadap ilmu. Dan justru dari titik “ketiadaan diri” itulah lahir kekuatan yang luar biasa. Karena ia tidak sibuk mempertahankan nama, ia bisa fokus pada makna. Karena ia tidak terikat pada pujian, ia bisa berjalan lurus dalam kebenaran.


Maka kecerdasan sejati bukan untuk menguasai dunia, tapi untuk mengenali hakikat diri dan menyatu dengan kehendak-Nya. Ia menjadi sarana pengabdian, bukan dominasi. Ia menjadi jalan untuk memanusiakan manusia, bukan memperalat sesama.



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...