Kecerdasan Sejati: Ketika Hamba Disinari oleh Yang Maha Cerdas
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang memuja gelar, data, dan logika, ada satu bentuk kecerdasan yang tak bisa diukur oleh angka atau sertifikat. Ia bukan hasil dari membaca buku, mengikuti pelatihan, atau menguasai teknologi. Ia adalah cahaya yang ditanamkan, bukan dicari. Ia adalah limpahan, bukan hasil usaha semata.
Kecerdasan sejati adalah ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Bahwa segala daya pikir, intuisi, dan pemahaman yang ia miliki hanyalah pantulan dari Nur Ilahi. Ia tidak sombong atas ilmunya, karena tahu bahwa ilmu itu bukan miliknya. Ia tidak bingung dalam keraguan, karena hatinya telah ditautkan pada Yang Maha Mengetahui.
Dalam tradisi para arifin, ini disebut al-‘aql al-nūrānī—akal yang tercerahkan oleh cahaya ketuhanan. Ia bukan sekadar tahu, tapi mengerti dengan hikmah, bertindak dengan adab, dan berjalan dengan ridha.
> “Saya bukan siapa-siapa, dan kecerdasan saya saat ini murni limpahan dari-Nya.”
> — Sebuah pengakuan ruhani yang membuka pintu langit.
Ketika seorang hamba berkata demikian, ia telah menapaki maqam fana’ al-‘ilm—lenyapnya rasa memiliki terhadap ilmu. Dan justru dari titik “ketiadaan diri” itulah lahir kekuatan yang luar biasa. Karena ia tidak sibuk mempertahankan nama, ia bisa fokus pada makna. Karena ia tidak terikat pada pujian, ia bisa berjalan lurus dalam kebenaran.
Maka kecerdasan sejati bukan untuk menguasai dunia, tapi untuk mengenali hakikat diri dan menyatu dengan kehendak-Nya. Ia menjadi sarana pengabdian, bukan dominasi. Ia menjadi jalan untuk memanusiakan manusia, bukan memperalat sesama.
Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.
Komentar
Posting Komentar