Langsung ke konten utama

Kekuatan Dunia, Kekuatan Akhirat

Kekuatan Dunia, Kekuatan Akhirat


Pendahuluan


Kehidupan dunia bukan sekadar ruang untuk bersenang-senang, tetapi arena ujian. Dunia adalah ladang yang menanamkan benih amal, sementara akhirat adalah panennya. Maka, kekuatan di dunia bukan hanya soal fisik dan materi, melainkan kekuatan iman, adab, dan keteguhan hati dalam menjalankan perintah Alloh.


Kekuatan Dunia: Definisi yang Hakiki


Kuat di dunia sering disalahpahami sebagai berlimpah harta, tinggi jabatan, atau berotot kekar. Namun, Rasululloh ﷺ menegaskan:


> “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Maka, kuat di dunia berarti kokoh menegakkan iman, menjaga diri dari hawa nafsu, dan berani menegakkan kebenaran meski sendirian.


Hubungan Kekuatan Dunia dengan Akhirat


Barangsiapa kokoh menjaga iman di dunia, ia akan tegak pula di hadapan hisab akhirat. Sebaliknya, mereka yang rapuh—mudah tergoda nafsu, tunduk pada syahwat, dan goyah dalam kebenaran—akan roboh di hadapan pertanyaan kubur dan dahsyatnya hisab.


Sederhana:


Kuat di sini, kuat di sana.


Lemah di sini, jangan harap gagah di sana.



Kekuatan Iman sebagai Sumber Kekuatan Sejati


Tasawuf mengajarkan bahwa kekuatan lahiriah hanyalah kulit. Inti kekuatan adalah kekokohan hati dalam dzikir dan tawakal. Orang yang hatinya tegak pada Alloh akan kokoh meski dunia berusaha merobohkan.


Para sufi menyebutnya al-quwwah al-bāthiniyyah (kekuatan batin), yaitu kemampuan menghadapi dunia tanpa diperbudak olehnya, dan kesiapan menghadapi akhirat dengan wajah bercahaya.


Penutup


Makna “kuat” harus dikembalikan pada iman. Bukan kuat menindas, tapi kuat menegakkan. Bukan kuat membanggakan dunia, tapi kuat menyiapkan akhirat.


Karena yang kokoh menegakkan iman di dunia, maka ia akan tegak pula di hadapan hisab akhirat.

Kuat di sini, kuat di sana.

Yang lemah di sini, jangan berharap bisa gagah di sana.



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...