Langsung ke konten utama

Kondusivitas sebagai Nafas Bangsa

Kondusivitas sebagai Nafas Bangsa


Saudara-saudara seperjuangan,


Setiap bangsa yang sedang bergerak maju selalu diuji. Ketika program pembangunan sudah menyentuh masyarakat bawah dan hasilnya mulai dirasakan, di saat itulah muncul potensi kerawanan. Sebab ada saja pihak yang tidak rela melihat rakyat merasa tenteram.


Dalam membaca situasi, ada beberapa hal yang patut kita cermati:


1. Kondusivitas adalah pondasi.

Sehebat apapun rencana, tanpa stabilitas suasana, semuanya hanya jadi kertas. Bangunan besar bisa runtuh hanya karena kegaduhan kecil.



2. Ancaman tak selalu kasat mata.

Gangguan bisa hadir bukan dalam bentuk serangan fisik, melainkan melalui narasi, isu, dan persepsi. Kadang kesalahan teknis kecil bisa dijadikan bahan bakar propaganda untuk menggiring opini.



3. Peran masyarakat jadi benteng utama.

Jika rakyat sudah merasakan manfaat nyata, maka provokasi akan kehilangan daya. Kesadaran kolektif lebih ampuh daripada sejuta alat pengendali.



4. Kepemimpinan diuji bukan saat damai, tetapi saat riuh.

Ketegasan dan kearifan seorang pemimpin dalam merangkul semua pihak menentukan arah perjalanan bangsa.




Refleksi


Doa Nabi Ibrahim mengingatkan kita:


“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman…” (QS. Al-Baqarah: 126).




Keamanan di sini tidak hanya berarti bebas dari kerusuhan, tetapi juga bebas dari rasa takut, provokasi, dan jurang perpecahan.


Maka, menjaga kondusivitas bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab setiap jiwa yang mencintai tanah air. Kita dituntut menjadi penjernih, bukan peruncing. Pendingin, bukan pemanas. Menjadi benteng bagi mereka yang mudah terombang-ambing oleh isu.



Penutup


Ingatlah:

Kondusivitas adalah nafas bangsa. Tanpa nafas, tubuh sebesar apapun tak berarti. Bila stabilitas terguncang, maka harga yang harus dibayar jauh lebih mahal daripada sekadar kegaduhan sesaat.



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...