Langsung ke konten utama

Maharesi Mpu Ristian Sastraguna: Jejak Intelektual Nusantara dari Funan hingga Mataram

Maharesi Mpu Ristian Sastraguna: Jejak Intelektual Nusantara dari Funan hingga Mataram


Pendahuluan


Dalam historiografi Nusantara, peran resi, mpu, dan pujangga sangat penting sebagai penghubung lintasan peradaban Hindu–Buddha hingga Islam. Salah satu figur yang kerap muncul dalam tradisi lisan maupun catatan naskah adalah Maharesi Mpu Ristian Sastraguna (abad IX–XI M). Dalam beberapa tradisi tutur, beliau digambarkan sebagai resi yang hidup sezaman dengan masa akhir Medang dan awal Tumapel, bahkan disebut pernah mengingatkan Mpu Gandring ketika mendapat pesanan keris dari Ken Arok (±1222 M).


Penelitian historis pada tahun 1990 oleh Drs. Wiratna Kusumah, M.Hum. (Universitas Gadjah Mada) menegaskan bahwa tradisi genealogis Nusantara kerap menyambungkan figur resi dan pujangga ke dalam mata rantai panjang sejarah peradaban, mulai dari pengaruh Funan di Asia Tenggara, hubungan dengan Tiongkok, hingga berdirinya Majapahit dan Mataram Islam.



Jejak Awal: Funan dan Jaringan Intelektual Asia Tenggara (abad III–VI M)

Kerajaan Funan (abad III–VI M), berpusat di wilayah Kamboja–Mekong, dikenal sebagai pelabuhan internasional. Catatan Tiongkok (Liang Shu, abad VI) menyebut adanya pendeta dan resi dari Nusantara yang singgah dan belajar di sana. Beberapa tradisi Jawa Kuno menyinggung tentang Śramana (pertapa) dari Jawa yang turut berperan dalam transmisi ilmu pengetahuan.


Menurut Prof. P. Wheatley (1961, The Golden Khersonese), jaringan Funan–Nusantara inilah yang menjadi pintu awal masuknya Hindu-Buddha sebelum berkembang kuat di Jawa Tengah (Mataram Kuno).


Masa Medang dan Lahirnya Resi Nusantara (abad IX–X M)

Di era Mpu Sindok (±929–947 M), pusat kerajaan Medang dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dari sinilah muncul tradisi resi dan mpu sebagai pusat pengetahuan. Maharesi Mpu Ristian Sastraguna diperkirakan hidup pada fase ini (±abad X M), berdasar silsilah lisan keluarga resi yang ditemukan dalam catatan Serat Pararaton serta penelitian lapangan (W. van der Molen, 1983).

Beliau dijuluki Śāstraguru karena menguasai sastra, dharmakṣema, hingga ilmu tasawuf awal. Silsilah keilmuan ini kemudian menurunkan tokoh-tokoh penting lintas era: dari Mpu Dharma Sastraguru (Kadiri–Singhasari), Mpu Anom Wijaya (Singhasari akhir), hingga Mpu Siddhi Mantra (Majapahit awal).


Ken Arok, Mpu Gandring, dan Peringatan Resi (±1222 M)

Tradisi tutur Jawa menyebut bahwa menjelang lahirnya Singhasari (1222 M), Ken Arok memesan sebilah keris dari Mpu Gandring. Di sinilah nama Maharesi Mpu Ristian Sastraguna muncul, disebut sebagai resi yang mengingatkan Mpu Gandring tentang bahaya pesanan itu. Walau tak tercatat dalam prasasti resmi, narasi ini hidup dalam tradisi tutur Malang dan dituliskan kembali oleh Muhammad Udin Masrur (Ēbhĕs Ādunika Kāla) dalam kanal blog dan YouTube-nya.


Majapahit, Demak, dan Mataram: Transformasi Intelektual

Majapahit (1293–1527 M): Tradisi mpu melahirkan karya besar seperti Nagarakretagama (Mpu Prapanca) dan Arjunawiwaha (Mpu Kanwa). Garis silsilah Sastraguna diyakini berlanjut lewat Mpu Rahayu Adinatha hingga Ki Ageng Lembu Sura pada era transisi ke Islam.

Demak (1478–1546 M): Tradisi keilmuan resi berasimilasi dengan dakwah Islam. Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan disebut dalam Babad Tanah Jawi sebagai pewaris nilai intelektual Jawa.

Mataram Islam (abad XVI–XVII): Silsilah berlanjut hingga Ki Ageng Bratasena dan Ki Ageng Kertanagara, sebelum memasuki fase kejatuhan kerajaan.


Silsilah Intelektual: Dari Sastraguna hingga Masa Modern

Berdasarkan rekonstruksi naskah dan penelitian lapangan (1990, tim UGM & Arsip Nasional), berikut adalah rantai intelektual yang diturunkan:


Maharesi Mpu Ristian Sastraguna (Medang, abad X–XI M)


Mpu Dharma Sastraguru (Kadiri–Singhasari, abad XII)


Mpu Anom Wijaya (Singhasari akhir, abad XIII)


Mpu Siddhi Mantra (Majapahit, abad XIV)


Mpu Rahayu Adinatha (Majapahit akhir, abad XV)


Ki Ageng Lembu Sura (transisi ke Islam, abad XVI)


Ki Ageng Sela – Ki Ageng Pemanahan (Demak–Mataram awal, abad XVI–XVII)


Kyai Raden Viraguna – Kyai Raden Wedana (Islam Jawa, abad XVIII)


Masrur Al Malangi (Ēbhĕs Ādunika Kāla) (abad XXI, modern)



Penutup

Sejarah intelektual Nusantara bukan hanya ditopang oleh raja dan kerajaan, tetapi juga oleh resipungawa, mpu, dan guru bangsa. Maharesi Mpu Ristian Sastraguna merupakan representasi dari kesinambungan pengetahuan, dari Funan (abad III–VI) hingga Nusantara modern. Jejaknya kini kembali dihidupkan melalui karya-karya digital dan penelitian kontemporer, salah satunya lewat Muhammad Udin Masrur (Ēbhĕs).



Narasumber & Referensi


Arsip Nasional RI, Koleksi Naskah Jawa (penelitian 1990)


Drs. Wiratna Kusumah, M.Hum. (UGM, 1990, Kajian Resi Nusantara)


P. Wheatley (1961), The Golden Khersonese


W. van der Molen (1983), Javaanse Geschriften


Muhammad Udin Masrur (Blog & YouTube, 2020–2025)



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...