Langsung ke konten utama

Merdeka ?

 

​Bismillah ...

​Merdeka dari Kebodohan
​Kebodohan itu penyakit hati, bukan cuma kurangnya ijazah. Kita ini sering sok tahu, merasa paling paham segalanya, padahal ilmu kita cuma seujung kuku. Kita merdeka dari kebodohan itu ya saat kita sadar bahwa kita ini sebetulnya 'bodoh'. Saat kita berani mengakui 'aku tidak tahu', di situlah gerbang ilmu sejati terbuka.
​Kita sering menghafal ayat-ayat suci dan hadis, tapi lupa menghafal diri sendiri. Lupa bahwa nafsu kita itu lebih lihai dari setan. Jadi, merdeka dari kebodohan itu artinya merdeka dari ego yang selalu merasa benar.

​Merdeka dari Kemiskinan
​Kemiskinan yang hakiki itu bukan soal isi dompet, tapi soal 'isi hati'. Betapa banyak orang kaya harta tapi jiwanya miskin. Hartanya banyak, tapi hatinya selalu kurang, kurang, dan kurang. Selalu merasa tidak cukup. Selalu takut kehilangan.
​Merdeka dari kemiskinan itu saat kita bisa kaya di tengah kekurangan. Saat kita bisa bersyukur atas apa yang ada, bukan meratap atas apa yang tiada. Kita ini sering terlalu sibuk 'mengumpulkan' sampai lupa 'menggunakan'. Lupa bahwa rezeki itu bukan hanya uang, tapi juga kesehatan, waktu luang, dan ketenangan hati.

​Merdeka dari Ketergantungan
​Kita sering 'menggantungkan' kebahagiaan kita pada orang lain, pada jabatan, pada pujian, pada media sosial. Merdeka dari ketergantungan itu artinya merdeka dari 'mahluk'. Merdeka dari 'ghairulloh'. Merdeka dari segala sesuatu selain Alloh.
​Kita ini lucu, ya. Rajin-rajin berdoa minta rezeki, tapi lupa bahwa rezeki yang paling berharga itu adalah kemandirian. Kita sering minta 'jalan' tapi malas 'berjalan'. Kita ini terlalu takut sendiri sampai-sampai rela menggadaikan prinsip demi sekadar 'bersama'.

​Merdeka itu bukan hanya soal kibaran bendera. Merdeka itu saat hati kita benar-benar bebas. Bebas dari belenggu nafsu, bebas dari hasrat duniawi yang tidak ada habisnya, dan bebas dari ketergantungan pada apapun dan siapapun, kecuali Tuhan.

Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...