Langsung ke konten utama

Pajak, Amanah, dan Luka Bangsa

Pajak, Amanah, dan Luka Bangsa


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Assalāmu‘alaikum warahmatullohi wabarakātuh.


Kawulo alit dipersiapkan untuk bisa membayar pajak. Pajak itu sejatinya adalah wujud gotong-royong rakyat dalam menjaga keberlangsungan negara. Ia merupakan amanah besar, sebab dari situlah seharusnya rakyat mendapat layanan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan.


Namun, sungguh menyedihkan ketika apa yang dikorbankan rakyat justru tidak kembali sebagai keberkahan. Pajak yang diperas dari keringat petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, dan rakyat jelata, acap kali berubah menjadi bancakan dan hura-hura para perusak negara. Uang rakyat yang suci karena diniatkan untuk kebaikan, dicemari oleh kerakusan dan keserakahan.


Inilah luka bangsa. Inilah bentuk nyata pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Rasululloh ﷺ bersabda:


"Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran." (HR. Bukhari)


Maka jelas, pengelolaan pajak bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal moral, soal amanah, bahkan soal iman. Pajak yang dipelihara dengan jujur akan menjadi berkah. Sebaliknya, pajak yang dipakai untuk maksiat hanya akan membawa laknat.


Rakyat kecil boleh pasrah membayar pajak, tapi jangan sampai pasrah terhadap kezhaliman. Kebenaran harus disuarakan. Keadilan harus diperjuangkan. Karena Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendiri mau merubah nasibnya. (QS. Ar-Ra’d: 11)


Maka, membayar pajak dengan niat baik adalah ibadah, tetapi mengelolanya dengan jujur adalah jihad. Rakyat yang taat pajak adalah rakyat yang sabar. Pejabat yang amanah terhadap pajak adalah pemimpin sejati.


Semoga Alloh membersihkan bangsa ini dari para perusak, mengangkat para pemimpin yang jujur, dan menjadikan pajak sebagai sumber keberkahan, bukan sumber kebinasaan.


Āamīin yā Rabbal ‘Aālamiīn.

Wassalāmu‘alaikum warahmatullohi wabarakātuh.



Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...