Langsung ke konten utama

Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan

Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan

(Ēbhĕs Ādunika Kala)

Di dalam bentangan waktu yang tak bertepi, manusia berjalan di antara cahaya dan bayang-bayang. Ia mencari Tuhan bukan sekadar dengan langkah kaki, tetapi dengan denyut hati, ketajaman akal, dan keteguhan laku.

Kesalehan bukan bangunan tunggal, melainkan jembatan yang disusun dari iman, ilmu, rasa, dan amal. Dalam perjalanan itu, tampak jelas dua arus besar pencarian: dua aliran sungai yang berbeda warna, tetapi mengalir ke samudra yang sama.

Ini bukan perbandingan untuk menang dan kalah. Ini adalah pembacaan batin atas cara manusia mendekati Yang Maha Tak Terjangkau — namun terasa lebih dekat dari urat lehernya sendiri.

Jalan Pertama: Tarekat Ruhani — Pendakian ke Pusat Diri

Jalan ini lahir dari kesadaran purba: sebelum menaklukkan dunia, manusia harus menaklukkan dirinya. Sebelum mengatur negeri, ia harus mengatur batinnya. Sebelum berbicara tentang keadilan sosial, ia harus menegakkan keadilan dalam jiwanya sendiri.

Ini adalah jalan sunyi, jalan kedalaman, jalan yang ditempa dalam keheningan. Di sini, manusia belajar merendahkan ego, menundukkan hawa, dan mengasah kejernihan rasa.

Latihan rohani menjadi tangga yang teratur: dzikir yang berulang, kontemplasi yang tajam, dan bimbingan yang berakar pada rantai tradisi spiritual yang kokoh. Setiap langkah adalah pertempuran melawan diri sendiri; setiap tarikan napas adalah doa yang tak terucap.

Seorang pejalan di jalur ini ibarat pendaki yang meniti lereng batin: terjal, sepi, dan melelahkan — tetapi di puncaknya ia menemukan cakrawala baru tentang makna hidup.

Kesalehan di sini bukan pakaian lahiriah, melainkan cahaya yang menyinari hati. Tuhan didekati bukan dengan riuh kata, tetapi dengan lirih doa dan keheningan jiwa.

Jalan Kedua: Irfani-Amali — Cahaya yang Menjadi Tindakan

Jika jalan pertama menggali kedalaman batin, jalan kedua menuntut agar kedalaman itu berbuah di permukaan kehidupan.

Di jalur ini, spiritualitas tidak hidup di gua kontemplasi, tetapi berjalan di pasar, sekolah, ladang, dan ruang publik. Ma’rifat tidak berhenti sebagai pengalaman personal, melainkan menjelma menjadi energi moral untuk mengubah dunia.

Pengalaman batin tentang Tuhan harus terwujud dalam kepedulian kepada sesama, keberpihakan pada keadilan, dan kerja nyata untuk kemaslahatan umat.

Kesalehan dipahami sebagai harmoni tiga dimensi:

Hati yang tercerahkan,

Akal yang tajam,

Tangan yang bekerja untuk kebaikan.

Batin memberi arah, akal memberi peta, amal memberi bukti. Tanpa salah satunya, perjalanan menjadi timpang.

Di sini, spiritualitas diuji oleh realitas. Bukan hanya bagaimana seseorang berdoa, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia lain.

Dua Jalan, Satu Puncak

Jika kita melihat dari ketinggian kebijaksanaan, kedua jalan ini bukanlah tembok yang saling meniadakan, melainkan jembatan yang saling menguatkan.

Jalan batin mengajarkan kedalaman.

Jalan amal mengajarkan tanggung jawab.

Yang satu membersihkan sumber, yang lain mengalirkan airnya ke kehidupan.

Spiritualitas tanpa tindakan berisiko menjadi pelarian.

Tindakan tanpa spiritualitas berisiko menjadi kekosongan.

Maka kesalehan sejati lahir dari pertemuan keduanya: hati yang dekat dengan Tuhan dan tangan yang bermanfaat bagi manusia.

Penutup: Kesalehan sebagai Kesatuan Kosmik

Pada akhirnya, kesalehan bukan milik satu metode, bukan monopoli satu jalan, dan bukan klaim satu kelompok.

Kesalehan adalah tarian antara langit dan bumi: doa yang naik, kebaikan yang turun.

Tuhan itu Esa — tak terbelah, tak terbagi, tak tertandingi. Jalan menuju-Nya bisa beragam, berliku, dan berbeda rupa. Namun selama berakar pada keikhlasan, ilmu, dan akhlak, semua jalan itu adalah pantulan dari cahaya yang sama.

Dan mungkin, kebijaksanaan tertinggi terletak pada kemampuan kita membaca perbedaan sebagai rahmat, bukan alasan untuk saling memutus silaturahmi.



Copyright © 2026 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Abad Kesultanan Banten

Kajian Tasawuf Gus Masrur Al Malangi “Fajar Peradaban dari Barat Nusantara” (Menjelang Milad 5 Abad Kesultanan Banten) Di langit malam yang nyaris larut, ketika dunia mulai tertidur dan sunyi merayap pelan ke dalam pori-pori zaman, para penjaga sejarah kembali terbangun. Di antara detik-detik menjelang pergantian hari, Panitia Inti Milad 5 Abad Kesultanan Banten berkumpul. Tapi ini bukan sekadar rapat, ini adalah majlis ruhani di mana waktu bertemu makna, dan sejarah bertemu hakikat. Tasawuf mengajarkan bahwa setiap peradaban besar lahir dari kesadaran ilahiyah. Kesultanan Banten bukan hanya kerajaan politik, melainkan tapak tilas spiritualitas para wali, ulama, dan pejuang yang membangun negeri dengan cinta, dzikir, dan ilmu. Lima abad bukan sekadar angka. Ia adalah simbol kesabaran jiwa kolektif , adalah bayang panjang dari doa-doa yang dikirimkan dari menara masjid, dari sunyi-sunyi pesantren tua, dari liang tapak kaki para syuhada yang tak dikenal namanya tapi dikenal Tuhan...

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan

Sandang, Pangan, Papan: Martabat yang Terlupakan Leluhur kita bukan orang sembarangan. Mereka sudah mewariskan urutan yang sederhana, tapi penuh makna: sandang, pangan, papan . Tiga kata ini seakan biasa saja, tapi sebenarnya adalah fondasi cara hidup, sekaligus pengingat bahwa manusia punya martabat. Sandang selalu disebut pertama. Bukan kebetulan. Sandang itu lambang kehormatan. Pakaian bukan hanya kain yang melekat di tubuh, tapi tanda bahwa manusia masih menjaga rasa malu, masih menghormati dirinya sendiri. Bahkan dalam kitab suci, Alloh menyebut “libās at-taqwā” — pakaian takwa. Artinya, pakaian bukan hanya untuk menutup aurat jasmani, tapi juga menjaga aurat rohani: aib, kesombongan, kerakusan. Baru setelah sandang, datang pangan. Ya, makan itu penting. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makanan. Tapi, apa jadinya kalau demi makanan, manusia rela menanggalkan pakaiannya? Apa gunanya kenyang perut, bila hati dan wajah kehilangan malu? Leluhur kita sudah menegaskan: kalau ...

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern

Dakwah Kekinian: Islam Berkemajuan di Era Modern Dakwah di era modern menghadapi tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan lama. Dunia berubah cepat dengan teknologi, media sosial, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Islam Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga konsep dakwah yang menyesuaikan ajaran Islam dengan realitas zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamentalnya. 1. Dakwah yang Adaptif: Menggunakan Media Digital Saat ini, umat Islam bukan hanya mendengar ceramah di masjid, tetapi juga melalui YouTube, Instagram, TikTok, dan podcast. Dakwah yang efektif harus mampu hadir di ruang-ruang digital ini dengan pendekatan yang menarik dan relevan. Dakwah Visual: Menggunakan video pendek yang inspiratif dan mudah dipahami. Dakwah Interaktif: Mengadakan diskusi online, webinar, dan sesi tanya jawab di media sosial. Dakwah Kreatif: Mengemas nilai-nilai Islam dalam bentuk komik, animasi, hingga storytelling yang relatable. 2. Islam sebagai S...