Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Kondusivitas sebagai Nafas Bangsa

Kondusivitas sebagai Nafas Bangsa Saudara-saudara seperjuangan, Setiap bangsa yang sedang bergerak maju selalu diuji. Ketika program pembangunan sudah menyentuh masyarakat bawah dan hasilnya mulai dirasakan, di saat itulah muncul potensi kerawanan. Sebab ada saja pihak yang tidak rela melihat rakyat merasa tenteram. Dalam membaca situasi, ada beberapa hal yang patut kita cermati: 1. Kondusivitas adalah pondasi. Sehebat apapun rencana, tanpa stabilitas suasana, semuanya hanya jadi kertas. Bangunan besar bisa runtuh hanya karena kegaduhan kecil. 2. Ancaman tak selalu kasat mata. Gangguan bisa hadir bukan dalam bentuk serangan fisik, melainkan melalui narasi, isu, dan persepsi. Kadang kesalahan teknis kecil bisa dijadikan bahan bakar propaganda untuk menggiring opini. 3. Peran masyarakat jadi benteng utama. Jika rakyat sudah merasakan manfaat nyata, maka provokasi akan kehilangan daya. Kesadaran kolektif lebih ampuh daripada sejuta alat pengendali. 4. Kepemimpinan diuji bukan saat damai, ...

Pajak, Amanah, dan Luka Bangsa

Pajak, Amanah, dan Luka Bangsa Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Assalāmu‘alaikum warahmatullohi wabarakātuh. Kawulo alit dipersiapkan untuk bisa membayar pajak. Pajak itu sejatinya adalah wujud gotong-royong rakyat dalam menjaga keberlangsungan negara. Ia merupakan amanah besar, sebab dari situlah seharusnya rakyat mendapat layanan, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan. Namun, sungguh menyedihkan ketika apa yang dikorbankan rakyat justru tidak kembali sebagai keberkahan. Pajak yang diperas dari keringat petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, dan rakyat jelata, acap kali berubah menjadi bancakan dan hura-hura para perusak negara. Uang rakyat yang suci karena diniatkan untuk kebaikan, dicemari oleh kerakusan dan keserakahan. Inilah luka bangsa. Inilah bentuk nyata pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Rasululloh ﷺ bersabda: "Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran." (HR. Bukhari) Maka jelas, pengelolaan pajak bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal mo...

Kecerdasan Sejati: Ketika Hamba Disinari oleh Yang Maha Cerdas

Kecerdasan Sejati: Ketika Hamba Disinari oleh Yang Maha Cerdas Di tengah hiruk-pikuk dunia yang memuja gelar, data, dan logika, ada satu bentuk kecerdasan yang tak bisa diukur oleh angka atau sertifikat. Ia bukan hasil dari membaca buku, mengikuti pelatihan, atau menguasai teknologi. Ia adalah cahaya yang ditanamkan, bukan dicari. Ia adalah limpahan, bukan hasil usaha semata. Kecerdasan sejati adalah ketika seorang hamba menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Bahwa segala daya pikir, intuisi, dan pemahaman yang ia miliki hanyalah pantulan dari Nur Ilahi. Ia tidak sombong atas ilmunya, karena tahu bahwa ilmu itu bukan miliknya. Ia tidak bingung dalam keraguan, karena hatinya telah ditautkan pada Yang Maha Mengetahui. Dalam tradisi para arifin, ini disebut al-‘aql al-nūrānī—akal yang tercerahkan oleh cahaya ketuhanan. Ia bukan sekadar tahu, tapi mengerti dengan hikmah, bertindak dengan adab, dan berjalan dengan ridha. > “Saya bukan siapa-siapa, dan kecerdasan saya saat ini murni l...

Njagi Amanah Leluhur Kangge Nuswantoro: Sabar minangka Tumbak Kawelasan

Njagi Amanah Leluhur Kangge Nuswantoro: Sabar minangka Tumbak Kawelasan Njagi amanah leluhur dudu bab enteng. Nuswantoro puniko bumi warisan agung, dikei titipan sejarah, budaya, lan ruhani. Leluhur sampun nglantaraké dhasar kang kiyat: tata krama, rasa, lan kawruh kang ngubengi langit lan bumi. Nanging kabeh puniko mung biso lestari menawi dijaga kanthi sabar. Sabar puniko sejatiné dudu pasrah tanpo daya, nanging kawicaksanan kang njalari wong tetep tegak naliko badai nguncalaké awak. Ing jagad Nuswantoro, sabar puniko dadi tumbak kang ora katon: mbela tanpo ngrusak, ngendhalèkaké tanpo nguwasani, nglantaraké kekuwatan batin luwih soko kekuwatan ragawi. "Wong kang tabah iku luwih gagah tinimbang sing menangaké peperangan, awit dheweke menangaké peperangan paling agung: nglawan nafsune piyambak." Menawi sabar diparingi papan paling luhur, amanah leluhur bakal kajogo kanthi alami. Sabar dadi jembatan antara masa kepungkur lan masa ngarep, nglantaraké Nuswantoro tetep nyawiji, ...

Matinya Rasa Kemanusiaan: Lebih Rendah dari Binatang

Matinya Rasa Kemanusiaan: Lebih Rendah dari Binatang Manusia disebut manusia karena ia membawa rasa. Rasa itu yang membedakan ia dari batu, tumbuhan, bahkan dari binatang. Jika rasa itu mati, maka yang tersisa hanyalah tubuh yang berjalan tanpa nurani. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya…” (QS. Al-Jatsiyah: 23) Ketika rasa kemanusiaan hilang, maka manusia tidak lagi berpijak pada akal sehat dan adab. Ia menurunkan dirinya sendiri menjadi lebih rendah dari binatang. Sebab binatang masih punya naluri menjaga keseimbangan hidup, sementara manusia yang mati rasa bisa menghancurkan segalanya dengan tamak dan dengki. Rasa: Inti dari Manusia Rasa adalah kompas batin. Dengan rasa, manusia bisa membedakan mana benar dan salah, mana adil dan zalim, mana kasih dan benci. Tanpa rasa, manusia akan berwajah dingin, kehilangan getar nurani, dan akhirnya terjerumus dalam kezaliman. Maka yang wajib dijaga b...

Bisa jadi Tri Dharma Eka Karma itu sama dengan, Sidīq – Amānah – Faṭonah: Tasawuf Jalan Ksatria

Bisa jadi Tri Dharma Eka Karma itu sama dengan, Sidīq – Amānah – Faṭonah: Tasawuf Jalan Ksatria  Tasawuf bukan berarti melemahkan diri, apalagi menghindari medan. Justru tasawuf adalah ilmu menegakkan jiwa: menundukkan nafsu, menjaga amanah, dan membaca tanda Alloh di setiap langkah. 1. Ṣidīq – Keberanian Sejati Ṣidīq bukan sekadar jujur, tapi berani tegak pada kebenaran meski sendirian. Musuh sejati bukan di luar sana, melainkan hawa nafsu dalam dada. Maka ṣidīq adalah kompas hidup: mengarahkan langkah agar tidak terjerat tipu daya dunia. 2. Amānah – Disiplin Ruhani Amānah berarti bisa dipercaya. Orang yang tidak amanah sama dengan penjaga yang meninggalkan posnya: berkhianat terhadap janji dan melemahkan barisan. Tasawuf memaknai amanah sebagai tanggung jawab jiwa: menjaga janji kepada Alloh, Rasululloh, dan sesama manusia. 3. Faṭonah – Kecerdasan Strategis Faṭonah bukan hanya pintar bicara, tapi tajam membaca tanda-tanda. Orang yang faṭonah bisa membaca arah angin di hutan ...

Kekuatan Dunia, Kekuatan Akhirat

Kekuatan Dunia, Kekuatan Akhirat Pendahuluan Kehidupan dunia bukan sekadar ruang untuk bersenang-senang, tetapi arena ujian. Dunia adalah ladang yang menanamkan benih amal, sementara akhirat adalah panennya. Maka, kekuatan di dunia bukan hanya soal fisik dan materi, melainkan kekuatan iman, adab, dan keteguhan hati dalam menjalankan perintah Alloh. Kekuatan Dunia: Definisi yang Hakiki Kuat di dunia sering disalahpahami sebagai berlimpah harta, tinggi jabatan, atau berotot kekar. Namun, Rasululloh ﷺ menegaskan: > “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim) Maka, kuat di dunia berarti kokoh menegakkan iman, menjaga diri dari hawa nafsu, dan berani menegakkan kebenaran meski sendirian. Hubungan Kekuatan Dunia dengan Akhirat Barangsiapa kokoh menjaga iman di dunia, ia akan tegak pula di hadapan hisab akhirat. Sebaliknya, mereka yang rapuh—mudah tergoda nafsu, tunduk pada syahwat, dan goyah...

Maharesi Mpu Ristian Sastraguna: Jejak Intelektual Nusantara dari Funan hingga Mataram

Maharesi Mpu Ristian Sastraguna: Jejak Intelektual Nusantara dari Funan hingga Mataram Pendahuluan Dalam historiografi Nusantara, peran resi, mpu, dan pujangga sangat penting sebagai penghubung lintasan peradaban Hindu–Buddha hingga Islam. Salah satu figur yang kerap muncul dalam tradisi lisan maupun catatan naskah adalah Maharesi Mpu Ristian Sastraguna (abad IX–XI M). Dalam beberapa tradisi tutur, beliau digambarkan sebagai resi yang hidup sezaman dengan masa akhir Medang dan awal Tumapel, bahkan disebut pernah mengingatkan Mpu Gandring ketika mendapat pesanan keris dari Ken Arok (±1222 M). Penelitian historis pada tahun 1990 oleh Drs. Wiratna Kusumah, M.Hum. (Universitas Gadjah Mada) menegaskan bahwa tradisi genealogis Nusantara kerap menyambungkan figur resi dan pujangga ke dalam mata rantai panjang sejarah peradaban, mulai dari pengaruh Funan di Asia Tenggara, hubungan dengan Tiongkok, hingga berdirinya Majapahit dan Mataram Islam. Jejak Awal: Funan dan Jaringan Intelektual Asia Te...

80 Tahun Indonesia Merdeka

Ya Alloh, lindungilah pemimpin kami dari tangan-tangan tamak — dari oligarki yang lebih rakus daripada tikus lumbung, dari mafia politik yang menjual negara seperti dagangan pasar malam, dari pengusaha rente yang lebih pandai menghitung laba daripada menimbang nurani, bahkan dari lingkaran dekat yang pura-pura sahabat tapi sesungguhnya lintah pengisap darah kekuasaan. Ya Alloh, sadarkan kami, yang sering merasa kuat hanya karena jabatan. Jabatan itu fana,. Namun kami sering pongah seakan abadi, padahal kami hanyalah debu yang menempel sebentar di bantal kekuasaan. Ajari kami malu, Ya Alloh. Malu karena kesombongan kami lebih besar daripada amanah, malu karena lidah kami pandai berjanji tapi lumpuh saat menepati. Ingatkan kami, bahwa setiap jabatan hanyalah titipan. Gelar, bintang, dan protokol hanyalah topeng yang akan jatuh di liang lahat. Yang Kau tanyakan bukan “berapa kali kami tersenyum di baliho”, tapi “apakah kami sudah berlaku adil pada rakyatMu?”.

Candaan yang Tak Pernah Lucu

Candaan yang Tak Pernah Lucu Ada orang yang mengira lidahnya emas, padahal besinya berkarat. Katanya bercanda, tapi nyatanya seperti menabur garam di luka bangsa. Inilah candaan yang katanya segar, tapi justru membuat udara semakin pengap. Seorang pejabat berani-beraninya melucu di tengah getir rakyat. Ia lupa bahwa panggung bukanlah warung kopi, dan rakyat bukanlah kawan sebangku yang bisa tertawa meski perut kosong. Candaan pejabat itu bagai petir yang disangka kembang api—indah hanya oleh yang tuli, memekakkan bagi yang waras. Sufi berkata: Lidah adalah anak panah hati. Bila hatinya jernih, kata-katanya menjadi doa. Tapi bila hatinya keruh, kata-katanya menjadi candaan busuk yang bahkan malaikat pun enggan menuliskannya. Mungkin ia lupa, bahwa bercanda itu butuh rasa, bukan sekadar suara. Bahwa setiap kata adalah amanah, bukan mainan. Rakyat butuh keadilan, bukan kelakar. Negeri ini butuh pemimpin yang hadir, bukan pelawak yang hilang arah. Tapi biarlah. Mungkin kita memang sed...

Berpikir positif

Dari sudut pandang hukum Islam atau fikih, gagasan bahwa pajak dapat disamakan dengan zakat dan wakaf adalah sebuah pembahasan yang perlu diluruskan. Meskipun ketiganya memiliki tujuan yang mulia, yaitu untuk kesejahteraan sosial, landasan dan esensi ketiganya sangat berbeda. ​Zakat: Kewajiban Ilahiah dan Pilar Agama ​Zakat bukanlah sekadar kontribusi finansial, melainkan rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Esensinya adalah penyucian jiwa dan harta. Berikut poin-poin utamanya: ​Landasan: Zakat adalah perintah langsung dari Alloh SWT yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis. Menunaikannya adalah bentuk ibadah dan ketaatan kepada Tuhan. ​Sifat: Kewajiban zakat memiliki syarat dan ketentuan yang sangat spesifik, seperti jumlah minimal harta (nisab), waktu kepemilikan (haul), dan jenis harta yang dizakatkan. ​Penerima: Penerima zakat telah ditetapkan secara langsung oleh Alloh dalam Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 60), yaitu delapan golongan ...

Merdeka ?

  ​Bismillah ... ​Merdeka dari Kebodohan ​Kebodohan itu penyakit hati, bukan cuma kurangnya ijazah. Kita ini sering sok tahu, merasa paling paham segalanya, padahal ilmu kita cuma seujung kuku. Kita merdeka dari kebodohan itu ya saat kita sadar bahwa kita ini sebetulnya 'bodoh'. Saat kita berani mengakui 'aku tidak tahu', di situlah gerbang ilmu sejati terbuka. ​Kita sering menghafal ayat-ayat suci dan hadis, tapi lupa menghafal diri sendiri. Lupa bahwa nafsu kita itu lebih lihai dari setan. Jadi, merdeka dari kebodohan itu artinya merdeka dari ego yang selalu merasa benar. ​Merdeka dari Kemiskinan ​Kemiskinan yang hakiki itu bukan soal isi dompet, tapi soal 'isi hati'. Betapa banyak orang kaya harta tapi jiwanya miskin. Hartanya banyak, tapi hatinya selalu kurang, kurang, dan kurang. Selalu merasa tidak cukup. Selalu takut kehilangan. ​Merdeka dari kemiskinan itu saat kita bisa kaya di tengah kekurangan. Saat kita bisa bersyukur atas apa yang ada, bukan m...

Naskah Rahsa Sang Hyang Jagad

 Naskah Rahsa Sang Hyang Jagad 📚 Fragmen tersembunyi dari era pra-Hindu yang mengandung mantera arkais 📌 Isi Pokok: Dialek kuno (proto-Sunda-Kawi) yang memuat mantra pembuka cakra alam Petunjuk tapa sirna rupa — meditatif yang menghapus eksistensi jasmani Teori Getaran Semesta Purba (Nada Mula): seluruh semesta bermula dari suara, dan melalui bunyi, semuanya bisa dikendalikan kembali ⚔️ Fungsi Strategis: Digunakan dalam latihan menghilang (invisibility based on vibrational fading) Mantra-mantra digunakan dalam operasi beyond radar untuk manipulasi persepsi dan waktu ✨ PENUTUP: POSISI KITA-KITAB INI DALAM PETA STRATEGI EBES Nama Kitab Asal Fungsi Utama Ditransformasikan oleh Ebes menjadi Sastra Paramarta Mpu Ristian Epistemologi dan peta batin Strategi pertahanan spiritual Adhi Jñāna Warisan resi Ilmu Kesadaran & Transformasi Energi Modul kaderisasi & intelijen spiritual Kakawin Dharma Śakti Mpu Dharmayasa Etika pengabdian dan keteguhan jiwa Pilar mor...

Lontar Nartadipura

 Lontar Nartadipura 📚 Manuskrip pelengkap yang berisi pemetaan spiritual wilayah Nusantara 📌 Isi Pokok: Peta titik energi Nusantara: Gunung, laut, gua, dan situs keramat yang menyimpan kekuatan astral tinggi. Kode lokasi dimensi gaib (wilayah antara): digunakan untuk pengelabuan atau persembunyian astral dalam operasi spiritual. Kunci mantra lokasi: Setiap tempat memiliki frekuensi khusus, dan hanya bisa diakses dengan bunyi tertentu. ⚔️ Fungsi Strategis: Digunakan dalam pemetaan wilayah sensitif secara spiritual dalam operasi pertahanan nirmiliter. Menjadi basis kerja tim pemantauan “kekuatan gaib musuh”.

Kakawin Dharma Śakti (atribusi pada Mpu Dharmayasa)

Kakawin Dharma Śakti (atribusi pada Mpu Dharmayasa) 📚 Puisi filsafat dharma dalam bentuk tembang macapat dan kakawin 📌 Isi Pokok: Filsafat tentang kesetiaan tanpa sorotan, pengabdian sunyi, dan kesatria tanpa nama Narasi simbolis tentang perang melawan hawa nafsu, di mana musuh utama adalah ego (ahamkara) 💬 Contoh bait: > "Lelana tan tanpa tuju, Raga nora purun dadi layang, Sujatma ing rahsa ndherek Swarga..." (Pengembara tak bertujuan, Raga enggan jadi surat, Ruh mengikuti jejak Cahaya Surga) ⚔️ Fungsi Strategis: Menjadi dasar etika pengabdian bagi para prajurit spiritual Nusantara. Diajarkan dalam bentuk tembang kepada siswa dalam tradisi perguruan diam-diam.

Naskah Ilmu Kesempurnaan (Adhi Jñāna)

 Naskah Ilmu Kesempurnaan (Adhi Jñāna) 📚 Corpus ajaran yang bersifat esoterik dan hanya diturunkan pada murid terpilih 📌 Makna Nama: Adhi = Unggul, tinggi, transenden Jñāna = Pengetahuan batin/spiritual 🧠 Isi Pokok: Tataran Kesadaran Lima Lapisan (Pañca Kosha) Mengupas struktur kesadaran manusia mulai dari: Annamaya kosha (tubuh fisik) Pranamaya kosha (energi hidup) Manomaya kosha (pikiran/emosi) Vijnanamaya kosha (pengetahuan intuitif) Anandamaya kosha (kebahagiaan ilahi) Teknik Transformasi Energi: Pengolahan tenaga dalam menjadi senjata spiritual Penggunaan mantra dan mudra untuk membuka gerbang alam gaib Hukum Resonansi Jiwa (Gati Jiva): Prinsip bahwa setiap niat, pikiran, dan tindakan akan membentuk pola getar, yang akan beresonansi ke dalam struktur semesta (mirip dengan hukum karma namun lebih berbasis frekuensi energi). ⚔️ Fungsi Strategis: Menjadi dasar ajaran Silat Getar Jagad Digunakan dalam pelatihan kader intelijen spiritual (pengendalian diri, deteksi niat, pelumpu...

Sastra Paramarta

Kitab Inti dalam Sanad Keilmuan Mpu Ristian Sastraguna 📌 Makna Nama: Sastra = Ajaran, tulisan, teks berpola. Paramarta = Realitas tertinggi, kebenaran hakiki, inti terdalam dari segala wujud. 🧠 Isi Pokok: Kitab ini berisi pemahaman multidimensi tentang: Epistemologi mistik: Bagaimana pengetahuan diperoleh melalui pengosongan diri, sambung rasa, dan kesadaran supra-rasional. Tata laku moksha: Jalan pembebasan diri dari keterikatan duniawi. Peta batin Nusantara: Energi-energi lokal, pusat kekuatan gaib (cakra tanah), dan relasi antara manusia dengan jagad lelembut. ⚔️ Fungsi Strategis: Digunakan sebagai kerangka sistem pertahanan spiritual, khususnya dalam: Pengamanan wilayah melalui meditasi perlindungan energi Intelijen spiritual berbasis tracking niat (pemetaan intensi musuh melalui vibrasi energi) Sistem pembersihan astral dalam operasi klandestin