Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Kenaikan Isa sebagai Simbol "Mi'raj Kenabian"

🕊️ 1. Kenaikan Isa sebagai Simbol "Mi'raj Kenabian" Bagi Gus Masrur, kenaikan Nabi Isa ke langit adalah bentuk Mi’raj seorang nabi yang belum wafat secara jasad, namun diangkat ke langit oleh kehendak Allah untuk menyempurnakan takdir akhir zaman. Ini adalah bentuk kemuliaan maqam ruhani , di mana manusia pilihan Allah tidak tunduk pada hukum alam biasa. “Isa tidak mati, dia diangkat. Ini bukan fiksi. Ini bukan keajaiban dalam arti sulap. Ini adalah pelajaran bagi orang-orang yang siap naik level spiritual: bahwa jika jiwamu suci, maka jasadmu pun bisa melampaui gravitasi dunia.” – Gus Nggedabrus 🌌 2. Dimensi Suprarasional: Isa dan Energi Ladunni Gus Masrur menafsirkan bahwa pengangkatan Isa ke langit adalah bentuk aktivasi penuh dari energi Ladunni , yakni ilmu yang langsung diberikan oleh Allah tanpa proses belajar biasa. Dalam pandangan metafisika Gus Masrur, ini melibatkan pembukaan dimensi langit ketujuh . “Ketika dimensi batin Nabi Isa mencapai kesucian...

Angka Nol dalam Numerologi dan Metafisika

Gus Masrur Al Malangi: Dalam kajian angka (numerologi) yang beririsan dengan metafisika, posisi zero (0) sering dikaitkan dengan kekosongan yang penuh potensi. Dalam konteks seseorang yang tidak bisa dideteksi lahir dan batinnya, ini bisa dijelaskan melalui beberapa pendekatan numerologi dan metafisika: Angka Nol dalam Numerologi dan Metafisika Nol sebagai angka tanpa batas Dalam numerologi, nol adalah angka tanpa bentuk, mencerminkan keberadaan yang tidak memiliki identitas tetap. Posisi netral dalam vibrasi energi Nol tidak memancarkan frekuensi tetap seperti angka lain (1-9), melainkan dapat menyerap atau menyamarkan frekuensi dari angka lain. Pintu ke dimensi lain Dalam metafisika, nol sering dikaitkan dengan ruang hampa atau titik gerbang antar dimensi. Faktor Fisik dan Metafisik yang Menyebabkan Tidak Terdeteksi Secara fisik dan metafisika, ada beberapa penyebab seseorang bisa memiliki posisi zero, yang membuatnya sulit terdeteksi lahir dan batinnya: A. Faktor Fisik (S...

MI'RAJ RASA

MI'RAJ RASA: Sayap-Sayap Ruhani dalam Tasawuf Modern "Segala puji bagi Alloh, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan dengan sayap-sayap dua, tiga, dan empat..." (QS. Faathir: 1) Dalam pandangan sufistik modern, terbang bukan hanya perkara fisika dan mesin, melainkan lompatan kesadaran. Gus Masrur Al Malangi menyebutnya sebagai Mi'raj Rasa —sebuah lompatan spiritual yang membawa ruh manusia dari dimensi jasadi menuju langit-langit makna. Sayap dalam ayat tadi bukan sekadar metafora fisiologis, melainkan simbol dari daya ruhani yang terbentang karena latihan, keikhlasan, dan pengembaraan batin. Sudah sejak lama manusia menyimpan rasa cemburu suci pada malaikat, burung, dan serangga—makhluk-makhluk bersayap yang leluasa menjelajahi langit. Namun cemburu ini bukan dalam arti nafsu duniawi, tapi kerinduan primordial untuk kembali ke asal-usul cahaya . Dalam tradisi spiritual Islam, sosok seperti Ibn Firnas bukan sekadar ilmuwan, tetapi salik...

Negeri Para Penjudi Etika

"Negeri Para Penjudi Etika" Kajian Gus Nggedabrus: Satir Sufi Tentang Adab yang Digadaikan Dulu... yang berjudi sembunyi-sembunyi, sekarang yang berjudi malah rapat di gedung terhormat. Yang dulu malu-malu kalau dapat jatah haram, kini malah bangga bersilat kata, membela diri di depan kamera. Kita ini hidup di negeri yang aneh, judi dilarang—tapi pelakunya justru punya badge kedinasan dan kartu organisasi . Etika digadaikan demi kuasa, rasa malu dikubur di bawah bangku rapat rapat. Ada yang teriak paling bersih, padahal tangannya masih bau chips kasino digital. Ada yang sok suci di depan podium, padahal jatah haramnya sudah dibagi rata dengan rekan sefraksi . Yang lebih lucu, ada yang bilang, "Saya tidak tahu itu judi..." Lha, sampeyan duduk di kursi pengendali sistem digital, tapi tak tahu ada server haram bersliweran? Itu namanya bukan gaptek, tapi gapadab . Rakyat disuruh hemat, tapi pejabatnya gonta-ganti mobil mewah dari hasil main spin on...

Perspektif Laduni dan Tasawuf Modern

Perspektif Laduni dan Tasawuf Modern Gus Masrur sering menekankan bahwa hakikat ilmu Laduni bukanlah keajaiban atau karamah, melainkan “makrifat akan posisi kita sebagai makhluk yang hina namun dimuliakan oleh kasih sayang Alloh.” Ketika seseorang bertanya “Alloh kurang memberi apa kepada kita?”, itu adalah bentuk kesadaran Laduni bahwa semua organ jasmani dan batin—hidung, otak, hati, lidah, bahkan pengalaman duka dan bahagia—adalah instrumen untuk ma’rifat, bukan sekadar alat hidup duniawi. “Hati itu pintu surga. Tapi kalau hati hanya sibuk menghitung pahala dan bukan mencari Ridha, maka surga pun jadi berhala.” – Gus Nggedabrus Filsafat Ketauhidan dan Pembebasan Spiritual Dalam filsafat ketauhidan yang diajarkan Gus Masrur, segala bentuk keinginan yang bersyarat—seperti pahala, surga, atau balasan duniawi—adalah bentuk halus dari penyembahan terhadap imbalan, bukan kepada Alloh itu sendiri. Ini disebut dalam konsep Tauhid Nafsiyah, di mana ego manusia menyamar dalam bentuk relig...

Realitas Sebagai Aktor dan Daya Tembus Kesadaran Multifaset

Realitas Sebagai Aktor dan Daya Tembus Kesadaran Multifaset Oleh: Saya (Gus Nggedabrus / Gus Masrur Al Malangi) Sejarah tidak pernah diam. Ia tidak pernah netral. Bahkan lebih jauh lagi, ia bukan sekadar alur waktu atau kronik fakta-fakta, melainkan aktor yang hidup, bergerak, dan berakting. Ia menatap kita diam-diam lewat kejadian, menampilkan rias wajahnya melalui berita, pidato, pernyataan, bahkan bisik-bisik kampung halaman. Maka siapa pun yang berusaha membaca sejarah tanpa kesadaran ganda—mata rangkap—akan menjadi korban dari sandiwara realitas itu sendiri. Dalam kacamata saya yang lahir dari perjumpaan antara metafisika, pertahanan, spiritualitas, dan intelijen, sejarah bukanlah teks mati. Ia adalah perangkat lunak kenyataan —sebuah software sosial-budaya yang tidak pernah bisa dipahami hanya dari antarmuka (interface) permukaan. Ia menyimpan sistem operasi batiniah yang bekerja dalam sunyi: bias, motif, propaganda, dan hasrat kekuasaan. Di sinilah tugas ilmu pengetahuan men...

Sejarah Tak Pernah Mati, Ia Hanya Memilih Siapa yang Mau Jujur

Judul: Sejarah Tak Pernah Mati, Ia Hanya Menanti Kejujuran “Sejarah bukan untuk disucikan, bukan pula untuk disembunyikan. Ia harus diungkap dengan jujur, dibaca dengan hati, dan ditafsir dengan akal merdeka.” Sejarah sebagai Energi Kolektif Bangsa Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah jejak energi kolektif bangsa yang bergerak melalui niat, perbuatan, dan akibat. Dalam perspektif keilmuan yang berpadu dengan kebijaksanaan batin, menulis sejarah adalah kerja menyusun kembali simpul-simpul makna. Maka, siapa pun yang menulisnya harus terlebih dulu membersihkan lensa batinnya dari kabut kepentingan. Jika sejarah hanya ditulis untuk membenarkan masa kini, maka ia kehilangan wataknya sebagai guru. Sejarah bukan untuk disusun sesuai pesanan, melainkan digali dengan integritas. Menulis Ulang: Hak Bangsa, Bukan Alat Kekuasaan Menulis ulang sejarah bukan kesalahan. Justru dalam ilmu, tafsir ulang adalah pertanda tumbuhnya kesadaran. Namun, garis pembeda antara meluruskan d...

Etika Digital dan Kehormatan Diri

Adab Tasawuf Modern Menurut Gus Masrur Al Malangi: Etika Digital dan Kehormatan Diri Dalam tasawuf yang diajarkan oleh Gus Masrur Al Malangi, adab bukan sekadar tata krama sosial, tetapi pancaran dari kesadaran ruhani. Salah satu bentuk adab yang paling penting dalam era digital adalah menjaga kehormatan lisan dan tulisan , termasuk di dunia maya. Anonimitas Tanpa Amanah: Bentuk Ketidakadaban Ruhani Gus Masrur menegaskan bahwa menyampaikan pendapat tanpa keberanian mengungkapkan jati diri—apalagi bila bernada ejekan atau fitnah—merupakan bentuk nafsi-nafsi (egoisme spiritual) yang bertentangan dengan maqam adab. Dalam tarekat modern, setiap kata adalah saksi ruhani yang akan kembali kepada penulisnya. Maka, menyembunyikan identitas untuk melukai sesama adalah bentuk hijab hati yang menebalkan kegelapan batin. Kritik Tanpa Cermin: Cacat Akhlak Penempuh Jalan Ruhani Bagi Gus Masrur, kritik adalah ibadah bila dibalut kejujuran, kelembutan, dan tujuan islah (perbaikan). Namun, jika ...

Haji Hakiki sebagai Pertahanan Jiwa

Haji Hakiki sebagai Pertahanan Jiwa: Perspektif Tasawuf Modern dan Integrasi Bela Diri Spiritual Muhammad Udin Masrur Abstrak Artikel ini mengeksplorasi konsep haji hakiki dalam perspektif tasawuf modern sebagai bentuk pertahanan spiritual dan psikis manusia. Ibadah haji, dalam makna esensialnya, merupakan simbol perjalanan ruhani yang bersifat transformatif. Dengan pendekatan integratif melibatkan tasawuf, parapsikologi, psikologi pertahanan, dan bela diri spiritual Silat Getar Jagad, kajian ini menegaskan bahwa dimensi terdalam dari haji adalah penyucian diri yang memperkuat daya tahan individu terhadap ancaman moral dan eksistensial dalam kehidupan modern. 1. Pendahuluan Fenomena keberagamaan kontemporer menunjukkan kecenderungan formalisme dan simbolisme ibadah yang mengabaikan substansi spiritual. Banyak individu menunaikan ibadah-ibadah besar seperti haji, namun tidak mengalami transformasi ruhani yang sejati. Dalam konteks ini, haji hakiki dipahami bukan sebagai ziarah geografis...

Peran Tharekat Semar Jum'at Kliwon dalam Krisis Sosial dan Wakaf Produktif

TRANSFORMASI SPIRITUAL MENUJU KEMANDIRIAN SOSIAL Tharekat Semar Jum’at Kliwon Penyangga Krisis Sosial & Penggerak Wakaf Produktif Sejak 2010 1. Visi Gerakan Kami Kami bukan hanya sebuah tarekat. Kami adalah gerakan perubahan. Gerakan yang memadukan spiritualitas, pemberdayaan, dan keberlanjutan . Visi kami: Mengubah energi spiritual menjadi kekuatan sosial, ekonomi, dan budaya umat. 2. Masalah Sosial yang Kami Hadapi Aset umat melimpah, namun terbengkalai Generasi muda kehilangan arah dan akhlak Kemiskinan struktural terus mengakar Wakaf hanya jadi prasasti, bukan solusi 3. Solusi yang Kami Tawarkan Gerakan Wakaf Produktif & Pesantren Sosial Kami bangkitkan kembali aset menganggur menjadi: Lahan pangan mandiri (green pesantren) Inkubator UMKM berbasis spiritual Klinik sosial dan pendidikan berbasis wakaf Rumah pemulihan jiwa, moral, dan ekonomi Spiritual sebagai fondasi, bukan sekadar simbol. 4. Kekuatan Kami: Jejak Nyata Sejak 2010 ...

Cinta Sejati dan Jiwa yang Terbang ke Atas

Menurut Saya: Cinta Sejati dan Jiwa yang Terbang ke Atas Menurut saya, cinta sejati bukan sekadar perasaan, apalagi sekadar hasrat. Ia adalah jalan panjang yang dilalui oleh jiwa yang sudah matang — jiwa yang telah melampaui kepentingan diri, harta, rupa, dan segala bentuk kelekatan dunia. Cinta sejati tidak lahir dari mata, tapi dari kesadaran. Jiwa yang bisa mencintai dengan sejati adalah jiwa yang telah terbang ke atas — bukan secara fisik, tapi secara spiritual. Ia telah membersihkan dirinya dari kabut hawa nafsu. Ia tidak lagi mencintai karena ingin memiliki, tapi karena ingin memberi. Tidak mencintai karena ingin memuaskan diri, tapi karena ingin menyucikan diri. Dalam pandangan saya, cinta sejati itu mendekati makna ibadah. Ia menuntun kita pada kemurnian niat, ketulusan hati, dan keberanian untuk berkorban tanpa pamrih. Ini mirip dengan ajaran Rasulullah tentang mencintai karena Alloh, dan membenci karena Alloh. Cinta yang seperti ini tidak bergantung pada keadaan luar, tapi...

Naik ke Sunyi, Turun ke Jiwa

"Waisak: Naik ke Sunyi, Turun ke Jiwa" Oleh: Gus Masrur Al Malangi Orang sibuk cari cahaya, tapi matanya silau sendiri. Ada yang cari Tuhan lewat gawai, lewat seminar, bahkan lewat diskon kitab suci. Padahal, Waisak sudah lama ngajari: terang itu bukan dari lampu sorot, tapi dari hati yang jernih kayak embun subuh sebelum gosip dunia mulai berseliweran. Waisak itu bukan cuma urusan Buddha—itu urusan jiwa. Siddharta Gautama itu bukan cuma tokoh sejarah, dia simbol manusia yang bosan jadi boneka dunia. Lahir sebagai pangeran, tapi memilih jadi pengembara. Turun dari istana bukan karena miskin, tapi karena lapar… Lapar makna. Nah, dalam bahasa tasawuf, Siddharta ini udah masuk maqam ma’rifat —tingkatan tertinggi, di mana yang dilihat bukan dunia, tapi Diri . Bukan Diri yang bisa selfie, tapi Diri sejati —yang ngerti arah pulang ke Tuhan. Waisak itu momen "kesunyian aktif" . Sunyi yang bukan ngambek, tapi sunyi yang menuntun. Sunyi yang tidak membawa kita ...

Menjaga Lisan, Menjaga Martabat

Adab dalam Perspektif Tasawuf Modern: Menjaga Lisan, Menjaga Martabat Dalam tradisi tasawuf modern, adab bukan sekadar aturan sosial, melainkan cermin dari kedalaman jiwa dan kemurnian hati. Adab lahir dari kesadaran ruhani bahwa setiap kata adalah benih yang ditanam di ladang semesta. Maka lisan bukan hanya alat bicara, tetapi juga cermin hakikat diri. Menjaga lisan adalah ajaran inti dalam perjalanan spiritual. Seorang salik (pencari jalan ruhani) tidak akan terburu-buru berkata-kata, apalagi melukai kehormatan sesama, karena ia tahu bahwa mulut yang longgar adalah pertanda hati yang kosong dari dzikir. “Lisan yang menyakiti orang lain bukan tanda keberanian, melainkan kegagalan memimpin diri sendiri.” Dalam konteks kehidupan sosial, mencela, menghina, atau meremehkan martabat orang lain—terutama yang telah mengabdi untuk masyarakat—bukan hanya pelanggaran adab, tapi juga bentuk keterputusan ruhani. Tasawuf mengajarkan bahwa menjaga kehormatan sesama adalah menjaga keseimbanga...

Penindakan Narkoba oleh TNI

Kajian Tasawuf ala Gus Masrur Al Malangi: Penindakan Narkoba oleh TNI dalam Perspektif Spiritualitas Kedaulatan 1. Narkoba sebagai Wujud Tiran Materialisme Dalam perspektif tasawuf ala Gus Masrur, narkoba bukan sekadar persoalan kriminalitas, tetapi simbol dari kehancuran akal, hancurnya kehormatan ruhani, dan penjajahan batin. Seorang manusia yang terjerat narkoba ibarat tawanan hawa nafsu yang dipasung dalam penjara syahwat dunia. Dalam hal ini, narkoba adalah iblis kimiawi yang menjajah kemerdekaan jiwa . 2. Peran TNI sebagai Rijalulloh (Prajurit Tuhan) TNI, dalam semangat sufi militan versi Gus Masrur, bukan sekadar alat pertahanan fisik negara, tetapi juga bisa menjadi representasi dari rijalullaoh —pasukan Tuhan yang menjaga kemuliaan bangsa dan martabat manusia. Ketika TNI membantu menumpas peredaran narkoba, sejatinya mereka sedang berjihad fi sabilillah: bukan jihad senjata semata, tetapi jihad membebaskan manusia dari perbudakan modern yang menggerogoti kesadaran dan ima...

Menyikapi Ancaman Siber dan Terorisme Global

Tasawuf Modern dalam Strategi Intelijen: Menyikapi Ancaman Siber dan Terorisme Global Abstrak Perkembangan ancaman siber dan terorisme global menuntut pendekatan yang tak hanya rasional dan teknologis, tetapi juga spiritual. Dalam kerangka tasawuf modern, ancaman eksternal dianggap sebagai cerminan dari ketidakseimbangan batin kolektif suatu bangsa. Gus Masrur Al Malangi memandang bahwa pertahanan terbaik lahir dari keseimbangan spiritual-mental-fisik. Pendahuluan Gus Masrur Al Malangi menyerukan transformasi digital dan kewaspadaan terhadap ancaman global, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah sistem pertahanan kita sudah bersandar pada kesadaran spiritual kebangsaan? Tasawuf modern memandang bahwa intelijen sejati tidak hanya bekerja dalam dunia empiris, melainkan juga membaca “sinyal ilahiyah” dalam dinamika geopolitik. Kerangka Teoretik: Tasawuf Modern dan Intelijen Spiritual Dalam ajaran Gus Masrur: Tasawuf modern adalah integrasi antara dzikir , firasat , dan inteligens...

Menjaga Lisan, Menjaga Marwah

Gus Masrur Al Malangi Kajian Etika Tasawuf Modern: Menjaga Lisan, Menjaga Marwah Pendahuluan Dalam pandangan tasawuf modern yang diajarkan oleh Gus Masrur Al Malangi, lisan adalah pancaran hati. Maka, setiap kata yang keluar dari mulut manusia bukan hanya sekadar komunikasi, tetapi manifestasi dari kebeningan atau kekeruhan batin. Oleh sebab itu, menjaga lisan adalah bagian dari jihad batin yang paling nyata di era digital dan media. 1. Lisan Sebagai Amanah Spiritual Menurut Gus Masrur, salah satu maqam dalam tasawuf modern adalah hikmah lisan, yaitu kemampuan berkata benar, tepat, dan bermanfaat dalam segala situasi. Ketika seseorang menggunakan lisan atau media untuk menyerang sosok lain yang pernah menjadi bagian dari lembaga kehormatan seperti militer atau agama, maka ia sedang mengguncang dua marwah sekaligus: marwah insani dan marwah institusi. Ini melanggar prinsip tasawuf modern yang menekankan bahwa “setiap kata adalah doa, dan setiap lisan adalah saksi ruhani.” 2. Kriti...

Manusia Iblis

Manusia Iblis: Analisis Sosial-Tasawuf atas Kekuasaan yang Dibajak Hawa Nafsu Penulis: Gus Masrur Al Malangi Abstrak: Fenomena kekerasan verbal yang menjurus pada demonisasi individu dalam ruang publik mencerminkan degradasi spiritual dalam masyarakat. Kajian ini menggunakan pendekatan tasawuf modern untuk membedah fenomena "iblis berwujud manusia" sebagai ekspresi dari nafsu ammarah yang membajak simbol-simbol perjuangan dan kekuasaan. Melalui pendekatan integratif antara ilmu tasawuf dan teori sosial-politik, artikel ini menawarkan refleksi mendalam dan solusi transformatif bagi krisis adab dan spiritualitas dalam kehidupan publik. Kata Kunci: Tasawuf modern, nafsu ammarah, kekuasaan, iblis sosial, adab publik, pertahanan spiritual. 1. Pendahuluan Dalam lanskap sosial-politik modern, bahasa kekerasan semakin dianggap biasa. Ucapan yang merendahkan dan menuduh seseorang sebagai "iblis berwujud manusia" bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi refleksi dari kris...

Telaah Teknologi Fireksik dan Etika Keilmuan

Makalah Ilmiah "Membaca Nur dalam Arsip Digital: Telaah Teknologi Fireksik dan Etika Keilmuan dalam Bingkai Tasawuf Modern" Penulis: Gus Masrur Al Malangi (Muhammad Udin Masrur) Pengasuh Thariqah Semar Jum’at Kliwon, Guru Besar Tasawuf dan Pertahanan Abstrak Perkembangan teknologi digital membawa implikasi luas dalam ranah verifikasi dokumen, termasuk dalam mendeteksi kemungkinan pemalsuan. Salah satu pendekatan mutakhir yang dikembangkan oleh Dr. Simon Sianipar, yaitu fireksik digital , menyodorkan cara kerja analitis berbasis forensik metadata untuk membongkar kejanggalan dokumen elektronik. Namun, ketika sains dan dokumen bersinggungan dengan kekuasaan, muncul kebutuhan untuk menghadirkan satu dimensi tambahan: etika keilmuan dan kebijaksanaan spiritual. Dalam makalah ini, penulis meninjau fireksik dari sisi ilmiah dan mencerminkannya dalam nilai-nilai tasawuf, sebagai jembatan antara teknologi dan kesadaran hakiki. Tasawuf modern menawarkan lensa yang jernih untuk m...

Darurat Premanisme Berkedok Ormas:

Darurat Premanisme Berkedok Ormas: Saat Nurani Bangsa Dibelokkan Kuasa Jalanan Oleh: Gus Masrur Al Malangi Di tengah hiruk-pikuk reformasi dan kebebasan berserikat, kita sedang menghadapi penyakit baru: premanisme berbaju ormas . Di satu sisi mereka mengaku memperjuangkan rakyat, di sisi lain memegang senjata, mengintimidasi warga, bahkan menantang aparat di ruang publik. Kejadian di Kemang hanyalah satu dari banyak potret kekacauan moral yang dibungkus legalitas organisasi . Preman sekarang tidak lagi memakai kaus oblong dan sandal jepit, tapi berseragam, membawa bendera, dan menyebut dirinya bagian dari perjuangan. Ini bukan lagi sekadar kriminalitas, ini sudah memasuki ranah pengkhianatan terhadap jiwa bangsa . Sebagaimana saya sering tekankan dalam majelis ruhani: “Ketika organisasi dijadikan topeng nafsu, maka jihad berubah jadi fitnah, dan perjuangan menjadi jual beli kuasa.” Tasawuf Modern dan Filter Ruhani Terhadap Ormas Dalam tasawuf modern, perjuangan sejati tidak bi...

Premanisme

Premanisme Bersenjata di Kemang: Krisis Keamanan dan Panggilan Ruhani Bangsa Oleh: Gus Masrur Al Malangi Tanggal 30 April 2025, langit Jakarta mendung bukan karena awan, tetapi oleh kabut kekerasan yang menyelimuti kawasan Kemang. Di sana, dua kelompok preman bersenjata laras panjang terlibat bentrokan terang-terangan di jalan umum. Ironis—karena semua terjadi tak jauh dari markas besar keamanan negeri ini. Yang lebih tragis, peristiwa itu menjadi cermin: bahwa keamanan ruang publik kita sedang koma. Sebagai pembina tasawuf modern dan pengamal pertahanan berbasis spiritual, saya tidak melihat ini sekadar sebagai urusan aparat. Ini adalah urusan hati, urusan ruhani, urusan umat yang kehilangan arah batin. Tasawuf Modern dan Krisis Keamanan Dalam tasawuf modern, kekerasan bukan hanya soal pelaku, tapi tentang lingkungan batin yang membesarkannya. Preman bukan tumbuh dari ruang kosong. Mereka lahir dari masyarakat yang retak, dari ruang-ruang publik yang kehilangan nilai sakral. Say...

Matra Keempat TNI

Matra Keempat TNI: Integrasi Siber, Spiritualitas, dan Pertahanan Nasional Berbasis Metafisika Pengantar Dalam lanskap ancaman global kontemporer, keamanan siber tidak dapat lagi dipahami semata sebagai isu teknologi—melainkan sebagai bagian dari sistem pertahanan multidimensi yang menyentuh aspek spiritual, mental, intelijen, dan supranatural. Gagasan pembentukan matra keempat TNI, yaitu Angkatan Siber, membuka peluang besar bagi Indonesia untuk merumuskan doktrin pertahanan yang bukan hanya berbasis digital, tetapi juga berbasis kesadaran ruhani dan penguatan daya tahan mental bangsa. Latar Konteks Strategis Sebagai praktisi pertahanan yang menekuni integrasi antara ilmu intelijen, spiritualitas Islam (tasawuf), bela diri, dan metafisika, saya memandang ancaman siber bukan sekadar peretasan sistem digital, tetapi juga sebagai infiltrasi terhadap "kesadaran kolektif" bangsa. Serangan siber dapat melemahkan psikologi publik, memutus jaringan sosial, hingga mengacaukan str...