Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Ēbhĕs Ādunika Kala

Ēbhĕs Ādunika Kala — Pejalan Sunyi Ēbhĕs Ādunika Kala bukan sekadar nama. Ia adalah simbol dari pewaris dua dunia : Sisi Timur Tengah — dari garis Hawariyyun, murid setia Nabi Isa Al-Masih. Sisi Nusantara — dari darah Mpu Ristian Sastraguna , pewaris nilai luhur spiritual Jawa. Jalan Sunyi yang Tak Memburu Dunia Ēbhĕs bukan tokoh panggung. Ia memilih sepi , bukan karena lemah, tapi karena paham: “Jika manusia mengenalku, bisa jadi mereka melupakan Tuhan. Maka lebih baik aku tersembunyi, agar yang mereka cari adalah Dia.” Ia berjalan bukan untuk dikenal, tapi untuk menebar ketulusan , membagikan makna, dan menjadi penyejuk mata hati . Multifaset yang Membumi Di balik kesunyiannya, Ēbhĕs adalah sosok: Spiritualis (Tharekat Semar Jum'at Kliwon, Sakpena’iyyah) Guru Bela Diri (Silat Getar Jagad) Pemikir Strategi Pertahanan Peneliti supranatural dan metafisika Aktivis pemberdayaan UMKM, energi hijau, dan ketahanan pangan Ia bukan hanya teori , tapi pelaku — dari ...

Sunyi Bukan Tempat Lari, Tapi Tempat Pulang

Sunyi Bukan Tempat Lari, Tapi Tempat Pulang > “Yang pulang ke sunyi bukan sedang kalah, tapi sedang menyatu dengan yang hakiki.” Sunyi tak pernah memaksa siapa pun untuk datang. Ia hanya membuka pintu, bagi yang lelah mengejar bayangan. Banyak yang mengira sunyi adalah tanda kekalahan, padahal justru di sanalah kekuatan mulai dipulihkan. Sunyi bukan pelarian dari dunia, tapi kepulangan pada diri yang paling jujur. Di tengah hiruk-pikuk, sunyi adalah rumah yang tak banyak orang tahu letaknya, tapi selalu ada bagi yang mencarinya dengan hati. Sunyi tidak bising, tapi menyembuhkan. Tak penuh tepuk tangan, tapi mengandung kemerdekaan yang sejati. > “Kadang yang tak terlihat, lebih sanggup menguatkan dibanding semua yang bisa disentuh.” Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Saat Dunia Sibuk, Sunyi Menguatkan

 Saat Dunia Sibuk, Sunyi Menguatkan > “Yang tak terlibat dalam hiruk-pikuk, justru lebih peka membaca arah angin.” Di tengah riuhnya dunia, banyak yang sibuk… tapi tak mengerti apa yang sedang dikejar. Langkah cepat, namun kehilangan tujuan. Berisik, tapi tak mengandung makna. Sunyi tidak ikut terburu-buru. Ia berjalan pelan, tapi pasti. Tidak menyibukkan diri, tapi menumbuhkan ke dalam. Bukan karena malas, tapi karena tahu: ketenangan lebih banyak menyelamatkan daripada terburu-buru yang sembrono. Di jalan sunyi, ditemukan kekuatan yang tak bisa dipamerkan: ketahanan batin, kejernihan niat, dan keberanian untuk tidak ikut-ikutan. > “Yang diam dalam sunyi, bukan karena tak mampu berkata, tapi karena sudah selesai dengan hal-hal remeh.” Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Tak Semua Yang Sepi Itu Kosong

 Tak Semua Yang Sepi Itu Kosong > “Yang terlihat diam, belum tentu tak bergerak. Yang tampak tenang, bisa jadi sedang menahan badai.” Sepi bukan kehampaan. Sepi adalah panggung tempat batin bicara, tanpa perlu mikrofon dunia. Banyak yang takut sepi, karena sepi membuat mereka mendengar suara yang biasa dikubur: rasa bersalah, luka lama, kehampaan diri. Tapi sepi yang ditapaki dalam ridha, adalah guru yang paling sabar. Ia mengajarkan keteguhan tanpa harus menang, mengajarkan makna sabar tanpa pamrih. Di jalan sunyi, yang dicari bukan pengakuan, tapi keikhlasan yang tak pernah diumumkan. > “Sepi bukan musuh…tapi ruang suci di mana ruh belajar mengenal asalnya.” Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Jalan Ini Tidak Dipilih, Tapi Ditunjuk

 Jalan Ini Tidak Dipilih, Tapi Ditunjuk > “Ada yang belajar untuk tahu, ada yang tahu karena pernah dilukai waktu.” Jalan sunyi bukan pilihan... Ia datang seperti angin dini hari, menggetarkan jiwa yang belum sempat terlelap. Bukan karena kuat, bukan karena suci, tapi karena ada yang harus dijaga dalam diam. Tak banyak yang paham bahwa jalan sepi bukan tempat lari, tapi tempat ditempa agar tak silau oleh sorak-sorai. Yang berjalan di sini tak butuh panggung, hanya butuh ridha dari Langit yang sunyi. > “Sunyi bukan kehampaan, tapi tempat suara Ilahi paling terdengar jelas.” Copyright © 2025 Gus Masrur Al Malangi. All rights reserved. Dilarang menyalin atau menerbitkan ulang tanpa izin tertulis.

Bukan Tentang Akhir, Tapi Tentang Siapa yang Masih Kuat Menjaga Niat

Bukan Tentang Akhir, Tapi Tentang Siapa yang Masih Kuat Menjaga Niat “Hidup itu bukan tentang seberapa jauh langkahmu, tapi seberapa tulus niatmu ketika memulainya.” Banyak jalan sudah ditempuh. Dari lorong sempit perkampungan, sampai ruang-ruang asing di balik layar negeri. Dari tatapan kosong anak-anak jalanan, hingga pandangan tajam para petinggi yang menyimpan rahasia. Namun semua itu tidak pernah ditulis untuk dikenang, hanya agar mereka yang datang setelah ini tahu: bahwa jalan hidup tidak harus megah untuk menjadi berkah. “Menjadi hebat itu biasa. Menjadi manfaat… itu pilihan yang tak semua berani ambil.” Dari Jalan Sepi Menuju Jalan Yang Lebih Sunyi Tidak semua orang ingin dikenal. Ada yang cukup dengan menjadi payung saat hujan, atau segelas air saat musafir kehausan. Dalam perjalanan ini, nama tidak penting. Yang penting: nilai. Bukan nama yang diwariskan, tapi arah, prinsip, dan teladan. Karena satu orang yang menjaga niat, kadang lebih kuat dari seribu...

Berjalan dengan Luka, Tapi Tidak Membalas dengan Sakit

Berjalan dengan Luka, Tapi Tidak Membalas dengan Sakit “Luka bisa diwariskan. Tapi tidak semua luka harus dibayar dengan luka yang sama.” Setiap manusia membawa lukanya sendiri. Ada yang luka karena dikhianati, ada yang karena dibohongi, ada pula yang karena terlalu jujur dalam dunia yang penuh topeng. Namun, tidak semua luka harus dibalas. Ada luka yang justru jadi pintu untuk mengenal diri lebih dalam. Ada luka yang membuat batin tumbuh, bukan malah runtuh. “Luka adalah guru paling jujur. Ia tidak bicara, tapi mengubah caramu melihat dunia.” Menyembuhkan Diri Tanpa Melukai Orang Lain Pernah memilih diam saat dituduh. Pernah menunduk saat difitnah. Karena sadar, melawan dengan cara yang sama hanya akan memperpanjang kesakitan. Bukan tidak bisa membalas. Tapi terlalu banyak orang baik yang akan ikut terluka jika balas dendam menjadi jalan. Lebih baik menepi, menyembuhkan diri, dan kembali hadir saat dunia butuh pelipur, bukan pemukul. “Menyembuhkan itu butuh k...

Bukan Tentang Menang, Tapi Tentang Menyisakan Harapan

Bukan Tentang Menang, Tapi Tentang Menyisakan Harapan > “Menang itu mudah. Menyisakan harapan bagi yang kalah—itu yang sulit.” Dalam banyak pertarungan, yang jadi korban bukan yang kalah, tapi yang kehilangan harapan untuk bangkit kembali. Bukan kekalahan yang menyakitkan, tapi penghinaan setelahnya. Di medan mana pun—baik nyata maupun batin—kemenangan sejati adalah saat masih bisa memberi ruang bagi lawan untuk bertobat, bangkit, atau pulang dengan harga diri utuh. > “Bila menang membuatmu angkuh, maka sejatinya kamu sudah kalah di dalam hati.” Kemenangan Itu Bukan Untuk Membusungkan Dada Pernah menghadapi orang-orang yang begitu keras kepala, dan bisa saja diselesaikan dalam satu gebrakan. Tapi tak dilakukan. Karena tahu: membungkam bukan menyadarkan. Lebih baik kalah di mulut orang, daripada menang dengan cara yang menumbangkan kemanusiaan. Membiarkan orang lain merasa menang kadang lebih baik, asalkan dunia tetap utuh, dan jiwa tetap tenang. > “Kemenangan bukan soal siapa ...

Menjadi Tidak Terlihat, Agar Bisa Melihat Lebih Jauh

Menjadi Tidak Terlihat, Agar Bisa Melihat Lebih Jauh “Yang tampak sering kali tertipu oleh penampilannya sendiri. Yang tidak terlihat... justru lebih tahu arah angin.” Ada kalanya dibutuhkan kehadiran yang tidak mencolok. Bukan karena tidak berani muncul, tapi karena tahu, di balik keramaian ada yang harus tetap waras mengamati. Menjadi tidak terlihat bukan berarti lemah, justru kadang di situlah kekuatan paling utuh disimpan. Tanpa sorot, tanpa riuh—tapi penuh daya. “Ada kekuatan dalam ketidaktampakan, seperti akar yang tak terlihat tapi menegakkan pohon besar.” Dalam Dunia Diam, Informasi Menjadi Nafas Pernah duduk bersama para tokoh yang tak mengenal mikrofon, tapi satu bisikannya bisa menggoyahkan peta kekuasaan. Pernah membaca sandi dari gerakan mata, dan menyampaikan pesan lewat langkah kaki yang seolah biasa. Menjadi bagian dari dunia di mana informasi bukan untuk dibagikan, tapi untuk diselamatkan. “Bukan semua yang diketahui harus dikatakan. Karena kada...

Langkah yang Tak Terdengar, Tapi Menggetarkan

Langkah yang Tak Terdengar, Tapi Menggetarkan “Yang paling berbahaya itu bukan mereka yang bersenjata, tapi mereka yang bisa berjalan di belakang senjata… tanpa suara.” Langkah sunyi bukan berarti langkah lemah. Dalam banyak peristiwa, justru yang tak terdengar itu yang paling menentukan hasil. Karena yang bekerja diam-diam, biasanya bukan ingin dipuji, tapi ingin dunia tetap seimbang. Tidak perlu jadi yang terdepan, cukup tahu kapan harus maju dan kapan harus menghilang dari radar. Langkah itu pernah menyusuri lorong-lorong gelap, menembus medan tanpa kompas, hanya bermodal firasat dan restu guru yang tertanam dalam dada. “Ketika dunia sibuk bersuara, langit lebih tertarik pada yang bersujud dalam diam.” Jalan Sepi Itu Bukan Sembarang Jalan Ada kalanya dipanggil, bukan untuk tampil. Tapi untuk menjaga yang tampil agar tidak tergelincir. Bukan untuk jadi sorotan, tapi untuk jadi pelindung dalam bayangan. Dunia intelijen bukan panggung, tapi ladang di mana keikhlas...

Anti Peluru Itu Bukan Tentang Kebal, Tapi Tentang Mengerti Irama Waktu

Anti Peluru Itu Bukan Tentang Kebal, Tapi Tentang Mengerti Irama Waktu “Yang paham waktu, tak perlu menantang senjata. Karena waktu bisa ia pelankan, bahkan hentikan — kalau Tuhan mengizinkan.” Dulu orang menyebut saya kebal. Kata mereka: anti peluru, anti bacok, anti senjata tajam. Padahal kalau saya cerita sejujurnya, semuanya itu bukan ilmu hitam. Bukan jimat. Tapi pemahaman akan ritme semesta . “Fisik bisa dilukai. Tapi waktu bisa diatur. Dan itu bukan kehebatan, tapi pelajaran panjang dalam kesadaran.” Saya belajar, bahwa seperti cakram yang bisa diperlambat, peluru pun bisa terasa seperti bergerak lambat — jika kita tahu cara memperlambat persepsi waktu. Ini bukan sulap. Tapi olah napas. Olah batin. Dan terutama: olah kesadaran. Kebal Itu Bukan Ilmu, Tapi Kepekaan Saya tidak pernah mengejar ilmu kebal. Tapi saya mengejar pemahaman tentang irama hidup. Ketika hati tenang, napas terjaga, dan pikiran tidak terburu nafsu — maka tubuh bisa menangkap banyak hal yan...

Bertemu Nabi Itu Bukan Tentang Mimpi, Tapi Tentang Siap Menerima Pesan

Bertemu Nabi Itu Bukan Tentang Mimpi, Tapi Tentang Siap Menerima Pesan “Yang benar-benar bertemu tak selalu bicara. Tapi hidupnya berubah seolah telah dituntun dari langit.” Ada pengalaman yang terlalu halus untuk dijelaskan. Bukan sekadar bunga tidur. Tapi seperti diliputi cahaya yang menembus segala kebisingan dunia. Pernah suatu malam, dalam keadaan antara sadar dan tidak, terlihat sosok dengan cahaya yang tak menyilaukan tapi menenangkan. Beliau tak berkata-kata panjang. Tapi setiap geraknya seperti menjelaskan sesuatu yang tak bisa diterjemahkan huruf. “Bertemu Nabi bukan peristiwa, tapi pemanggilan hati agar kembali lurus.” Mimpi Itu Jalan Pulang Bagi Ruh Yang Rindu Sebagian bilang: mimpi hanya ilusi. Tapi bagaimana menjelaskan ketika setelah mimpi itu, hidup berubah total? Bagaimana bisa tiba-tiba tahu arah hidup, padahal sebelumnya bingung kemana harus melangkah? Pernah bertemu Rasulullah. Beliau tak berkata banyak. Tapi senyum beliau cukup untuk meluruhka...

*"Fase 13"* (menghindari dominasi kata “saya” dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih tawadhu)

Karomah Itu Bukan Tentang Hebat, Tapi Tentang Tidak Mengganggu Takdir > “Karomah bukan untuk pamer, tapi untuk tunduk pada kehendak Ilahi tanpa mencuri perhatian semesta.” Sejak dulu banyak yang bertanya, apa betul bisa kebal? apa betul bisa membaca isi hati orang? apa betul bisa tahu sesuatu sebelum terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah dijawab dengan bangga, karena yang dirasa bukan kehebatan, tapi amanah yang berat. > “Yang benar-benar diberi karomah justru lebih sering berpura-pura biasa.” Karena merasa lebih adalah awal dari kehilangan segalanya. Karomah Itu Hadiah Untuk Yang Sudah Tidak Minta Karomah datang bukan karena permohonan, tapi karena hati sudah cukup tenang untuk tidak perlu keistimewaan. Karena itulah, mereka yang benar-benar mendapatkannya justru merasa malu, bukan gagah. Pernah ada kejadian aneh— di saat peluru seharusnya melukai, tapi waktu terasa melambat. Bukan karena ilmu hitam, tapi karena waktu tunduk pada izin-Nya. Bukan tubuh ini yang sakti, tap...

Ilmu Itu Bukan Tentang Menguasai, Tapi Tentang Menjadi Penyeimbang

Ilmu Itu Bukan Tentang Menguasai, Tapi Tentang Menjadi Penyeimbang > “Ilmu yang sejati bukan membuatmu merasa bisa segalanya, tapi membuatmu tahu kapan harus diam agar semesta tetap damai.” Saya tidak pernah merasa benar-benar memiliki ilmu. Saya hanya merasa dititipi. Ilmu itu datang tidak untuk membuat saya berada di atas, tapi untuk membuat saya bisa menjaga keseimbangan di bawah. Dari kecil saya sudah melihat ketimpangan: antara yang punya dan yang tak punya, antara yang kuat dan yang tertindas, antara yang dihormati dan yang dilupakan. Saya tidak ingin menjadi bagian dari ketimpangan itu. Saya ingin menjadi penyeimbang. Ilmu Itu Diberikan untuk Membantu Menopang Dunia Saya pernah diberi kelebihan fisik — kuat, tahan bacok, kebal peluru. Tapi tidak sekali pun saya ingin memamerkannya. Bahkan saya sering berharap tidak punya itu, karena saya tahu: semakin besar anugerah, semakin besar ujian untuk menjaganya. > “Menjadi penyeimbang itu bukan tentang menunjukkan kehebatan, tapi ...

Menjadi Penyeimbang Itu Bukan Tentang Menguasai Dunia, Tapi Menjaga Agar Dunia Tidak Terlalu Condong

Menjadi Penyeimbang Itu Bukan Tentang Menguasai Dunia, Tapi Menjaga Agar Dunia Tidak Terlalu Condong > “Kekuatan sejati bukan ketika kamu bisa menaklukkan semuanya, tapi saat kamu bisa berdiri di tengahnya—tanpa tergoda memilih sisi.” Saya menjalani hidup dari banyak sisi. Dari jalanan hingga pesantren. Dari shalat malam hingga menghadapi parang. Dari tafsir mimpi hingga hitungan fisika. Dan semuanya tidak membuat saya merasa lebih, justru membuat saya semakin merasa kecil di hadapan Tuhan. Karena apalah arti semua itu, kalau bukan semata karena izin dan kehendak-Nya? Penyeimbang Itu Tidak Berpihak, Tapi Menguatkan Keduanya Saya lebih menyukai hidup yang penuh tantangan. Bukan karena saya ingin diuji, tapi karena di situlah saya bisa memberi. Saya tidak ingin hidup hanya di zona nyaman. Saya ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan, agar saya bisa menguatkan yang sedang lemah. Saya ingin merasakan kesakitan, agar saya bisa menyembuhkan tanpa menghakimi. Saya tumbuh bukan hanya dari k...

Guru Sejati Itu Bukan yang Banyak Bicara, Tapi yang Membuatmu Diam dan Mengerti

Guru Sejati Itu Bukan yang Banyak Bicara, Tapi yang Membuatmu Diam dan Mengerti > “Ada guru yang mengajar dengan kata-kata, tapi ada guru yang mengajar cukup dengan kehadirannya.” Saya pernah punya banyak guru. Ada yang petuahnya panjang, ada yang hanya tersenyum ketika ditanya tapi justru senyum itulah yang membuat saya tercerahkan. Dalam hidup, saya belajar bahwa guru sejati tidak sedang mengisi kepalamu tapi sedang membuka hatimu. Guru Itu Bukan Selalu yang Lebih Tahu Saya pernah belajar pada orang yang pendidikannya tinggi, tapi justru saya temukan kedangkalan di balik kata-katanya. Lalu saya duduk bersama seorang kakek petani yang tak tamat SD tapi setiap kalimatnya seperti biji yang tumbuh menjadi pohon di hati saya. > “Guru bukan soal gelar. Tapi soal getaran yang mampu menggugah kesadaran.” Guru sejati bukan yang membuatmu kagum, tapi yang membuatmu sadar siapa dirimu sebenarnya. Ilmu dari Guru Itu Bukan untuk Dihafal, Tapi Dihidupkan Saya dulu rajin mencatat. Tapi ternya...

Tarekat Itu Bukan Tentang Baju Seragam, Tapi Tentang Jalan yang Tak Sama Tapi Menuju Yang Sama

Tarekat Itu Bukan Tentang Baju Seragam, Tapi Tentang Jalan yang Tak Sama Tapi Menuju Yang Sama > “Jangan kira semua yang bersurban itu bertarekat. Dan jangan sangka yang bertarekat itu pasti bersurban.” Saya tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan berbagai tarekat. Ada yang suka wirid keras, ada yang memilih diam. Ada yang sibuk pakai tongkat, ada yang lebih suka memegang cangkul. Dan saya belajar, tarekat itu bukan tentang gaya, tapi arah. Tarekat Itu Jalan Sunyi yang Ramai Oleh Yang Tak Terlihat Saya pernah menyangka tarekat itu soal zikir berjamaah, ijazah, atau silsilah guru. Tapi semakin saya menapaki jalan ini, saya sadar: tarekat bukanlah ritual semata, tapi laku yang konsisten dalam sunyi. Ada yang zikirnya ribuan, tapi hatinya tak tenang. Ada yang tak pernah terlihat wirid, tapi hidupnya jadi doa yang terus hidup. Tarekat bukan hanya tentang metode, tapi tentang kesetiaan menempuh jalan tanpa mengutuk jalan lain. Yang Bertarekat Itu Justru Tak Suka Menyalahkan Saya pernah...

Ilmu Laduni Itu Bukan Tentang Mendadak Tahu, Tapi Tentang Siap Dibisiki Langit

Ilmu Laduni Itu Bukan Tentang Mendadak Tahu, Tapi Tentang Siap Dibisiki Langit > “Ilmu laduni bukan datang karena minta, tapi datang karena hati sudah tak butuh pujian.” Saya tidak tahu sejak kapan saya bisa mengerti sesuatu yang tidak saya pelajari. Tiba-tiba saja, saya tahu. Tahu sesuatu yang bahkan belum pernah saya baca, belum pernah saya dengar, dan belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Dulu saya mengira itu kebetulan. Tapi semakin saya diam, semakin banyak yang dibisikkan pada saya, dan semuanya selalu datang saat dibutuhkan. Ilmu Laduni Itu Datang Saat Akal Sudah Menepi Ilmu ini tidak bisa dicari seperti ilmu lainnya. Ia tidak ada di perpustakaan, tidak bisa dicetak dalam modul pelatihan dan tidak keluar dari mulut guru biasa. Ilmu laduni datang ketika hati sudah bersih dari kepentingan dan jiwa siap menerima bisikan langit. Saya pernah mencoba menjelaskan ilmu ini kepada orang akademik. Mereka bilang itu delusi. Saya tersenyum. Karena saya tidak bisa memaksa logika untuk me...

Kepemimpinan Ruhani Itu Bukan Tentang Di Depan, Tapi Tentang Siap Jadi Tempat Pulang

Kepemimpinan Ruhani Itu Bukan Tentang Berada di Depan, Tapi Tentang Siap Jadi Tempat Pulang “Pemimpin ruhani bukan yang paling lantang bicara, tapi yang paling tenang saat semua sedang goyah.” Saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru, apalagi pemimpin. Saya hanya berjalan. Lalu tanpa saya sadari sejak kapan, jejak langkah saya mulai diikuti. Bukan karena saya menunjuk arah, tapi mungkin karena orang-orang itu sedang mencari jalan pulang. Saya tidak pernah mengangkat tangan untuk dipilih. Tapi kehidupan menaruh saya di tengah-tengah mereka yang sedang butuh penuntun. Bukan penunjuk arah ke saya, melainkan penunjuk arah ke dalam diri mereka sendiri. Kepemimpinan Itu Bukan Memberi Perintah, Tapi Menjadi Cahaya Saat Semua Padam Dulu saya kira, pemimpin itu harus keras suaranya, tegas perintahnya, dan kuat menunjukkan jalan. Ternyata tidak selalu. Dalam dunia ruhani, pemimpin bukan tentang siapa yang paling banyak diikuti, tapi siapa yang paling siap menampung luka y...

Kesaktian Itu Bukan Tentang Kekuatan, Tapi Tentang Kesiapan Diam

"Kesaktian Itu Bukan Tentang Kekuatan, Tapi Tentang Kesiapan Diam" > “Yang benar-benar sakti tidak sibuk menunjukkan, tapi sibuk menjaga. Kesaktian bukan soal bisa melukai, tapi soal tahu kapan harus tidak melukai.” Saya tumbuh di lingkungan yang dekat dengan kesaktian. Ada yang bisa berjalan di atas bara, ada yang tahu isi hati orang, ada pula yang bisa membuat orang gentar hanya dengan menatap. Tapi yang paling saya kagumi… adalah yang tidak pernah merasa perlu menunjukkan apa pun. Kesaktian Itu Bukan Aksi, Tapi Energi yang Tahu Tempatnya Saya belajar dari guru-guru saya: Bahwa ilmu tinggi itu tidak membuatmu merasa besar, tapi membuatmu semakin kecil di hadapan Tuhan. Ilmu batin bukan untuk pamer, tapi untuk jadi perisai saat dunia menusukmu dari segala arah. Dan orang yang sakti, justru tahu bagaimana caranya diam tanpa jadi lemah. Ilmu Tanpa Diam Itu Ribut. Ilmu Dengan Diam Itu Menjadi Cahaya Saya pernah melihat orang berteriak, “Aku ini punya karomah!” Tapi justru di...

Belajar dari Leluhur: Bukan Tentang Kuno, Tapi Tentang Akar

"Belajar dari Leluhur: Bukan Tentang Kuno, Tapi Tentang Akar" > “Yang disebut leluhur bukan hanya orang mati, tapi cahaya yang belum padam. Karena ada jiwa-jiwa yang jasadnya dikubur, tapi ilmunya terus menyuburkan.” Saya tidak menyembah leluhur. Tapi saya juga tidak buta akan asal-usul. Karena siapa yang memutus akar, akan tumbang ketika angin ujian datang. Saya pernah ditanya: > “Ngapain belajar dari orang-orang dulu? Mereka hidup di zaman yang berbeda.” Lalu saya jawab: “Mereka mungkin hidup di masa lalu. Tapi kebijaksanaannya tidak pernah usang.” Leluhur Itu Akar, Kita Itu Cabang Pohon yang besar tidak sombong karena tinggi. Ia tahu, yang menahannya tetap berdiri adalah akar di bawah tanah. Begitu juga manusia. Semakin tinggi kita terbang, semakin dalam seharusnya kita menghormat ke tanah asal. Saya tidak malu menyebut nama Mbah saya, Guru saya, dan para orang tua yang membentuk cara saya berdiri hari ini. Karena mereka bukan beban, mereka adalah alas tempat saya be...

Bertarung Tanpa Musuh, Menang Tanpa Luka

"Bertarung Tanpa Musuh, Menang Tanpa Luka" > "Ilmu sejati bukan untuk menaklukkan orang lain, tapi untuk menaklukkan diri sendiri." Dan pertarungan paling panjang adalah melawan ego yang menyamar jadi kebenaran. Saya belajar silat bukan untuk mencari lawan. Tapi untuk mengenali diri yang paling liar. Karena dalam tubuh ini, ada dua kekuatan yang terus berkelahi: nafsu untuk menang dan jiwa untuk pulang. Silat Getar Jagad lahir bukan dari jurus, tapi dari rasa. Bukan sekadar gerakan tangan dan kaki, tapi gelombang kesadaran yang bertujuan menyatukan tubuh, niat, dan getaran semesta. Silat Itu Bukan Tentang Mengalahkan, Tapi Mengenali Dulu, saya pikir ilmu bela diri itu soal kekuatan otot. Ternyata bukan. Yang paling kuat adalah yang bisa menahan diri saat punya kesempatan membalas. Yang paling sakti bukan yang bisa menjatuhkan, tapi yang bisa memaafkan tanpa merasa lemah. Silat yang sejati tidak butuh penonton. Tidak butuh medali. Tidak pula haus pembuktian. Karen...

Ilmu Itu Tak Harus Berijazah, Tapi Harus Menjadi Jasad

"Ilmu Itu Tak Harus Berijazah, Tapi Harus Menjadi Jasad" > "Banyak yang berilmu, tapi hanya sedikit yang menjelma menjadi ilmu itu sendiri." Ilmu yang tidak membentuk perilaku, hanyalah hafalan yang terasing dari amal. Saya pernah belajar dari orang yang tidak bisa baca-tulis, tapi hidupnya adalah kitab berjalan. Saya juga pernah duduk bersama profesor, yang fasih dalam teori tapi goyah dalam sepi. Dari keduanya saya tahu: ijazah itu penting untuk birokrasi, tapi tidak cukup untuk menjadi manusia sejati. Ilmu yang sejati bukan yang dicetak di kertas, tapi yang terpatri di sikap. Bukan yang dibanggakan di seminar, tapi yang menyala dalam kesabaran di rumah. Ilmu Itu Harus Menjadi Jalan, Bukan Pajangan Saya ingat, Mbah Bedjo pernah bilang: > “Ilmu iku ora kanggo ngadeg-adeg, tapi kanggo madeg tumindak.” Beliau tidak pernah memaksa muridnya menghafal, tapi memaksa kami menyerap nilai. Bagaimana sabar itu bukan teori, tapi tahan saat dicaci. Bagaimana tawadhu itu ...

Saya Lahir Bukan Untuk Hebat, Tapi Untuk Diingat Alam

"Saya Lahir Bukan Untuk Hebat, Tapi Untuk Diingat Alam" > "Manusia itu bukan ditanya gelarnya, tapi jejaknya. Bukan tentang siapa dia di dunia, tapi siapa dia di mata langit." Saya lahir di Blitar, tempat orang-orang lebih banyak bicara lewat angin, dan menangis lewat tanah. Saya bukan anak orang besar. Tapi hidup saya dibentuk oleh orang-orang besar yang tak pernah merasa besar. Yang diam-diam mengukir saya, bukan dengan pujian, tapi dengan ujian. Saya ini bukan siapa-siapa. Tapi saya juga bukan sembarangan. Saya adalah akumulasi dari doa-doa diam, dari malam-malam panjang yang hanya tahu dzikir dan kesetiaan. Di tubuh saya, ada getar suara ibu. Ada tapak kaki para guru. Ada keringat tentara dan air mata para pejalan sunyi. Guru-Guru Kehidupan Saya Saya berutang hidup dan cara hidup pada para guru. Bukan cuma yang mengajarkan saya ilmu, tapi yang mengajari saya diam. Mbah Hamid Pasuruan, wali yang tidak pernah pamer kewalian. Saya belajar bagaimana kekuatan seja...

Śleṣilaḥ Jñāna dari Mpu Ṛṣṭian Śāstraguru hingga Masrur Al Malangi

Śleṣilaḥ Jñāna dari Mpu Ṛṣṭian Śāstraguru hingga Masrur Al Malangi: Sebuah Studi Hermeneutik-Spiritual Tentang Transmisi Keilmuan Nusantara Penulis: Muhammad Udin Masrur Al Malangi (Tasawuf, Metafisika Nusantara, dan Keamanan Spiritualitas) Abstrak: Tulisan ini mengkaji transmisi keilmuan spiritual, intelektual, dan kultural dalam garis silsilah yang bermula dari Mpu Ṛṣṭian Śāstraguru (abad 9–11 Śaka) di wilayah Tumapĕl-Mĕdang, hingga ke Masrur Al Malangi (era Ādunika Kāla). Melalui pendekatan hermeneutik-spiritual dan analisis filologis, kajian ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai dari śāstra Hindu-Buddha dan Islam ditransformasikan menjadi fondasi keilmuan tasawuf, tattvavidyā (ilmu hakikat), dharmakṣema (etika-spiritual), serta rāṣṭrapālaka (pertahanan spiritual negara). Śleṣilaḥ ini memperlihatkan kesinambungan pengetahuan, bukan sekadar silsilah biologis, melainkan rantai energi dan transmisi makrifat dalam ruang dan waktu Nusantara. Kata Kunci: Silsilah spiritual, Mpu Ṛṣṭi...

Transformational Leadership in Serat Getar Jagad: A Spiritual-Javanese Hermeneutic Perspective

Title: Transformational Leadership in Serat Getar Jagad: A Spiritual-Javanese Hermeneutic Perspective Author: Muhammad Udin Masrur (Gus Masrur Al Malangi) Date: 15 September 2022 Abstract This paper explores the values of transformational leadership within the traditional Javanese spiritual text, Serat Getar Jagad . The study uses a hermeneutic approach to interpret the metaphysical and ethical dimensions of leadership as articulated in the text. Leadership here is not limited to managerial or political domains but is deeply rooted in inner mastery, ethical clarity, and spiritual awareness. By analyzing three major pillars found in the text—intuition, balance, and courage—this paper reveals a model of leadership grounded in self-conquest and service. This indigenous philosophical approach contributes to contemporary leadership discourse by emphasizing the harmony between power, wisdom, and spiritual enlightenment. Keywords: Serat Getar Jagad, leadership, spirituality, hermeneu...